Selepas pukul sepuluh malam, sisa gerimis membuat Jalan Braga seperti menyimpan cahaya di atas aspal dan trotoarnya.
Angin menyusuri deretan fasad tua, menyelinap di bawah kanopi tinggi, lalu menggoyangkan pantulan papan-papan kafe di genangan air. Orang-orang masih berlalu-lalang dalam kelompok kecil. Di antara mereka, Reza berjalan seorang diri dengan ransel kanvas menggantung di pundak kiri dan ujung celana yang mulai basah oleh cipratan jalan.
Ia tiba di Bandung menjelang tengah hari dengan petunjuk yang bahkan belum layak disebut alamat.
Farhan hanya berhasil menghubungkannya dengan Aneta, teman satu angkatan Valine di jurusannya. Perempuan itu pernah bertemu Valine sekitar tiga bulan lalu di Braga, tetapi tidak memiliki nomor telepon ataupun alamat tempat tinggalnya yang baru. Satu-satunya yang dapat ia kirimkan kepada Reza adalah foto mereka di depan sebuah pintu kaca patri gelap.
Foto itu tidak menyimpan nama tempat. Hanya ada potongan kanopi, pantulan lampu tembaga, dan ujung papan penunjuk jalan yang terpotong bingkai.
Sejak turun dari kereta, Reza menyisir kawasan Asia Afrika hingga bagian selatan Braga sambil mencocokkan foto tersebut dengan pintu-pintu yang ditemuinya. Di kedai kopi ketiga, seorang barista mengenali kaca patri itu dan menunjuk ke sebuah bar di blok barat. Menurutnya, perempuan dalam foto tersebut sesekali datang menjelang malam.
Itu bukan kepastian. Namun setelah berjam-jam berjalan tanpa hasil, Reza tidak memiliki petunjuk lain.
Tangannya menyentuh sisi ransel. Salinan Instruksi I berada di dalamnya, terselip bersama selembar catatan yang ia susun di perjalanan. Tiga poin memenuhi kertas itu: nama Valine tidak dapat diganti; Valine berhak menolak tanpa sanksi; dan Reza akan pergi apabila, setelah membaca surat tersebut, Valine tetap tidak menginginkannya di sana.
Reza telah menyusun ketiganya serapi catatan kerja. Seolah-olah masa lalu dapat dihadapi dengan daftar yang tertib.
Padahal bagian terbesar dari kekacauan mereka justru tidak tertulis di sana.
Satu hari sudah habis dari batas tiga puluh hari. Jika Instruksi I gagal dipenuhi, Reza kehilangan mandat atas Kawung Sari. Setelah itu, nasib blok barat dapat jatuh kepada orang-orang yang memandang enam belas keluarga penderes sebagai angka yang mudah dipindahkan dari satu kolom ke kolom lain.
Namun untuk menyelamatkan mereka, Reza harus melanggar kalimat terakhir yang pernah diberikan Valine kepadanya.
Jangan pernah cari aku lagi seumur hidupmu, Reza.
Langkahnya berhenti di depan pintu kaca patri yang sama seperti di dalam foto.
Reza berdiri beberapa saat di bawah kanopi. Kemudian ia menarik napas dan mendorong pintu.
Tirai beludru hitam memisahkan ruang depan dari ruangan utama. Di baliknya, musik elektronik bertempo lambat berdentum rendah, cukup kuat untuk terasa di tulang dada tetapi tidak sampai menenggelamkan percakapan. Udara hangat membawa campuran aroma tembakau manis, kulit sofa, dan parfum vanila.
Meja-meja marmer bundar tersebar di antara sofa berwarna marun. Cahaya lampu tembaga jatuh hanya pada bagian-bagian tertentu, membiarkan wajah para pengunjung muncul dan tenggelam dalam bayang-bayang.
Reza baru melangkah dua kali ketika pandangannya berhenti di sudut paling dalam.
Valine Maheswari duduk di sana.
Tubuh Reza seolah lupa cara bergerak.
Rambut hitam Valine yang dahulu panjang dan hampir selalu diikat kini jatuh sebahu dalam gelombang rapi. Ia mengenakan gaun satin hitam tanpa lengan. Riasan gelap membingkai matanya, sementara warna merah anggur pada bibirnya membuat senyum kecil yang ia berikan kepada lawan bicara tampak semakin terukur.
Valine tidak pernah menjadi perempuan yang mudah diduga. Reza pernah melihatnya tertawa paling keras di warung dekat kampusnya, lalu membekukan satu ruangan hanya karena menemukan selisih seribu rupiah dalam laporan kegiatan. Ia dapat berubah dari jenaka menjadi dingin dalam satu tarikan napas jika seseorang meremehkan kecerdasannya.
Kota ini tidak menciptakan sisi tersebut. Bandung hanya memberinya kemasan yang lebih kosmopolitan: potongan rambut yang presisi, gaun mahal, dan ketenangan seseorang yang tahu kapan seluruh mata sedang tertuju kepadanya.
Di hadapan Valine tersaji segelas koktail bertangkai tipis. Di sampingnya duduk seorang pria yang tampaknya berusia akhir dua puluhan, mengenakan kemeja linen putih dengan jam tangan baja. Sebuah kunci sedan abu-abu terletak di antara jemarinya.
Pria itu mendorong kunci tersebut melintasi meja.
"Bawa mobilnya malam ini, Val. Besok sopirku yang mengambil kalau kamu tidak sempat mengembalikannya."
Valine memandangi kunci itu sesaat sebelum menariknya mendekat dengan ujung jari.
"Sopirmu pasti senang sekali diberi tugas membereskan kemurahan hati atasannya."
Pria itu terkekeh. "Kamu selalu punya cara aneh untuk bilang terima kasih."
"Aku belum berterima kasih." Valine memutar kunci itu satu kali di atas marmer. "Soal dana talangan yang kemarin kita bicarakan—jadi masuk minggu ini?"
"Sudah kuurus sore tadi." Pria itu mengambil gelasnya. "Besok pagi seharusnya sudah masuk. Tapi sesekali, jangan hanya meneleponku setelah bank meneleponmu."