Bagaimana Mungkin Aku Tidak Mengingatmu Di Malam Sebagus Ini

ken fauzy
Chapter #20

BAB 20. SAATNYA TELAH TIBA

Sesaat aku termenung.

Kadang, dalam kesendirian, aku menjadi marah dan mempertanyakan mengapa Tuhan memberikan ujian ini pada kami. Aku tidak bisa melihatnya kesakitan, tiap kali dia sedang merasakannya. Dalam sakitnya dia akan gemetar hebat, dan aku hanya bisa memeluknya tanpa bisa melakukan apa-apa, sedang air mata akan mengalir dari ujung matanya dengan jemarinya mencengkeram kuat punggungku, menandakan sakitnya begitu kuat menghujam kepalanya. Aku memohon pada Tuhan untuk menukar tempatnya dengan diriku, biar aku saja yang merasakannya dan menanggung sakitnya, tapi Tuhan tidak mengabulkan.

Di saat tidurnya, aku selalu duduk di sampingnya, mengusap kepalanya yang sekarang tanpa sehelai rambut itu dan mencium lembut keningnya berkali-kali. Kemudian mengirimkan doa dalam keheningan tengah malam, bersujud dalam air mata yang menitik.

Tiada hari kami lewati tanpa air mata, rasa sakit yang datang menyelang-menyelingi dan pertarungan-pertarungan untuk sembuh. Hanya yang membuatku kuat adalah dirinya yang masih saja bisa tersenyum, tertawa dan bercanda. Keyakinan dan semangatnya tidak pernah luntur.

Bahkan saat aku ikut mencukur licin rambutku untuk mendukungnya, dia malah berkata, “Isssshhh, ngapain sih ikut-ikutan dibotakkin segala …’kan sekarang kita jadi kayak rombongan shaolin temple deh ….” Aku nyengir sambil mengusap-ngusap kepalaku yang plontos.

“Pah, ayo aku siap!”

Suaranya menyadarkan aku dari termenung.

Aku menoleh dan menatapnya. Ia telah berganti pakaian serta memakai kerudung, setelah tadi berkotor-kotor menanam pohon maple. “Ok, ayo kita berangkat,” ucapku bersemangat. “Kita mau kemana Mah?” tanya putri kecil kami. Aku melirik padanya, dia tersenyum. Ini adalah hari pertama Shaliha ikut ke rumah sakit, karena biasanya kami menitipkan Shaliha pada tetangga sebelah rumah.

‘”Kita mau piknik ke rumah sakit,” ucapnya dengan mata berbinar lalu menggendong Shaliha, dan mereka menari-nari sembari melangkah keluar. Ah suka sekali melihatnya, dua bidadariku yang cantik. “Asyik kita piknik!” seru Shaliha riang. Aku hanya tersenyum saja berjalan di belakang mereka berdua.

Kami pun tiba di rumah sakit. Setelah berbincang dengan dokter maka kami berjalan bersama menuju ruang periksa. Kepala Shaliha tak hentinya menengok ke kanan dan ke kiri serta menanyakan hampir semua hal yang dilihatnya.

Di depan ruang periksa, tangannya menggenggam tanganku. Aku menatapnya lekat. Dia tidak minta ditabahkan apalagi dikasihani, tapi aku tahu dia butuh dukungan. Aku tersenyum, mengecup jemarinya, dia membalas tersenyum lalu melangkah masuk ke dalam ruang periksa dengan keyakinan sedang kami menunggu di luar dan hanya bisa menatapnya dari jendela kaca.

Seorang perawat memintanya untuk berbaring, sebelum berbaring ia menempelkan kedua tangan di telinganya lalu menjulurkan lidahnya pada putri kami. Shaliha tertawa dan membalasnya dengan gerakan serupa.

“Mamah mau diapain Pah?” bingung Shaliha seraya menarik-narik tanganku ketika melihat mamahnya berbaring di atas sebuah meja dan meja tersebut berjalan masuk ke dalam sebuah alat berbentuk cekung dengan lampu yang menyala terang bagai neon.

“Mamah mau di foto kopi Nak, jadi nanti kamu bakal punya Mamah yang banyak,” jawabku. Putri kami itu tertawa mendengar jawabanku dan aku ikut tersenyum mendengar tawanya yang lucu meski dengan seribu kesedihan di dalam hatiku.

Lihat selengkapnya