“Shaliha tak mungkin ditinggal sendiri di rumah ini, salah satu dari kita harus merawatnya.”
“Ya betul, rumah ini bisa kita titipkan pada Pak RT untuk dijaga dan dibersihkan, sampai Shaliha nanti bisa mengurusnya sendiri.”
“Dia bisa ikut kita atau siapa saja, yang penting dia tidak sendiri, dia masih kecil.”
“Ya kasihan dia, semua keluarga dekatnya sudah tidak ada, satu-satunya keluarga dekat yaitu neneknya yang tinggal di sini bersamanya juga sudah tidak ada. Tinggal kita yang tersisa. Kasihan sekali.”
Shaliha kecil mendengar percakapan sanak familinya itu beberapa hari setelah pemakaman nenek. Ia hanya terdiam dan akhirnya menuruti keputusan mereka. Maka sejak saat itu Shaliha ikut berpindah kota bersama mereka. Sebelum pergi, Shaliha menatap rumahnya dan meninggalkan rindunya di depan pintu.
Bayang-bayang papah dan mamahnya di depan pagar membias hilang.
Bayang-bayang nenek dan kakeknya perlahan menguap pudar.
Shaliha melambaikan tangannya pada kekosongan, pada kesunyian.
Kebahagiaan yang pernah dicecapnya saat hidup begitu berwarna dan indah kini berbanding terbalik. Hidupnya menjadi jungkir balik. Satu persatu semua pergi. Hari-hari yang berwarna-warni berganti menjadi hitam putih. Temaram cahaya menjadi penuntun langkah hidupnya sejak itu, dan kian hari semakin memburam.
***
Tahun-tahun berlalu.
“Kamu yakin Shaliha?” tanya seorang paman jauhnya dari keluarga papahnya.
Shaliha mengangguk yakin.
“Tapi di sana kamu akan tinggal sendirian loh, apakah kamu sanggup?” Sekarang bibi jauhnya yang bertanya. Shaliha mengangguk lagi. Paman dan bibi saling melihat. Saat itu mereka sedang mendengarkan keinginan Shaliha.
Setelah terdiam beberapa saat, pamannya mengangguk-ngangguk, berkata, “Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu, kami tidak bisa melarang-larang, kamu sudah dewasa sekarang dan tahu mana yang terbaik untukmu.”
Shaliha lalu mencium tangan pamannya dan memeluk bibinya.
“Kabari kami kalau kamu membutuhkan sesuatu,” bisik bibinya, Shaliha mengangguk. “Terima kasih untuk Paman dan Bibi yang telah menerimaku, bukan aku tak mau di sini,” kata Shaliha, “tapi, sudah saatnya aku harus pulang ….”