Bagaimana Mungkin Aku Tidak Mengingatmu Di Malam Sebagus Ini

ken fauzy
Chapter #18

BAB 18. VONIS YANG MERUBAH SEGALANYA

Rumah menjadi lebih berwarna setelah putri kami lahir.

Aku dan Fadia bahu membahu untuk mengurus si kecil di sela-sela kesibukan kami. Dia telah berhenti dari pekerjaannya dan fokus untuk mengurusi rumah tangga sedang aku masih mengelola usaha yang aku geluti sejak lulus kuliah. Sebuah fase lagi yang harus dilewati oleh manusia dalam kehidupannya. Jatuh cinta, menikah, berumah tangga dan kini memiliki anak.

Tangis dan tawa si kecil membunuh semua rasa penat dan lelah kami. Aku sudah terbiasa bangun tengah malam dengan terhuyung-huyung untuk membuatkan susu, atau untuk mencuci popok, diompoli dan menjerit sakit saat telapak kaki menginjak lego yang berceceran di lantai juga sering aku rasakan. Dia hanya tertawa saja saat melihatku melompat-lompat berjinjit sakit dengan potongan lego menancap di telapak kakiku. Aku hanya bisa meringis, tapi semua aku jalani dengan senang, aku betul-betul menikmati fase ini.

Tahun-tahun terlewati, si kecil semakin besar dan pintar. Hingga pada satu hari di mana hari itu akan menjadi hari paling tak terlupakan yang memukulku.

“Papah … Papah!” Shaliha kecil berteriak seraya lari keluar rumah, aku yang sedang di teras rumah menjadi terkejut.

“Ada apa Sayang?” tanyaku.

“Mamah! Mamah!” teriak Shaliha panik sembari menunjuk ke dalam rumah.

Aku segera bergegas ke dalam. Sesampainya di ruang makan, hatiku tersentak kaget, tampak kotak makan Shaliha untuk bekalnya ke sekolah jatuh berantakan dan aku melihat Fadia sedang kejang-kejang di lantai, matanya mendelik dengan suara merintih dari bibirnya.

“Ya Allah! Kamu kenapa…” jeritku cemas dan langsung menggendongnya membawanya keluar rumah seraya berteriak meminta pertolongan pada tetangga. Tak lama tetangga berdatangan dan membantuku membawa dirinya ke rumah sakit.

Empat jam kemudian di rumah sakit.

Aku dan Fadia tercenung berdua di ruang periksa setelah dokter meninggalkan kami barusan. Aku masih tak bisa berkata-kata, sedang di sebelahku duduk dirinya dengan pandangan matanya yang nanar keluar jendela.

Berkali-kali ia mengusap air matanya yang jatuh. Aku pun masih belum bisa menguasai diriku dan masih tak percaya atas apa yang baru saja dokter voniskan padanya tadi. Berkali-kali aku mengusap wajahku, ingin aku berteriak keras mengeluarkan segala makian dan amarah, tapi tak bisa, aku hanya menahannya hingga membuat dadaku kembang kempis.

Tidak tahu dari mana datangnya, tidak ada tanda-tandanya, tiba-tiba saja itu terjadi.

Dari air matanya yang hanya jatuh tanpa suara kini aku bisa mendengar suara isak dan sesungguknya lalu perlahan menjadi suara tangis yang dalam. Aku menghampirinya menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Dia melepas tangisnya hingga tubuhnya berguncang. Aku bisa merasakan tubuhnya yang dingin bercampur gemetar, aku memberinya kehangatan dan menguatkannya. Tak terasa air mata menetes dari ujung mataku juga.

“Sayang, jangan takut, kita akan menghadapi ini berdua … kita berdua ….” Bisikku menguatkan, ia mengangguk dan semakin keras terdengar tangisannya.

 

***

 

Shaliha berlari cepat melewati bangsal rumah sakit.

Lihat selengkapnya