“Ya Allah, Mbak kenapa kusut dan pucat begini sebaiknya kita ke ruang IGD dulu ya!” cetusnya. Wajahnya berubah cemas setelah melihat Shaliha dari dekat. Shaliha terhuyung akan terjatuh, ia mencoba mencari-cari pegangan tapi tak ada, untung saja, dengan cepat orang itu menangkap tubuh Shaliha.
“Teman-teman, aku mengantar nona ini dulu ke IGD ya, nanti konselingnya kita lanjut,” kata pria itu pada orang-orang yang sedang duduk melingkar tadi, lalu dengan cepat memapah Shaliha menuju ruang IGD.
Shaliha berusaha berkata meski terbata, ”Kon … se … ling?” Pria itu mengangguk, “Betul Mbak, konseling, konseling mengenai kejiwaan, siapa saja boleh ikut.”
Shaliha berkata lagi lirih, “Aku … aku … ingin ikut ….”
Pria itu tersenyum. “Dengan senang hati Mbak … tapi sekarang Mbak dirawat dulu ya.” Ia menyerahkan Shaliha pada perawat yang datang. “Terima kasih, nama saya Shaliha,” kata Shaliha lemah sebelum dirinya pergi dibawa ke dalam ruang IGD.
Pria itu mengangguk, “Baiklah Shaliha, cepat sembuh ya … oh ya nama saya Jamal.” Pria itu lalu melambaikan tangan sebelum pintu ruang IGD ditutup.
Keesokan harinya.
Shaliha membuka mata, dan mendapati dirinya telah berada di atas ranjang rumah sakit. Tangannya dipasangi infus, beberapa alat lain juga terpasang untuk membantu jantungnya kembali stabil serta beberapa selang yang dipasang di tubuhnya menghubungkan dengan alat monitor pengendali kesehatan.
“Selamat pagi … Shaliha,” sapa seseorang lembut dari pintu kamar rawat. Shaliha menoleh dan mengerutkan keningnya. “Hai, pasti ga inget sama aku ya?” senyum pria tersebut. Shaliha menggangguk pelan, ia tak ingat siapa pria ini tapi ia seperti yang pernah mendengar suaranya.
“Aku Jamal, yang kemarin membantumu ke IGD.”
“Oh iya, aku ingat sekarang … maafkan … kemarin aku tidak bisa melihat jelas wajahmu,” ucap Shaliha.
“Iya, aku mengerti, kondisimu kemarin mengkhawatirkan sekali … dan kamu juga membuat para dokter dan perawat bekerja keras untuk memompa keluar semua racun dari dalam perutmu itu,” ungkap Jamal tersenyum.
Shaliha menutup wajahnya dengan kedua tangannya, “Maafkan aku.”