Nenek segera menarik Shaliha ke dalam pelukannya lalu menyingkir.
Pria itu berteriak-teriak sambil mengacak-ngacak rambutnya, beberapa petugas datang memegangi pria itu. Satu orang perawat pria pun datang mengeluarkan jarum suntik dari tas kecil yang dibawanya. Pria itu meronta sambil menendang perawat pria tersebut hingga membuatnya jatuh terjengkang. Petugas yang memeganginya dengan sigap memitingnya lalu membantingnya keras ke tanah. Menguncinya agar tidak lagi meronta.
Sakit hati Shaliha melihat pria itu dipiting serta dibanting sekeras itu.
“Jangan! Jangan sakiti Papah saya! Jangan!” teriak Shaliha memohon dalam pelukan neneknya dan dalam deraian air mata. Para petugas tidak mengindahkan teriakan Shaliha. Mereka terus memiting dan menekannya, tampak sebulir air mata jatuh dari mata pria tersebut, Shaliha melihatnya. “Papah! Papah!” Shaliha menjerit memanggilnya dengan tangannya menggapai-gapai, tapi nenek segera membawanya beringsut menjauh dari kericuhan itu. Perawat pria yang tadi jatuh segera bangkit lagi dengan jarum suntiknya dan dengan cepat menyuntikkannya.
Tak lama, pria itu terdiam lunglai tak mengamuk lagi.
“Sebaiknya kita pulang sekarang Sayang, nanti kita kesini lagi ya,” bisik nenek pada Shaliha yang menggeleng tidak mau. “Setelah Papah kembali tenang, Nenek janji akan membawa kamu lagi kesini yaaa,” bujuk nenek seraya mengusap air mata Shaliha yang jatuh tak henti. Akhirnya Shaliha mengangguk dan nenek dengan cepat menggendongnya untuk segera pergi dari situ.
Dalam gendongan neneknya, Shaliha kecil masih bisa melihat pria itu menatapnya dengan bibir yang lamat-lamat bergerak seperti memanggil namanya tanpa suara.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Toootttt!!
Suara klakson terdengar keras mengagetkan Shaliha yang berada di dalam mobil, membuyarkan lamunannya.
Ia menatap suaminya yang sedang tertawa melihatnya. “Hehehe, Kenapa Sayang? Kaget ya? Itu suara klakson bus emang kenceng banget, bikin kaget, aku aja sampe kaget … kamu ngelamun ya? Dari tadi diam aja,” ujar Jamal.
Shaliha menarik nafas lalu tersenyum, “Iya ngelamun sebentar ….” lalu ia melihat ke kursi belakang, tampak Danish sudah terlelap tidur.
“Kita sudah di mana ini?” tanya Shaliha menatap jalan.
“Baru lewat tol Cikampek,” jawab Jamal.