Bagaimana Mungkin Aku Tidak Mengingatmu Di Malam Sebagus Ini

ken fauzy
Chapter #6

BAB 6. SESI TERAPI

“Selamat sore Dokter Chandra .…”

Pria yang dipanggil dokter itu mengangkat kepalanya dan tertawa. “Ah Ibu Shaliha … selamat sore, silakan masuk,” ucapnya sembari berdiri dari kursinya, meninggalkan apa yang tadi sedang ditulisnya. Shaliha melangkah masuk lalu menutup pintu di mana tergantung sebuah papan nama pada pintunya.

‘Dr. Chandra, Psikiatrist & Psychologist’ 

“Apa kabar Bu …” sapa Dr. Chandra ramah.

“Alhamdulillah baik Dok, gimana kabar Dokter sendiri?” balas Shaliha.

“Seperti yang Ibu lihat …” ujarnya sembari membuka tangannya menunjukkan dirinya sehat wal afiat. Shaliha tersenyum. “Terima kasih sudah meluangkan waktu sore ini untuk menemui saya Dok,” kata Shaliha.

“Tidak masalah Bu, oiya bagaimana kabar Pak Jamal?” tanya Dr. Chandra. “Kabarnya baik, dia ada di luar sedang bersama Danish tuh,” jawab Shaliha. Dr. Chandra mengangguk, “Syukurlah … baiklah, sekarang silakan duduk yang rileks.”

Shaliha merebahkan tubuhnya pada sofa yang telah disediakan. Lehernya bersandar pada bantalannya yang empuk. Ia menatap langit-langit ruangan praktik dokter, diam sesaat. Dr. Chandra duduk di seberang sofanya, menunggu dengan sabar. Sebuah sesi berulang yang sudah sering dilakukannya bila ingin mengutarakan kegelisahan serta tekanan dalam pikirannya.

“Saya masih belum bisa keluar dari ketakutan-ketakutan itu Dok.”

Shaliha membuka suara dengan matanya masih menatap langit-langit ruangan. “Saya takut untuk merasakan kesedihan dan kehampaan itu lagi,” lanjut Shaliha sedang Dr. Chandra belum menanggapi, ia masih mendengarkan dengan seksama.

“Tekanan yang saya rasakan masih sangat terasa Dok, terlebih ketika saya mengingat rumah … rasa sakit, marah, kecewa dan ketidakberdayaan saya untuk merubah semua itu membuat depresi itu bergolak lagi, kesedihan yang seharusnya telah hilang bersama waktu yang berlalu tetap ada, menciptakan lubang besar yang gelap di hati.”

“Semua jadi teringat lagi. Saya yang harus menghadapi hari-hari berat sendiri dalam usia masih belia, saya yang saat itu selalu berpikir kalau semua hanyalah mimpi buruk dan selalu berharap, di suatu pagi saat saya bangun maka semua kembali seperti dulu, saat-saat kami masih lengkap dan bahagia.”

“Tapi itu tidak terjadi .…”

Shaliha menghela nafas, diam lagi sesaat.

Dr. Chandra masih diam dan mendengarkan.

“Bangun pagi … berangkat sekolah … sendiri ….”

Bicara Shaliha menjadi lebih pelan, gemetar dan satu-satu mengingat semua itu. Ada semacam fragmen-fragmen yang terlontar dari sebuah kenangan buruk yang utuh. Dr. Chandra sedikit mencondongkan tubuhnya agar bisa menangkap kalimat Shaliha yang pelan.

“Tidur … malam … hujan … sendiri .…”

Lihat selengkapnya