Aku terkejut menatapnya.
“Jangan becanda … kemarin bilang gitu, tapi ternyata cuma telat datang bulan.”
Dia menggeleng lalu menunjukkan sesuatu padaku, “Coba lihat ini.”
Aku mengerutkan kening, “Kenapa memang termometernya?”
Dia mendengus, “Issshhh, ini bukan termometer bodoh, ini tespek … untuk membuktikkan seorang perempuan itu hamil apa tidak.” Aku menilik dan baru menyadari ternyata memang bukan termometer, aku nyengir.
“Trus?” sahutku.
“Kalau stripnya satu, artinya negatif, ga hamil, tapi kalau stripnya dua artinya positif, berarti hamil,” jelasnya. Aku menatap pada testpack itu untuk membuktikkan penjelasannya dan mataku perlahan membesar senang. “Wuaaah, kamu hamil Sayang!!” seruku riang lalu langsung memeluknya meluapkan kebahagiaan.
Dia tertawa. Kami berpelukan dan menari-nari bersama di ruang tamu. “Kamu tahu? Aku akan menjadi seorang ayah!” kataku padanya. “Kan tadi aku udah ngemeng kale …” ucapnya sebal. Aku menepuk jidatku, “Oh iya!” lalu tertawa, dan kembali memeluknya gemas.
“Hmmmpghh, aku ga bisa nafas ini,” katanya sembari menepuk-nepuk bahuku. Aku tak perduli, aku terus saja mendekapnya erat tak ingin melepaskannya.
Sembilan bulan kemudian.
Lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik, anugerah dari Tuhan paling indah yang pernah kami terima. Aku mengecup kening istriku di antara peluhnya yang menetes, mengucapkan terima kasih telah berjuang hebat antara hidup dan mati untuk mempersembahkan makhluk mungil dari surga ini.
Bayi itu diserahkan bidan pada kami dan diletakkan ke dalam pelukan ibunya. Tangisnya memecah bersamaan dengan adzan Subuh. Aku pun mengadzankan dan mengumandangkan iqomah di telinga kanan dan kirinya. Air mataku berlinang, lalu kupeluk mereka berdua penuh cinta.
“Akan kita kasih nama siapa putri cantik kita ini Pah?” tanyanya padaku. Aku menatap wajah oval bayi mungil ini yang sedang terlelap dalam pelukan ibunya.
“Shaliha ….” jawabku yakin.
Dia menatapku lalu menatap bayinya, “Aku setuju, nama yang cantik, Shaliha nama yang tepat untuk bayi kita.”
Kemudian dia mencium pipi Shaliha.
***