Bagaimana Mungkin Aku Tidak Mengingatmu Di Malam Sebagus Ini

ken fauzy
Chapter #7

BAB 7. MENTAL HEALTH

Dr. Chandra pun menyampaikan kiat-kiat untuk memelihara kesehatan jiwa tersebut.

“Pertama, sadari dengan penuh semua bentuk emosi dan perasaan, seperti sedih, marah, frustasi atau bahkan merasa gagal. Jika tidak mungkin menghilangkan penyebabnya, coba menguranginya dengan berpikir positif atau mengalihkan perhatian.”

“Kedua, melibatkan diri dengan berbagai aktivitas baik bersama keluarga yang kita kasihi atau pun dengan teman yang berpikiran positif dapat mengurangi kesepian dan keputusasaan. Saatnya kita bertatap muka dengan mereka, berkomunikasi untuk mengisi ruang-ruang kosong dalam jiwa.”

“Ketiga, berbaik-baiklah dengan diri sendiri, jangan terlalu keras, apresiasi diri untuk setiap pencapaian yang sudah kita capai di hari ini, manjakan diri dalam kurun waktu tertentu dan rutin lakukan dengan kegiatan yang kita sukai, seperti mendengarkan musik, nonton film, pijat, perawatan diri dan lainnya.”

“Keempat, perbaiki gaya hidup, makanlah makanan yang sehat seperti sayuran, buah … makan secukupnya, tidur jangan terlalu larut, matikan telepon genggam dan televisi sejam sebelum tidur untuk relaksasi pikiran. Olahraga teratur, yang terukur, bukan yang menguras energi terlalu banyak nanti malah kelelahan, lalu kelola stress, berdamai dengan luka, let it go, ikhlaskan yang sudah tak bisa diperbaiki.”

Shaliha mendengarkan dengan seksama sekaligus mencatat kiat-kiat tersebut pada telepon genggamnya.

“Nah itu kiat-kiatnya Bu … ada lagi yang ingin ditanyakan atau ingin disampaikan Bu?” tanya Dr. Chandra. Shaliha menggeleng dan tersenyum. “Terima kasih Dok, info kiat-kiat ini sangat bermanfaat sekali.”

Shaliha bangkit dari duduknya dan keluar ruangan praktek ditemani Dr. Chandra. “Kapan saja Ibu butuh waktu konseling, datang saja langsung ya,” kata Dr. Chandra.

Jamal melihat Shaliha dan Dr. Chandra sedang berbincang di depan pintu ruang praktek, ia segera menghampirinya. “Baiklah Dok, saya pamit pulang dulu …” ucap Shaliha. “Salam untuk Papah ya kalau Ibu berkunjung ke sana …” senyum Dr. Chandra. Shaliha terlihat ragu tapi ia mengangguk. Danish segera berlari memeluk ibunya.

“Aku menyapa Dokter Chandra dulu ya,” ujar Jamal pada Shaliha. Shaliha mengangguk.

Jamal bersalaman dengan Dr. Chandra. “Bagaimana istri saya Mas Chan?” tanya Jamal pelan-pelan khawatir didengar istrinya yang sedang bermain bersama Danish. Dr. Chandra tersenyum, “Sudah jauh lebih baik. Kemauannya untuk melawan semua patut diacungi jempol.”

“Sudah bertahun-tahun lewat, seharusnya dia bukan hanya bisa melawan tapi juga menghilangkannya … seharusnya juga semua rasa yang menekan itu bisa dihilangkan dengan ibadahnya yang begitu rajin, karena itu semua hanya ada dalam pikirannya saja …” keluh Jamal.

“Hmm … kata-katamu barusan tidak mencerminkan disiplin ilmu yang kamu miliki loh. Jamal, kita pernah membahas ini bukan? Apa yang dihadapi oleh istrimu itu tidak mudah, kita tidak bisa menggampangkannya dengan mengatakan kalau itu hal yang dibuat-buat dalam pikirannya, apa yang menimpanya, apa yang dirasakannya, trauma yang ditimbulkan dari semua tekanan itu, kita tidak pernah tahu seberapa dalamnya, kalau kita tidak mau menyelami, memahami dan mengerti.”

“Tidak ada orang yang mau mendapat tekanan seberat itu, kita yang tidak pernah merasakan, mungkin enak saja mengatakan, ‘Makanya banyakkin ibadah’ tapi tidak semudah itu. Ibadah memang menolong untuk membuat pikiran tenang, tapi untuk membuatnya selalu stabil serta untuk menyembuhkan, itu butuh waktu dan peran dari orang-orang yang mendukungnya dalam memberikan semangat yang positif, bukan menyudutkan atau menyalahkannya.”

“Jamal, ingatkah, kita sudah banyak menghadapi kasus seperti ini … sangat luar biasa istrimu bisa bertahan sampai hari ini dan menunjukkan perkembangan yang baik. Dia sungguh kuat dan hebat, kita belum tentu bisa sepertinya. Kamu harus bangga dengannya.”

Jamal tersadar mendengar nasihat Dr. Chandra itu, ia menghela nafas seraya mengusap-ngusap wajahnya. “Mas Chan benar … maafkan atas kalimat saya tadi Mas,” sesal Jamal.

Dr. Chandra tersenyum menepuk-nepuk bahu Jamal, berkata, “Saya mengerti kegelisahan dalam dirimu … sekarang yang penting, selalu dampingi dan jaga istri kamu … dia akan baik-baik saja.”

Jamal mengangguk.

 

Lihat selengkapnya