Bagaimana Mungkin Aku Tidak Mengingatmu Di Malam Sebagus Ini

ken fauzy
Chapter #21

BAB 21. UCAPAN SELAMAT TINGGAL YANG TAK TERDENGAR

Pintu tol Pasteur sudah dilewati, mobil telah masuk di kota Bandung.

“Mas, bisa kita berhenti dulu ke pinggir?” pinta Shaliha.

Jamal sedikit terkejut melihat wajah istrinya yang tampak sedikit pucat, ia memenuhi permintaan istrinya itu. Mobil berhenti di pinggir jalan yang aman. “Kamu ga apa-apa?” tanya Jamal.

Shaliha tak menjawab, ia membuka pintu mobil dan keluar. Jamal ikut turun dengan menggendong Danish. Danish terbangun dalam gendongan ayahnya. “Kita sudah sampai Yah?” tanyanya. “Belum Sayang, kita berenti dulu sebentar, istirahat ya,” jawab Jamal. Danish mengangguk dan melanjutkan tidurnya lagi di bahu ayahnya.

Jamal mendekati Shaliha.

“Maaf Mas, tiba-tiba aku merasa sesak dan pengap, seperti ada tembok yang menghimpitku dari kiri kananku,” ungkap Shaliha mondar mandir.

“Ga apa-apa Sayang … tenangkan dirimu dulu … take your time … kita santai kok,” senyum Jamal. Shaliha mengangguk, lalu menarik dan menghela nafasnya. Beberapa pengendara motor yang lewat berhenti dan menanyakan apakah mobil mereka mogok sehingga perlu dibantu, Jamal tersenyum mengucapkan terima kasih dan menjelaskan, bahwa mereka sedang berisitirahat, maka para pengendara motor itu berlalu lagi.

Bayangan masa lalu yang meninggalkan kesedihan bisa datang dalam bentuk tekanan berat yang membuat tubuh kita serasa terjepit dan tak berdaya. Mengisap udara sampai habis, membuat paru-paru menjadi mengembang mengempis dengan cepat. Rasa takut bisa muncul seiring hati menyelesak hingga tenggorokan. 

Shaliha menatap langit biru untuk menenangkan dirinya dari semua itu. Langit bersih tanpa awan berarak. Begitu biru seperti lautan tenang yang berada di angkasa. Shaliha memejamkan mata, bermeditasi mencoba menenangkan pikirannya. Jamal meninggalkan istrinya dan menunggu di mobil.

 “Mamah sayang kamu Nak …”

Samar terdengar gema suara itu di gendang telinganya, memantul dari langit yang biru. Lamat-lamat suara itu semakin terdengar jelas di telinganya, suara dari masa lalu, dalam pikiran yang masih membekas dan diingat Shaliha.

Masa silam itu membayang lagi.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Mamah sayang kamu Nak, kamu sudah besar sekarang … seperti baru kemarin Mamah timang-timang kamu,” bisiknya di telinga putrinya yang terpejam di atas tempat tidur.

“Waktu berlalu begitu cepat … Nak, Mamah masih mau melihat kamu besar … melihat kamu jatuh cinta, mendengar kamu bercerita tentang cinta pertamamu … Mamah ingin menemanimu berjalan ke sekolah dan mengajarimu bagaimana caranya menghadapi datang bulan pertama … karena papahmu pasti ga akan mengerti soal hal-hal begini ….”

Suara mamah bergetar, dia mengusap kepala putrinya.

Lihat selengkapnya