Shaliha kecil hanya bisa menatap tak mengerti.
Mengapa mamahnya meninggalkannya dan sekarang papahnya dibawa pergi. “Papah mau kemana Nek?” tanyanya lugu. Neneknya menggendong Shaliha tanpa menjawab kemudian masuk ke dalam rumah. Dari jendela, Shaliha hanya bisa melihat sebuah mobil ambulans membawa pergi papahnya begitu saja. Papahnya bahkan tidak mengatakan kata-kata perpisahan, hanya diam saja, menatapnya bagaikan patung.
Papah sudah tak menyayangiku lagi, ucap Shaliha kecil dalam hatinya menatap mobil ambulans itu sampai menghilang di ujung jalan. Itu adalah hari di mana papahnya dibawa untuk dirawat di sebuah rumah sakit.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Gimana Sayang? Kamu baik-baik saja?” tanya Jamal lembut dan duduk di samping Shaliha di ruang keluarga. Shaliha tersadar dari lamunan masa kecilnya tadi. Ia tersenyum pada suaminya,
“Aku … baik-baik saja … Insya Allah ….”
Jamal tersenyum menggengam jemari istrinya. “Danish?” tanya Shaliha. “Dia sudah tidur tuh … meski aku harus menyelesaikan dulu dongeng si Jendral Kancil itu … fiuuuhh,” jawab Jamal seraya mengelap dahinya seakan berkeringat, Shaliha tertawa.
“Itu anak ga ada bosennya deh sama dongeng si Jendral Kancil … sudah ratusan kali aku bacain kali, sampe aku hapal titik koma dan semua tanda baca di buku cerita itu, dan dia juga hapal, tapi masih aja ga bosen-bosen,” geleng Jamal.
“Sayang, kapan kita akan ke rumah Papah?” tanya Shaliha.
Jamal menatap istrinya, “Tidak perlu terburu-buru … kapan saja kalau kamu siap.”
Shaliha mengangguk. “Tapi aku tidak pernah siap … kalau tidak dipaksakan, aku akan selalu kalah dengan rasa takut itu.” Jamal menepuk-nepuk pelan tangan istrinya, “Baiklah … akhir pekan ini? Gimana?”
Shaliha tersenyum, “Akhir pekan waktu yang bagus.” Jamal tersenyum dan merangkul istrinya. Shaliha menyandarkan kepalanya di dada Jamal. Ia merasa tenang dan aman dalam pelukan pria bertubuh tinggi besar ini.
Terima kasih Allah untuk mengirimkan malaikat penjaga yang baik ini, ucap Shaliha dalam hatinya sembari menggenggam erat jemari suaminya.
***
Suara riuh murid-murid terdengar setelah pengumuman kelulusan sekolah.
Wajah-wajah sumringah tampak pada murid-murid. Fadia celingukan di antara ramainya murid-murid yang sedang merayakan hari bahagia itu. Beberapa teman menghampirinya dan mereka saling berpelukan bahagia setelah mengetahui mereka sama-sama lulus dengan nilai terbaik. Setelah itu matanya mencari-cari lagi, mencari sebuah wajah yang diharapkannya muncul di hari ini tapi tak kelihatan. Dirinya mulai cemas, tidak mungkin dia tidak datang di hari sepenting ini.
Apakah dia tak lulus? Tanyanya dalam hati.
Fadia duduk lesu di kursi kayu di pinggir lapangan. Suara keramaian itu sayup-sayup menghilang di telinganya, tiba-tiba dia merasakan kesepian menyergapnya. Hatinya serasa kosong. Bila apa yang diduganya tadi benar, itu artinya ia tak akan bisa bersama dirinya lagi. Kalimat, “Kita tidak boleh terpisahkan” terngiang-ngiang di telinga. Semakin jauh dan semakin tak terdengar.