“Untuk persiapan ….”
Lega aku mengatakan ini.
“Persiapan apa?” keningnya berkerut.
Aku berjalan keluar kelas dan mau tak mau dia mengikuti.
Kata orang kalau kita lagi marah maka perubahan fisik kita akan membuat kadar marah kita itu bisa turun. Misal, kalau kita marah dalam posisi duduk maka berdirilah atau kalau kita lagi marah dalam posisi diam maka berjalanlah, maka itu bisa menurunkan kadar marah kita. Itulah yang aku lakukan, aku tahu dia sedang marah.
Kita berjalan berdampingan sampai di halaman sekolah.
“Persiapan apa sih?” tanyanya tak sabar.
Sepertinya kadar marahnya sudah mulai turun. “Kamu lupa ya, kalau lusa kita sudah masuk minggu tenang?” ucapku. Dia menggeleng, “Ga, ga lupa … emang apa hubungannya minggu tenang dengan kamu yang ga pernah datang ke rumah dan selalu menghindari aku di sekolah?”
“Fad, sebaiknya kita fokus untuk ujian akhir … kamu ‘kan pernah bilang kamu mau lanjut ke UI atau Unpad bukan? Itu butuh konsentrasi belajar, jadi aku mendukungmu dengan tidak mengganggumu dulu,” jelasku.
“Tapi aku tidak merasa terganggu kalau kamu datang, aku belajar tetap jalan kok … ah ini sih alasan kamu aja … buktinya kemarin aku lihat kamu sedang membonceng cewek dari kelas sosial ‘kan?”
“Ga ada hubungannya dengan cewek dari kelas sosial itu.”
“Ada lah … dia juga keliatan seneng dan anteng di boncengan, diam kayak paket.”
Aku tertawa mendengar analoginya.
“Ya masa harus jumpalitan sih? Hmm, kamu cemburu ya?”
“Iya, emang kenapa?”
“Ini yang aku suka dari kamu, kamu jujur bicara apa adanya … senang rasanya dicemburui, itu tandanya ada yang merhatiin,” tawaku.
“Issshhh, ini aku lagi kesal … jangan ketawa ….”
“Iya, iya … aku jelasin dengan detil ya … jadi, aku ga ke rumahmu dan kalau di sekolah aku menghindari kamu, itu bukan karena aku berubah … tapi ya seperti yang aku bilang tadi, aku hanya sedang menghindar untuk fokus persiapan ujian … karena melihat wajahmu itu membuat aku ga bisa fokus dan lupa belajar jadinya.”
Dia mendengus sebal.
“Gombal!”
“Serius.”
“Memang kamu sedang fokus mau lanjut kemana?”