Bagaimana Mungkin Aku Tidak Mengingatmu Di Malam Sebagus Ini

ken fauzy
Chapter #23

BAB 23. PERPISAHAN YANG MENYAKITKAN

Langit berwarna abu-abu hari itu.

Satu burung terbang sendirian, melayang entah kemana, berputar-putar tanpa arah tujuan. Angin bertiup pelan menerbangkan daun-daun maple yang berjatuhan, warnanya merah oranye kecoklatan. Aku menatap halaman belakang yang sunyi. Semua gambaran tentangnya berkelebatan melompat-lompat dalam otakku.

Wajahnya, senyumnya, tawanya, kebiasaannya dan semua sentuhan yang pernah aku rasakan membayang seakan dia masih berdiri di hadapanku. Aku mencoba meraihnya ke dalam pelukanku tapi hanya ada ruang kosong yang hampa.  

Sakit rasanya ketika hati masih dipenuhi cinta serta harapan untuk hidup menua bersama tiba-tiba lenyap dalam semalam. Menyisakan lubang besar menganga yang siap menelan, sedang aku berdiri di tepiannya.

Tubuhku bergetar hebat saat udara yang aku hirup begitu menyelesak dan menusuk jantung dengan kesedihan. Aku menutupi mulutku dengan kedua tanganku, aku tekan sekuat tenaga agar teriakanku tidak terdengar memecah sepi. Gemuruh detak jantung memukul-mukul sembilu. Bulir-bulir air meleleh begitu saja mengaliri pipi. Tak bisa berhenti, tak terkendali. Tinjuku yang marah memukul-mukul dinding dan berdarah, aku terus disayat isak sedih.

Aku tak percaya, petarung hebat itu telah pergi untuk selamanya, meninggalkan aku dan putri kecil kami yang tidak tahu harus bagaimana untuk melanjutkan hidup tanpa kehadirannya. Hatiku hancur, aku memandang buram semua hal.

Aku tidak melihat masa depan tanpanya, semua kehilangan warnanya.

Di mataku semua menjadi abu-abu dan suram.

Semua ruangan di rumah ini diam. Kamar, dapur, bunga, pohon maple dan halaman belakang menjadi hening. Aku terduduk di sudut dapur, memeluk lutut dan membenamkan kepalaku. Aku melenguh sedih yang panjang dan air mata ini terus saja jatuh.

Sejak hari itu, aku kehilangan semuanya.

Istriku, jiwaku dan putri kecilku. Aku jatuh ke dalam lubang yang menganga dalam dan tak bisa keluar. Terjebak dalam kegelapan, mencari setitik cahaya yang timbul tenggelam di ujung sana. Bertahun-tahun aku berada dalam kukungan kesedihan dan kecewa berat. Tekanan itu mematikan otak dan memutuskan diriku dari dunia luar. Seperti saklar lampu yang ditekan padam, maka gelaplah semua ruangan pikiranku.

Saat-saat putri kecilku datang menjengukku, aku hanya bisa melihatnya dalam diam. Aku mengenalinya. Hatiku menjerit merindukannya ingin memeluknya tapi aku masih berada dalam dasar lubang yang tepiannya tak bisa aku jangkau. Aku melihatnya seperti berjarak jauh, memanggilnya tapi gema namanya hanya memantul kembali menelanku. Terkadang itu membuatku frustasi, mendorong kemarahan besar untuk keluar. Aku melawannya, aku ingin lepas dari kukungan, aku ingin hadir untuk putri kecilku, tapi seluruh jiwaku lumpuh, aku menjadi tawanan dalam keputusaasaanku sendiri.

Menjadi gila dalam pikiranku sendiri.

Dan saat putriku tak datang menjenguk, aku begitu merasa sunyi. Aku menunggu-nunggunya di tempat yang sama, di pojok yang sama, takut-takut dia lupa, tapi lama dia tak datang-datang. Aku tak bisa menyalahkannya. Aku hanya bisa terdiam tak berdaya.

Lihat selengkapnya