BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #1

Chapter #1


Ujung hak sepatu Valine menemukan punggung sepatu Reza tepat ketika penghulu meraih tangannya.

Tekanannya mula-mula ringan—nyaris seperti sentuhan yang tidak disengaja. Lalu tumit itu menghunjam perlahan, mencari bagian paling lunak di balik kulit sepatu Reza.

Reza menarik napas melalui hidung. Wajahnya tetap tenang.

Di atas meja akad, taplak putih berenda, buku nikah, dan rangkaian melati menyusun gambaran tentang dua orang yang hendak memulai hidup baru. Di bawahnya, calon istrinya sedang berusaha melumpuhkan kaki kanannya.

"Kalau setelah penghulu bilang sah kamu mendadak lupa soal bagi dua," bisik Valine tanpa mengubah senyum, "malam ini juga pabrik kakekmu aku bakar."

Reza memandang lurus ke depan. "Pabriknya saja?"

Tekanan di punggung kakinya bertambah.

"Pendopo ini sekalian."

"Sayang sekali. Kayu jatinya tua."

"Reza."

"Baik."

Baru setelah itu Valine berpura-pura merapikan kerah beskap putihnya. Wajah perempuan itu hanya berjarak beberapa senti dari wajah Reza, cukup dekat untuk membuat para tamu mengira mereka sedang berbagi kalimat mesra. Reza justru menurunkan pandangan ke serat kayu meja.

Tiga tahun berlalu, dan ia masih belum sanggup menatap mata Valine lebih dari satu detik.

Pendopo peninggalan Aki Warso, kakek Reza, dipenuhi warga selepas salat asar. Janur kuning melengkung di antara tiang-tiang kayu. Udara Ciamis yang baru diguyur hujan membawa aroma tanah basah, melati, dan samar asap kayu dari tungku pabrik di belakang rumah.

Di barisan samping, dua perempuan tua berbisik tanpa benar-benar mengecilkan suara.

"Cantik sekali Neng Pelin."

"Dari dulu Aki Warso memang sudah menyayanginya."

Valine membalas pujian itu dengan senyum yang manis dan sempurna. Hanya Reza yang tahu senyum tersebut sedang menyembunyikan ancaman pembakaran aset keluarga.

Beberapa meter di belakang para saksi, Paman Darman duduk dengan kedua tangan bertumpu di atas tongkat payungnya. Tatapannya tidak pernah lepas dari mereka.

"Senyum sedikit lebih tulus," gumam Reza.

"Aku sedang tersenyum."

"Paman Darman belum percaya."

Valine memperlebar senyumnya ke arah para tamu. Hak sepatunya menekan sekali lagi sebagai jawaban.

Penghulu berdeham. Percakapan di pendopo padam sedikit demi sedikit, menyisakan desir daun aren dan bunyi air menetes dari ujung atap.

"Saudara Reza Mahendra bin almarhum Hendra."

Valine menarik kakinya.

Reza mengangkat kepala. Tangan penghulu telah menunggunya di atas meja.

"Sudah siap mengucapkan ijab kabul?"

Reza sempat melihat bahu Valine menegang. Perempuan itu menatap lurus ke depan, seolah-olah lelaki di sampingnya hanyalah bagian lain dari upacara yang harus diselesaikan.

Lihat selengkapnya