Bagaimana Mungkin Aku Tidak Mengingatmu Di Malam Sebagus Ini

ken fauzy
Chapter #24

BAB 24. BAGAIMANA MUNGKIN AKU TIDAK MENGINGATMU DI MALAM SEBAGUS INI

Malam bergemerlap bintang.

Gili mendongak pada langit dan tersenyum. Ia mengeluarkan gulungan rumput sintetis dan menggelarnya di halaman belakang. Secangkir wedang jahe telah diletakkan di sampingnya, kemudian pelan-pelan ia berbaring. Tubuhnya terlentang menghadap langit dan wajahnya berseri menatap malam yang bagus ini. Tangannya menggengam kotak beludru merah itu di dadanya. Ia menarik dan menghembus nafasnya, santai, menikmati suasananya. Angin meniup pelan rambut putihnya.

“Sayang, lihat, bagaimana mungkin aku tidak mengingatmu di malam sebagus ini,” ucapnya pelan seraya menatap langit berbintang.

Ada bintang yang berkerlip paling terang saat Gili menatapnya.

“Bintang itu sudah tidak tersesat lagi Sayang, dia sudah menemukan jalan pulang.”

Bila rindu itu datang, maka di sinilah ia melepas rindu. Berbaring di atas rumput menatap langit malam seakan Fadia ada berbaring di sampingnya. “Lihat Sayang, malam ini langit sedang berbintang, kadang rasinya membentuk siluet wajahmu … atau aku salah lihat karena mataku yang telah rabun? Ah mata tua ini terkadang menipu tapi biarlah yang jelas aku merindukanmu …” ucap Gili pada langit malam lalu melirik pada bayang-bayang Fadia yang tersenyum di sampingnya.

“Cap cip cup kembang kuncup,” ujar Fadia seraya tangannya menunjuk-nunjuk pada bintang di langit sana, “nah aku dapat bintang yang itu.” Tunjuknya pada sebuah bintang yang berkerlip sendiri jauh dari bintang-bintang lainnya. “Kamu mau bintang yang mana Pah?” tanyanya. “Cap cip cup kembang kuncup,” Gili mengikuti sambil menunjuk. “Tuh aku dapat bintang yang itu, wah jaraknya jauh dengan bintang kamu ya.”

Fadia tersenyum. “Tidak ada yang abadi ya Pah, kita yang tidak mau terpisahkan, seperti sepasang kaki yang berjalan seiring sejalan, pada kenyataannya harus berjarak juga.”

“Apa maksudmu?” Gili tak mengerti.

Fadia meghembuskan nafasnya. “Kalau aku harus pergi lebih dulu, aku harap kamu menjaga Shaliha dengan sebaik-baiknya." Gili menggeleng, “Tidak, tidak … aku tidak pernah berpikir kamu akan pergi … Sayang, kamu akan sembuh, kita akan membesarkan Shaliha bersama-sama.”

“Sayang, kita sudah pernah membicarakan hal ini bukan?”

Gili berdecak sebal, “Aku benci topik ini.”

“Waktunya tidak tahu kapan, tapi kamu harus bersiap.”

“Bisakah kita membahas hal lain? Tentang masa depan yang indah misalnya?”

Fadia tertawa. “Selalu saja kamu menghindari topik ini, baiklah … Sayang aku yakin, kamu dan Shaliha nanti pasti akan baik-baik saja.”

Gili menatap Fadia yang sedang menatapnya juga.

“Situasi apa pun yang tidak melibatkanmu, itu tidak akan baik-baik saja,” tegas Gili.

Lihat selengkapnya