Bagaimana Jika Aku Rindu?

Aghnia
Chapter #21

#Chapter 21: Setoples kenangan

Orion sibuk memasukkan satu per satu pakaiannya ke dalam koper. Pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan Lyrae, “sekarang dia pasti baik-baik saja” Upaya untuk menenangkan dirinya sendiri. Tidak tahan dengan rasa rindu yang menggelayuti hatinya, Orion memukul-mukul pelan dadanya, berharap rindu terhempas pergi dari hatinya.

Tok... tok… tok…

Suara ketukan pintu terdengar, tanpa menunggu jawaban dari si empunya kamar, pintu terbuka, Angkasa dan Vega masuk ke dalam kamar Orion.

“Kamu udah siap?” tanya Vega.

Orion menganggukkan kepalanya.

“Kita berangkat sekarang ya” ucap Galaksi.

“Ini masih jam 4 sore Pa, penerbangan aku jam 9 malem.” Ucap Orion sambil melihat jam tangannya.

“Iya, Raga minta kamu ke rumah sakit dulu karena ada yang mau dibicarakan.” Ucap Galaksi. Papa sama mama tunggu di mobil ya, kamu cepetan siap-siapnya.” Selesai mengatakan hal tersebut Galaksi dan Vega segera keluar dari kamar Orion.

Dengan langkah lesu, Orion mulai menyeret kopernya keluar dari kamar.

 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Di rumah sakit…

Galaksi dan Vega menghentikan langkahnya, “Kamu langsung ke ruangan Raga aja, papa sama mama mau jengung Lyrae.” ucap Galaksi.

“Iya, mama kan belum lihat Lyrae pasca dia siuman” ucap Vega.

Orion termenung mendengar nama seorang wanita yang sangat ia rindukan, terucap di hadapannya.

“Kamu yakin gak mau pamitan sama Lyrae?” tanya Galaksi memastikan.

“Enggak.” Ucap Orion dingin, “Aku langsung ke ruangan dokter Raga ya, Pah” ucap Orion yang langsung berlalu meninggalkan kedua orang tuanya.

Langkah Orion terasa sangat berat, sesampainya ia di depan ruangan Raga, Orion mengetuk pintu. Tidak mendapat jawaban, Orion membuka perlahan pintu dihadapannya itu.

Tatapan mata Orion seketika terbelalak, ketika mendapati Lyrae duduk di kursi Raga.

Orion nampak canggung, ia tidak berani menatap mata Lyrae.

Dengan seluruh keberaniannya, ia masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.

Kini hening merajai keadaan sesaat sebelum Lyrae mengeluarkan sebuah toples berisi bangau kertas dan menaruhnya di atas meja. Orion memperhatikan dengan tatapan bingung.

“Katanya kalau membuat seribu bangau kertas, permohonan kita akan terkabul.” Suara Lyrae memecah keheningan yang sedari tadi mendominasi seisi ruangan. “Tapi seribu bangau kertas kebanyakan. Kan, mubazir kalau buang-buag kertas sebanyak itu. Coba bayangin berapa banyak pohon yang harus ditebang untuk memenuhi kebutuhan kertas dimuka bumi ini” Celoteh Lyrae tidak masuk akal.

“Sebenarnya, lo mau ngomong apa?” tanya Orion, dengan ekspresi datar. Jauh dilubuk hati Orion, sekuat tenaga ia berusaha menahan senyum saat ia dapati keberadaan Lyrae yang dahulu kini telah kembali seutuhnya.

Lyrae terdiam dan menarik napas panjang, “Saat tahu lo melanjutkan pengobatan di Singapore, tanpa pamitan sama gue… gue bener-bener ngerasa sedih saat itu.” Penjelasan Lyrae membuat hati Orion terasa hangat, karena saat itu… bahkan dikesalahpahaman yang terjadi kala itu… mereka berdua memiliki perasaan yang sama.

“tapi kesedihan gue, gak lebih besar dari harapan gue untuk lo kembali dengan pulih… Jadi, setiap hari gue membuat satu bangau kertas selama lo di Singapore. Katanya, burung bangau melambangkan harapan. Maka dari itu, gue menulis setiap harapan gue dikertas sebelum membentuknya menjadi burung bangau.” Ucap Lyrae dengan wajah sedih mengingat kejadian kala itu.

“Lo inget kejadian di kolam renang, tepat sebelum lo mendorong gue ke kolam renang?” tanya Lyrae, yang seketika membuat Orion tertunduk penuh penyesalan.

“Saat itu, gue mau memperlihatkan ini ke lo.” Ucapan Lyrae mutlak menjelma tamparan kencang bagi Orion. “Supaya lo tahu, tidak ada sehari pun yang gue lalui tanpa memikirkan keadaan lo saat itu. Sambil diam-diam berharap, lo akan merasa sedikit bahagia dengan apa yang gue buat untuk lo” ucap Lyrae sambil tersenyum sedih karena kenyataannya saat itu bahkan Orion menganggap dirinya seperti sesuatu yang menjijikan.

Lihat selengkapnya