Shaliha melihat pada perempuan berbandana merah itu.
“Nah, gadis itu memiliki emosi yang tak stabil, bisa terjadi perubahan mood yang mendadak. Dia bisa tiba-tiba menangis sedih lalu menjadi tertawa berlebihan atau bisa jadi emosi marah yang tinggi, dia kehilangan seluruh keluarganya saat musibah gempa bumi, dia satu-satunya yang selamat, dia merasa Tuhan tak adil, semua keluarga bisa berkumpul dan pergi bersama-sama, sedang dia ditinggal sendirian di dunia ini … Alhamdulillah setelah rutin mengikuti grup konseling dan mendapatkan pengobatan yang tepat, kondisi emosinya menjadi lebih stabil sekarang,” lanjut Jamal lagi.
Shaliha mendengarkan semua kisah yang diceritakan oleh setiap peserta grup konseling itu selama berhari-hari bahkan setelah ia keluar dari rumah sakit, ia tetap rutin mengikuti, tapi ia tak pernah memiliki keberanian untuk menceritakan kisahnya.
“Memiliki grup pendukung itu penting bagi setiap orang yang memiliki masalah yang sama, agar orang itu tidak merasa sendiri, selain itu juga dengan bercerita, itu akan mengurangi beban, meringankan pikiran, karena pada dasarnya kita, manusia, adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk berbagi, baik berbagi perasaan, cerita dan sebagainya.” urai Jamal di suatu sore saat ia dan Shaliha sedang berjalan kaki pulang bersama.
“Oh iya, kamu sudah ikut lama grup konseling ini Shaliha, tapi selama itu juga, aku belum pernah melihat kamu berbagi cerita.”
“Apakah harus?” tanya Shaliha.
“Tidak juga, tapi dengan berbagi cerita, minimal itu bisa meringankan beban di hatimu.”
“Aku merasa kisahku tidak seberat mereka … aku takut dijudge ….”
“Tidak akan ada yang menjudge kamu. Kita akan selalu mendengarkan, karena kadang sebagai manusia kita hanya ingin curhat, menumpahkan uneg-uneg, didengarkan tanpa dikomentari, dinasehati ataupun dijudge, benar? (Shaliha mengangguk) Kamu sudah mendengar semua cerita mereka, berat tidaknya buat setiap orang berbeda Shaliha, percayalah, di sini tidak akan ada yang menganggap sepele apa pun masalah yang sedang kita hadapi. Kita di sini akan selalu saling mendukung.”
Mereka sampai di depan pagar rumah Shaliha. Jamal menatap Shaliha yang menunduk, berkata, “Ambillah waktu … dan bila kamu sudah siap, kamu boleh bercerita kapan saja … atau kalau kamu ingin private konseling, Dokter Chandra bisa membantumu.”
Shaliha mengangguk pelan.
“Jujur, aku ingin mengenal kamu lebih dekat … bolehkah?” tanya Jamal.
Shaliha mendongakkan kepalanya, menatap Jamal, “Pantaskah aku?”
Jamal mengambil jemari Shaliha dan menggenggamnya erat.
“Jangan berkata begitu … Shaliha, jujur saja, sejak pertama kali melihatmu, aku tidak bisa melupakanmu.”
Shaliha terdiam.