“Aku ingin menikah denganmu.”
Dia menatap wajahku seakan tak percaya setelah aku mengucapkan kalimat itu. Pelan-pelan matanya membulat besar lalu kedua bola matanya yang hitam bergerak untuk berkumpul menjadi satu di sudut matanya di pangkal hidung sembari lidahnya menjulur keluar. Aku terkejut melihatnya lalu dia tertawa.
“Hahaha, becanda kamu ah!” ucapnya.
“Ga, aku serius … seserius julingnya mata kamu barusan,” kataku.
Dia menatap wajahku lagi dan aku bersiap-siap kalau dia akan menunjukkan ekspresi wajah yang aneh lagi. Ternyata tidak.
“Isssh, kamu serius?” dia bertanya sedikit terkejut, aku mengangguk. “Kamu serius mau menikahi aku?” ulangnya.
“Iya, maaf kalau aku tadi menyampaikannya tanpa berlutut seperti di film-film barat itu, tapi aku mengutarakan ini dengan kesungguhan hati,” kataku mantap. Dia diam, dadanya terlihat kembang kempis berdegup antara senang dan tak menyangka, sepertinya dia baru menyadari kalau aku tidak main-main.
“Bisa diulang?” pintanya.
“Ga ada siaran ulang,” jawabku sebal.
Dia mendengus, aku jadi tertawa.
“Baiklah, aku ulangi … ehem … Fadia Azmi … maukah kamu menikah denganku?” tanyaku, kali ini aku berlutut di depannya dengan mataku menatapnya serius. Pipinya tampak merona, ah setelah bertahun-tahun baru kali ini aku melihatnya merona sekentara dan sesegar seperti itu. Senyumnya menyembul manis.
Dia segera mengangguk-ngangguk cepat, “Iya, tentu saja,” lalu melompat menubruk memelukku hingga kami berdua jatuh bergulingan di atas halaman rumput di depan kampus. Beberapa mahasiswa lainnya terkejut melihat kejadian itu, beberapa teman malah tertawa menyoraki, tapi kami tak perduli.
“Kapan? … Kamu harus datang ketemu Papah!” serunya sembari menindih tubuhku.
“Ya ga sekarang atuh …” gelengku.
“Isshhh logatnya udah kayak orang Bandung aja deh,” cengirnya. “Ya ‘kan kita sudah kuliah lama di sini atuh Neng, jadi harus sudah beradaptasi,” balasku. Dia tertawa.
“Hey *nanaonan eta!? Jangan pacaran di rumput!” teriak satpam kampus dari kejauhan. (*nanaonan eta = ngapain itu). Kami terkejut dan buru-buru bangun sembari cekikikan.
“*Punten Pak, teu sangaja jatuh, kapeleset …” jawabku sekenanya. (*Maaf Pak, ga sengaja jatuh, kepeleset).
“*Kapeleset, kapeleset, ngarang wae! Pergi dari situ cepat!” sentak satpam itu dengan mata melotot dan tangan di pinggang. (*Kepeleset, kepeleset, ngarang aja). “Iya, iya Pak, ini kita mau pergi,” cengirku dan segera menarik tangannya untuk menjauh dari satpam galak itu.
“*Edan eta satpam ni galak-galak teuing nyak,” rutukku sebal sambil berjalan tergesa, dia yang menggenggam tanganku tertawa. (*Gila satpam itu galak-galak amat ya).
“Eh, kamu belum jawab pertanyaanku tadi …” katanya.