“Pagi istriku sayang …”
Ucap seorang pria sembari memeluk seorang wanita dari belakang, di dapur rumah. “Pagi juga,” jawab sang wanita sambil tertawa geli karena janggut pria itu menggelitiki lehernya. “Sarapan apa kita pagi ini?” tanya sang pria.
“Seperti biasa, roti bakar, ubi panggang Cilembu dan segelas jus jeruk, (wajah sang suami terlihat cemberut) inget, Mas sedang diet loh,” jawabnya.
“Tambah sosis mungkin?” kata sang pria dengan tangan di dada memohon. “Setuju, aku juga mau sosis Bunda!” teriak seorang anak laki-laki berusia lima tahunan yang muncul dari kolong meja makan.
Sang pria tersenyum penuh kemenangan mendapat dukungan dari putra kecilnya itu. Shaliha nama wanita itu, ia menatap suaminya, Jamal dan Danish, putranya. Kedua laki-laki itu menatapnya balik dengan tatapan memelas. Shaliha tersenyum tidak bisa menolak tatapan mereka. “Ok, ok, tambah sosis kalau begitu…” senyumnya.
Jamal dan Danish langsung bertepuk tangan dan mendaratkan pelukan pada Shaliha. Shaliha tertawa, ia sungguh bersyukur memiliki dua pria yang mencintainya ini, dan ia pun begitu mencintai mereka, ia merasa terberkahi.
Setelah semua makanan siap di meja makan, mereka duduk bersama dan memulai doa sebelum menyantapnya. Setelah doa dipanjatkan, makan pun dimulai. “Ngomong-ngomong, sudah lama kita ga berkunjung ke rumah kakek ya?” celetuk Jamal sembari mengambil setangkap roti bakar. Danish mengangguk seraya mengunyah sepotong sosis bakar.
Shaliha menatap suaminya. “Iya, sudah lama…” sahutnya pelan.
“Menurutmu, bagaimana kalau akhir pekan ini kita ke sana? Sudah lama kita ga nengok papahmu itu, dan sudah lama juga Danish ga liburan di rumah kakeknya,” kata Jamal sembari mengunyah roti panggang berisikan sepotong sosis.
Shaliha menghentikan kunyahan ubi Cilembunya, meneguk jus jeruknya.
“Kita ke rumah kakek? Horeeee!” teriak Danish riang memuncratkan sosisnya. “Husssh, kalau lagi makan ga boleh teriak gitu Nak,” geleng Jamal. Danish menelan sisa sosisnya, memandang pada kedua orang tuanya bergantian seraya bertanya, “Tapi kita betulan ke rumah kakek ‘kan Yah? Bunda?”
Shaliha menatap Jamal.
“Insya Allah ya,” jawab Jamal tersenyum pada putranya, “sekarang kamu habiskan sarapannya dulu.” Danish mengangguk dan bersemangat menyuap makanannya itu.
Shaliha mengangkat gelas jusnya lagi, mereguknya sedikit sedang matanya kosong memandang dinding. Jamal memperhatikan istrinya dan ia tahu ada sesuatu dalam tatapannya yang melamun itu.
Beberapa saat kemudian setelah sarapan selesai, Jamal membantu membereskan meja, sedang istrinya mencuci piring. Ia lalu berdiri di samping istrinya. “Aku tahu apa yang kamu rasakan, aku bisa lihat dari tatapan yang kamu lamunkan tadi…” ucap Jamal. Shaliha terdiam dengan tangannya yang terus membersihkan piring-piring bekas sarapan tadi dengan sabun cuci piring dan menyiramnya dengan air dari kran yang menyala.
“Shaliha … keraguan yang kamu rasakan, perasaan takut akan luka yang pernah kamu rasakan, seharusnya tidak menjadi penghalang untuk mengunjungi papahmu … beliau pasti sudah kangen dengan cucunya, dan dengan anaknya, kamu,” lanjut Jamal.
“Iya Mas, tapi … setiap kembali ke rumah, aku merasa takut akan merasakan lagi rasa kecewa yang pernah tumbuh itu … aku khawatir, kemarahan di dalam jiwaku meledak lagi,” ucap Shaliha pelan dan bergetar.