Bagaimana Mungkin Aku Tidak Mengingatmu Di Malam Sebagus Ini

ken fauzy
Chapter #11

BAB 11. WAKTU KUNJUNGAN ITU

Papahnya memandang lurus padaku membuatku semakin salah tingkah saja. Aku mengusap wajahku dulu, menarik nafas dan berkata lagi, “Maksudnya, dari dulu juga serius Om, tapi kali ini mau lebih serius lagi … saya berencana untuk … untuk melamar Fadia Om.”

Papahnya melipat bibirnya sesaat, menggeleng pelan lalu berkata, “Oh baru rencana toh, berarti bisa jadi, ga jadi ‘kan?”

Aku mendesah pelan semakin gugup dan kehabisan kata, “Aduh, bukan gitu Om ….”

Mamahnya muncul dari dapur membawa nampan berisikan minum seraya tertawa dan berkata, “Halah, Papahnya Fadia ini seneng becanda … dia tahu kok maksud kamu ….”   

Aku melirik pada papah yang sedang menatapku serius. Seneng becanda di mananya? Mukanya lempeng begitu, bisik hatiku. “Jadi Om, Tante … sekali lagi, hari ini saya kesini bermaksud melamar Fadia, Insya Allah, minggu depan orang tua saya akan kesini, untuk membicarakan lebih lanjutnya bagaimana,” uraiku mulai lancar setelah sesaat mengumpulkan ketenangan dan mendapat duukungan dari mamahnya.

“Eits, kok udah pede gitu mau bawa orang tua segala?” tukas papah membuatku terkejut. “Kita harus tanya sama anaknya dulu dong, dia mau apa engga,” sambung papah. Aku mengangguk-ngangguk, papah ada benarnya juga, aku lalu menatap Fadia.

“Nah, jadi Fadia … laki-laki ini datang kesini bermaksud untuk melamar kamu, secara resminya minggu depan, bagaimana?” tanya papah.

Fadia berdecak, di luar dugaan dia menggeleng, berkata, “Aku tidak mau ….”

“Apa?!” Aku membelalakkan mataku tak percaya dia bisa mengatakan itu. “Ta, tapi kemarin … kemarin kamu ga ngomong gitu … kok sekarang berubah … aku ga ngerti …” ucapku terbata-bata terkejut berat.

“Ya itu ‘kan kemarin, sekarang bisa beda lagi,” sahut papah enteng.

Aku menelan ludah.

Mamah duduk di dekatku, menepuk tanganku lembut, berkata sambil tersenyum, “Tenang, Fadia belum menyelesaikan kalimatnya ….”

Aku terdiam dan kembali mendengarkan.

Fadia menatapku dalam-dalam, berkata, “Aku tidak mau … lama-lama, aku mau cepat-cepat kamu nikahi!” lalu dia tersenyum, disambut tawa papahnya.

Lihat selengkapnya