Bagaimana Mungkin Aku Tidak Mengingatmu Di Malam Sebagus Ini

ken fauzy
Chapter #4

BAB 4. MENCANDU DIRINYA

Gili terbangun tengah malam itu.

Ia melihat tirai jendela kamarnya yang melambai-lambai tertiup angin. Ia pasti lupa untuk menutup jendelanya sebelum tidur tadi. Ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju jendela. Sebelum menutupnya, ia merasakan dulu angin malam yang meniupi wajahnya, terasa begitu segar dan dingin tentu saja.

Sesaat ia menatap langit malam yang masih saja gelap tanpa bintang. Ia menggeleng pelan lalu menarik jendelanya, menutup dan menguncinya. Tetiba, tangan kirinya bergetar tak kendali, ia memegangi tangan yang bergetar itu dengan tangan kanannya lalu memijit-mijitnya perlahan. Nafasnya sedikit sesak disusul rasa sakit seperti dicubit kecil di dada kiri, ia menarik hela nafasnya dan semua itu perlahan mereda.

Dalam kamar yang bercahaya temaram dari lampu sudut yang menyala redam, ia duduk di sisi tempat tidur. Sebentuk bayangan yang duduk membungkuk melatarbelakangi dirinya, menempel lekat di dinding.

Tangannya masih terus memijit sedang pikirannya melayang ke masa-masa silam. Ia mendesah sebelumnya. Gambar wajah-wajah yang berbahagia, suara tawa canda yang menggema dan pelukan-pelukan atas nama cinta yang mendekapnya. Masih teringat semua itu, masih terasa semua itu, masih kuat semua itu tertanam di pikiran, di hatinya.

Terdengar suara terisak pelan yang keluar begitu saja. Perasaan yang remuk dan kesepian yang bersanding seimbang. Mengalir sedu sedan yang melambatkan pernafasan sepanjang malam yang memunculkan kerinduan. Ia mengusap air matanya dengan tangan yang masih bergetar.

Sungguh ia mencandu dirinya, setiap hari setiap waktu, tidak mengenal kata bosan, tidak pernah ingin meninggalkan. Apa kau pernah begitu? Mencintai seseorang dengan sangat dalam. Mencintai seseorang tanpa perhitungan. Apa yang kau tahu soal cinta? Atau tentang patah? Kau belum sampai di titik mencintai tanpa mencandu, dan kau katakan sedih, itu belum seberapa, kau belum sampai di titik tersakitnya.

Wahai malam yang tenang, janji kita, terbuat dari kesederhanaan hari ini, bukan dari mimpi yang tak bisa diraih. Kau pernah bertanya soal nanti, aku tidak ingin menjawabnya karena tidak ada yang pasti tentang nanti, aku hanya bisa mengatakan yang pasti, untukmu, aku akan selalu mencintai.

 

***

 

Fadia tertawa dengan rambut yang bergoyang diterpa angin.

“Ketawanya jangan lebar-lebar nanti masuk angin,” kataku sedikit agak keras. “Biarin, tinggal kerokan nanti!” balasnya berteriak.

“Seneng ga?” tanyaku.

“Apa?” tanyanya balik, sepertinya dia tak mendengar pertanyaanku barusan karena suaraku kalah dengan deru mobil yang melewati.

“Kamu … malam ini … seneng ga?” teriakku memecah kata-katanya agar tertangkap lebih jelas.

Lihat selengkapnya