“Hey, kok ngelamun? Papah udah masuk!” seru Fadia membuatku kaget. Aku jadi tersenyum. “Makasih ya udah beliin martabaknya … ayo kamu juga makan dong,” ajaknya sembari menyuap sepotong martabak kismis itu.
“Masih kenyang … ’kan tadi baru makan mie ayam,” kataku menepuk-nepuk perut.
Dia tertawa, “Kalau gitu cobain wedang jahenya, ini aku bikin sendiri loh, Mamah yang ajarin barusan.” Aku mengambil gelasnya dan mereguknya pelan karena masih panas, sesaat kehangatan jahe dan manis gula jawanya memenuhi tenggorokanku.
“Mmmm, ini nikmat bangeeeet … kayaknya ini bakal jadi minuman favoritku deh … jadi kalau aku kesini aku minta dibuatin ini aja ya? Boleh?” pintaku dan dia tersenyum mengangguk.
“Jadi tadi udah ngobrol apa aja sama Papah? Aku yakin beliau tidak hanya bertanya soal kuliah,” tanyanya berlanjut.
“Banyak … ngobrol soal nuklir terbaru yang sedang disiapkan Korea Utara, krisis pangan yang sedang melanda Ethiopia, soal Michael Jackson yang mau rilis album baru dan apa lagi ya … mmmm ….” Aku menepuk-nepuk pelipisku dengan telunjuk seakan mengingat-ngingat.
“Hahaha, ga sekalian ngebahas pemanasan global yang membuat banyak es di Kutub Utara mencair?” katanya tertawa. “Itu akan masuk ke dalam pembahasan pertemuan kami berikutnya,” jawabku mantap. Dia tertawa lagi.
Tawanya membuatku bahagia. Sayang malam ini aku harus menunda untuk mengatakan apa isi hatiku, memang tidak salah untuk menyimpan dulu perasaan ini dan mengutamakan kepentingan masa depan, hanya saja yang tidak disadari orang tua pada remaja seperti kami, mereka selalu menganggap bahwa apa yang kami rasakan di hati hanyalah sekadar recehan, sekelas cinta monyet. Huh!
“Sebaiknya aku pamit dulu ya, sudah malam …” kataku di saat tawanya telah reda dan kami sedang saling menatap dalam diam. “Eh, oh iya … sudah malam ya … kok buru-buru?” Dia gelagapan menanggapi, seperti yang ingin menahan agar aku tak pulang cepat.
“Bukan ga mau lama, tapi yang punya motor pasti sudah was-was kenapa motornya belum balik-balik nih, ntar dia pikir motornya sama aku digade lagi, mana lagi butuh,” bisikku. Dia terkejut sekaligus tertawa, “Waduh, kalau gitu kamu harus pulangin motornya deh … ga enak nanti … emang kamu pinjem motor sama siapa sih?”
“Bapakku,” jawabku.
“Issshhh! Dasar ih kirain sama siapa …” sebalnya lalu akan mencubit pinggangku tapi aku lebih cepat menangkis lalu menangkap tangannya dan menarik tubuhnya ke dalam pelukanku yang erat.
Mataku menatap dalam pada matanya yang bulat hitam. Detak jantungnya berdegup di atas jantungku. Hembus nafasnya menyapu wajahku. Boleh minta waktu dibekukan pada saat ini untuk beberapa jam saja? Pintaku di hati tak ingin pelukan ini selesai.
“Ehem!”
Aku dan dia terkejut ketika mendengar suara berdehem dari pintu.
“Duh tenggorokan Mamah kok jadi gatel gini sih …ehem!” kata mamah menggaruk-garuk lehernya berpura-pura. Aku tersenyum malu begitu pun dia yang di pipinya aku bisa melihat bersemu merah jambu.
“Mamah ih! Bikin kaget aja tau,” tukasnya sembari mencubit lengan mamahnya.
“Jadiii … nanti kalau kalian sudah jadi orang tua … kalau anak perempuan kalian lagi diapelin, trus tiba-tiba di teras ga ada suara, cepat-cepat deh diintip ya … hahaha … jadi aja ketahuan,” ledek mamah tertawa.
“Maaf, Te …” ucapku pelan.
Mamah tersenyum padaku, “Iya dimaafin, dimaklum, tapi jangan sekali-kali lagi … eh sudah malam sebaiknya disudahi pembicaraannya ya … besok-besok bisa dilanjut lagi.”