Bagaimana Mungkin Aku Tidak Mengingatmu Di Malam Sebagus Ini

ken fauzy
Chapter #2

BAB 2. BIBIT-BIBIT CINTA YANG TUMBUH

Aku mengetuk pintu.

Dan harapanku terkabul, kini wajah yang kulihat setelah pintu itu dibuka adalah wajahnya. “Assalamualaikum … baru ngetuk pintu sekali, eh langsung dibuka, pasti kamu sudah nungguin aku di balik pintu ‘kan?” tebakku penuh percaya diri.

“Waalaikumsalam, issshhh, ge er … iya aku nungguin, tapi nungguin martabak itu,” tunjuknya. Aku nyengir, menyerahkan sekotak martabak juga kembaliannya. “Ambil aja kembaliannya, makasih ya Bang,” ucapnya mengambil martabaknya lalu menutup pintu.

Aku terkejut dengan pintu yang tertutup di depan wajahku dan uang kembalian di tanganku.

Tak lama pintu terbuka lagi. Wajahnya muncul dengan tawanya yang lebar. “Hahaha, aku becanda ih … kirain beneran ya? Duh kasian sampai melongo gitu,” gelaknya.

“Kamu reseh! Emangnya aku delivery martabak gitu, udah nganterin makanan maen tinggal aja …” lontarku sebal. Dia masih tertawa lalu membungkuk beberapa kali seperti orang Jepang, “Maaf, maaf yaaa … seneng deh becandain kamu.” Lucu juga melihatnya seperti itu.

“Iya aku maafin … ni beneran duit kembaliannya buat aku? Kalau iya aku kantongin nih,” sahutku. Dia tertawa, “Iya simpan aja, buat besok-besok titip beli gorengan kalau kamu kesini lagi.”

Mataku membesar, “Jadi aku boleh kesini lagi?”

Dia mengangguk.

“Setiap hari boleh?” tanyaku bersemangat.

“Setiap hari boleh, kalau sekalian sama motongin rumput di halaman depan tuh,” tunjuknya. Aku jadi nyengir.

“Mau kopi atau teh?” tanyanya.

“Apa aja asal jangan banyak pake gula soalnya---“ aku belum selesai bicara karena dia telah melanjutkannya, “Soalnya manisnya sudah ada aku … kamu mau ngomong gitu ‘kan? Mau gombalin aku gitu ‘kan? Sudah ketebak, sudah dibilangin gombalan gitu sudah basi tau .…”

Aku tertawa, menyahut, “Siapa yang mau ngomong gitu, ge er ih kamu … aku mau bilang, jangan banyak gula, soalnya aku ga terlalu suka manis … takut diabetes tahu .…”

Dia tampak malu-malu. “Ooh salah toh, ya maaf sudah suudzon hehehe, aku ke dalam dulu ya, bikinin minum,” ujarnya santai sembari masuk ke dalam rumah. Kali ini aku bisa melihat sepintas rona di pipinya yang malu seperti buah apel nan ranum, membuatku gemas jadinya.

“Oh ini yang dari Karang Taruna itu toh.”

Aku menoleh mendengar suara itu.

“Eh Tante,” aku berdiri dari dudukku di teras rumahnya setelah melihat Fadia dan mamahnya datang. Aku segera mencium punggung tangan mamahnya. “Bukan dari Karang Taruna Tante, aku ngarang kok, aku teman sekelasnya Fadia,” cengirku jujur. “Hahaha, Tante sudah tahu … Fadia sudah cerita soal kamu,” kata mamahnya. “Oya, Fadia cerita apa aja soal aku Tante?” aku jadi penasaran.

“Cerita soal … apa ya … duh Tante kok jadi amnesia gini ya,” cetusnya sembari memegangi kepalanya berpura-pura pusing, Fadia tertawa. Aku tersenyum, sepertinya beliau tidak ingin menceritakannya. “Girls talk, ini pembicaraan rahasia antara cewek, cowok ga boleh tahu dong,” kata mamah sedikit berbisik padaku.

Aku manggut-manggut. “Rahasia negara aja bisa dibocorin Te, masa ini ga sih … sedikiiiit aja,” bujukku. “Issshhh, girlshood lebih kuat, pokoknya yang dibicarakan itu yang baik-baik kok,” senyum mamah. Aku mengatupkan tangan di dada, merayu lagi, “Plis, plis, plis, cerita dikiiit aja…”

Mamah menggeleng dan tertawa.

Lihat selengkapnya