Ceklek…
Pintu terbuka, Angkasa masuk ke ruang rawat Lyrae. Saat melihat Lyrae sedang makan, Angkasa tersenyum penuh rasa syukur. Langkahnya cepat menuju Lyrae, kecupan lembut mendarat di kening Lyrae.
“Kamu makan apa?” tanya Angkasa yang terlihat canggung.
“Makan makanan orang sakit” keluh Lyrae sambil cemberut.
Angkasa terlihat celingak-celinguk, seakan mencari sesuatu.
“Papa cari apa?” tanya Lyrae.
“Itu anak ke mana?” tanya Angkasa.
“Anak siapa?” Tanya Lyrae pura-pura tidak tahu.
“Orion.” Jawab Angkasa. “Dia selalu nungguin kamu lho selama kamu koma” ucap Angkasa. “Bahkan dia juga yang mandiin kamu” tambah Agkasa.
Seketika mata Lyrae terbelalak, secara refleks kedua tangannya menyilang menutupi dadanya, “mandiin aku?!” tanya Lyrae memastikan dengan penuh perasan panik.
Melihat kepanikan Lyrae, “Bukan—bukan mandiin gitu maksudnya” Angkasa mencoba menjelaskan, “Dia ngelapin tangan dan wajah kamu pakai handuk basah. Pokoknya dia yang ngerawatin kamu deh” Ucap Angkasa.
Mendengar penjelasan tersebut Lyrae menghelah napas lega.
“Papa sih Oke, kalau kamu suka sama dia. Toh papa juga kenal baik sama kedua orang tuanya” ucap Angkasa, sambil melirik Lyrae.
“Aku mau soto mie, Pah.” Pinta Lyrae, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Oke, papa beliin” ucap Angkasa sambil bergegas keluar ruang rawat. Tapi, baru beberapa langkah Angkasa berjalan menuju pintu untuk keluar, “Pa..” panggil Lyrae.
Langkah Angkasa terhenti, menunggu apa yang ingin diucapkan Lyrae.
“Aku juga mau butter fruit cake di café langganan kita” tambah Lyrae, “Itu butter fruit cake yang paling mirip sama buatan mama” tambah Lyrae, seakan mengabarkan kepada Papanya bahwa seluruh ingatannya telah kembali dan dirinya baik-baik saja.