Bagaimana Mungkin Aku Tidak Mengingatmu Di Malam Sebagus Ini

ken fauzy
Chapter #14

BAB 14. KRITIS

Maka, dengan gemetar ia membuka laci lemari di kamar orang tuanya, di dalam laci tampak masih terdapat banyak obat bekas ibunya yang telah kadaluarsa. Tanpa pikir panjang, Shaliha membuka semua tutup botolnya. Pil, tablet dan apa pun itu yang ia sendiri tak tahu namanya ditelannya begitu saja.

Kemudian ia berdiri bersandar dinding di pojokan kamar mengacak-ngacak rambutnya. Tak menunggu lama, rasa nyeri datang menggulung di dalam perutnya, ususnya seakan dipelintir, matanya menjadi buram seketika, jantungnya berdebar cepat dan kepalanya sakit seakan mau pecah.

Ia menjerit kesakitan, semua yang dilihatnya berputar cepat.

Tubuhnya sempoyongan lalu ambruk ke lantai. Mulutnya mengeluarkan busa, hidungnya mengeluarkan darah, tubuhnya bagai ditusuk-tusuk. Ia berusaha bangkit tapi tak bisa, ia jatuh lagi, lantai dan dinding berputar-putar tak tentu membentur-benturkannya.

Sekarang datang mual yang menjadi muntahan dipenuhi darah, rasa sakitnya sudah tak tertahankan. Ia merangkak-rangkak, meraba-raba, berkali-kali menggapai-gapai mencari pegangan untuk bisa berdiri agar bisa keluar rumah meminta pertolongan, tapi berkali-kali juga ia kembali jatuh terjerembab. Ia tak ingat sudah berapa kali tubuhnya terbanting ke lantai, tapi ia terus merangkak merambat dan akhirnya bisa meraih pinggiran tempat tidur, tak diduga tangannya menarik suatu benda dari atas tempat tidur.

Benda itu jatuh di hadapannya.

Ternyata benda yang jatuh itu adalah mukena dan tasbih mamahnya.

Ia menatapnya nanar, dalam buram pandangan ia masih bisa mengenalinya. Ia mengambil mukena dan tasbih itu untuk didekapnya erat, kemudian ia meringkuk menahan sakit, menangis tanpa air mata yang keluar. Ia menyesali tindakan bodohnya.

Bila ia masih diberi kesempatan untuk hidup, maka ia berjanji akan berusaha untuk menjalani hidup sebaiknya, begitu Shaliha berjanji pada Tuhannya di ujung mautnya. Tubuhnya tiba-tiba kejang-kejang hebat disusul dengan muntah-muntah yang keluar tak bisa ditahannya. Setelah itu, air liur yang bercampur busa dan darah mengalir dari bibir juga hidung, perlahan matanya terpejam dengan tangannya terkulai lemah.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Shaliha menghela nafas, ia teringat saat sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Saat jiwanya melompat jatuh dari ketinggian dan terhempas ambyar di dasar keputusasaan. Ia menyandarkan kepalanya pada kursi mobil, melempar pandangannya keluar pada bukit-bukit di sisi jalan tol. Ia menyamarkan matanya yang berkaca-kaca dengan berpura mengantuk, ia tidak ingin suaminya mengetahui hal ini.

“Mas aku tidur sebentar ya,” ucapnya tanpa menoleh pada suaminya. Jamal mengangguk, “Ok Sayang, istirahatlah dan tenangkan pikiranmu ya.”

Lihat selengkapnya