“Kalau aku mati, kamu pasti cari istri baru ya?”
Pertanyaan itu mengejutkanku, hingga membuatku menoleh padanya. Kutatap wajahnya dari samping. Matanya sedang menatap langit malam dengan bibirnya menyungging senyum. Saat itu kami sedang berbaring terlentang di halaman rumput tebal di belakang rumah yang beratapkan langit terbuka.
Musim panas yang panjang dengan kemarau apinya membuat kami senang menghabiskan malam di belakang sini. Angin yang berhembus sejuk dengan bintang-bintang yang bermunculan serta bulan yang menggantung, menjadi ornamen pelengkap tempat favorit kami ini untuk bercengkerama. Sepetak rumput sintetis tebal yang bisa digulung bila hujan tiba menjadi alas kami untuk berleha dan membaringkan badan menikmati kebersamaan.
“Kok kamu gitu ngomongnya?” aku balik tanya.
Kepalanya menoleh padaku. Separuh wajahnya terpapar cahaya bulan, memunculkan siluet bayang wajahnya yang oval. Matanya yang bulat menatapku. Hidungnya yang bangir dengan bibirnya yang tipis berwarna merah alami tersenyum. Cantik, masih cantik, sama seperti saat kami bertemu dulu. “Ga apa-apa, cuma nanya aja, ga tahu kenapa pengen nanya gitu,” jawabnya, “jadiii jawaban Papah apa?”
Aku melenguh sebal, malas untuk menjawabnya lalu memutar kepala kembali menatap langit dan menggunakan kedua tanganku sebagai bantal. Terdengar tawanya yang keras senang karena telah membuatku sebal. Malam kali ini di langit tampak begitu sepi, tidak ada gemerlap dan gemerlip di sana, hanya ada hitam dan bulan saja.
“Lagi nyari apa Pah?” tanyanya melihat mataku yang sedang mencari-cari.
“Aku sedang mencari bintang Mah, kok malam ini ga muncul ya?”
Ia ikut mencari-cari juga sembari menjawab, “Hmm, sepertinya bintang-bintang itu tersesat, dan ga tahu jalan pulang, jadi mereka tak muncul di langit kita malam ini.” Jawabannya membuat hatiku berdesir.
“Ya ‘kan kalau tersesat bisa nanya, bintangnya malu bertanya sih, jadi sesat di langit deh,” ceplosku. Mendengar ceplosanku itu membuatnya tertawa. “Papah bisa aja … trus, jadi apa jawabannya sama pertanyaan awalku tadi? Kamu belum menjawabnya ih,” coleknya.
Aku segera pura-pura tidur saja dan mendengkur lalu terdengar suara tawanya lagi.
***
Gili Ahmada memperhatikan sebuah cincin di atas telapak tangannya yang bergetar. Cahaya lampu yang jatuh di atasnya membuat cincin itu berkilau bergemerlapan. Cincin itu digenggamnya erat, ditempelkan genggaman itu ke dadanya, matanya menerawang jauh ke depan. Kemudian ia menyimpan kembali cincin itu ke dalam sebuah kotak dari bahan beludru berwarna merah. Ia lalu mengaduk wedang jahenya, mengangkat gelasnya perlahan dan menempelkan bibirnya pada gelas, meminumnya pelan-pelan. Ia merasakan kehangatan jahe yang mengaliri tenggorokan serta memberinya rasa tenang.
Setelah meletakkan gelasnya, Gili bangun dari duduknya, melangkah perlahan menuju pintu belakang. Ia membuka pintunya dan angin sore menyambut menyibak rambut putihnya. Ia terus keluar untuk berdiri diam di halaman belakang. Menatap langit sore yang beranjak gelap menyisakan semburat warna-warna senja menyentuh wajahnya. Angin bertiup menjatuhkan satu dua daun maple merah ke tanah. Gili mengambil satu daun itu, memandanginya lalu senyumnya tersungging. Seakan teringat sesuatu yang menyenangkan hatinya.
***
“Fadia Azmi?”
Dia menganggukkan kepala. “Ada keperluan apa malam-malam datang kesini?” tanyanya padaku dengan kerutan di kening.
“Hai, namaku---“
Aku tak melanjutkan perkenalanku karena dia telah memotongnya. “Issssh, aku sudah tahu nama kamu, kita ‘kan sekelas, ngapain pake kenalan lagi sih … aku mau nanya ngapain malam-malam kesini? Kalau kesini jangan malam-malam.”
Aku nyengir, “Mau kenal lebih dekat sama kamu, boleh?”
Aku mengatakannya langsung tanpa pikir-pikir. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Aneh, di kelas kamu duduk tiga meja di belakangku, bukannya itu udah dekat?” tanyanya heran. “Bukan duduknya, aku mau lebih dekat kenal hatinya …” jawabku kalem. Dia menatapku diam, seperti yang membeku.
“Halo … apakah ada orang di sana?” ucapku sembari melambaikan tangan di depan wajahnya yang terpaku.
“Isssh!” dia menepis tanganku, “Sebaiknya kamu pulang deh … ga enak kalau sampai Papahku ta---“