“Papah memang egois! Papah selalu memikirkan diri Papah sendiri, ga pernah mikirin aku!” seru Shaliha
Papah menatap Shaliha, “Tidak, kamu salah Shaliha.”
Shaliha menggeleng, “Aku salah? Sekarang jadi aku yang salah?? Coba katakan di mana salahnya aku? Aku hanyalah seorang anak yang menginginkan papahnya kembali. Aku seorang anak perempuan yang menunggu Papahnya selama bertahun-tahun untuk bisa mendampinginya di hari pernikahannya! Apakah itu salah?!”
Jamal menarik tangan istrinya, Shaliha menepiskannya, ia masih menyimpan banyak hal yang ingin ditumpahkan.
“Apakah Papah tahu bertahun-tahun aku harus hidup dalam kemarahan dan kesedihan? … Aku yang sekecil itu tidak mengerti apa yang terjadi, tidak mengerti mengapa Tuhan mengambil orang-orang yang aku sayangi? Apakah Papah tahu setiap hari aku harus menjalani hidup dengan menerima semua perkataan orang mengenai Papah? Aku yang sekecil itu dipaksa untuk menerima semua kondisi yang aku tidak inginkan Pah!”
Papah menunduk dan diam.
Jamal memberi kode pada istrinya untuk berhenti tapi lagi-lagi Shaliha tidak menanggapinya.
“Aku menelan semua itu sendirian Pah! Papah tahu bagaimana rasa sakit yang harus aku jalani? Merasakan semua kesunyian dan kesepian itu? Rasanya sama sekali ga enak! Dan aku, aku sendirian Pah!” teriak Shaliha seraya menunjuk-nunjuk dadanya kesal dengan air mata yang menetes.
“Kemana Papah saat itu? Oh iya Papah sedang tenggelam menikmati apa pun yang Papah sedang rasakan itu! … Papah tidak melihat aku! Tidak memikirkan aku!”
“Papah itu terluka … hancur …” ucap papah dengan kepala masih menunduk.
“Kalau itu yang Papah rasakan kenapa tidak kita rasakan bersama? Aku juga kehilangan Pah … aku juga hancur! Kita sama-sama hancur! … Seharusnya Papah meraih aku, merangkul aku! Harusnya Papah menjadi kuat untuk menopang aku! Bukan malah meninggalkan aku, membiarkan aku sendirian!”
Shaliha mengusap air matanya yang terus jatuh dengan dada yang bergemuruh.
Jamal mencoba menengahi dan menenangkan keduanya, “Sudah yuk, kita semua sama-sama tenang, sebaiknya kita semua masuk ke dalam, kita bisa bicarakan ini dengan tenang, ga enak ngobrol di teras sini ….”
“Papah ingin pulang …” kata papah bersikeras.
Shaliha geleng-geleng kesal, “Papah masih juga tak mengerti!”
Jamal menarik lembut tangan istrinya berbisik, “Sudah Sayang, sudah … lihat wajah kamu begitu tegang … nanti mental kamu drop, sebaiknya kamu ke kamar dan menenangkan diri … aku ga mau sepulang sekolah Danish melihat bundanya kusut seperti ini.”