BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #3

Chapter #3

Kafe dua puluh empat jam di sudut Jalan Braga itu hampir kosong menjelang tengah malam.

Di luar jendela berbingkai kayu, sisa gerimis membiaskan cahaya lampu menjadi garis-garis pucat di atas trotoar. Di dalam, hanya dengung pendingin udara dan denting sendok dari meja barista yang sesekali mengusik kesunyian.

Reza dan Valine duduk berhadapan di meja bundar yang sama dengan tempat Reza menunggu tadi.

Dua cangkir berada di antara mereka. Kopi tubruk hitam untuk Reza. Teh panas untuk Valine, masih mengepulkan uap tetapi belum disentuh.

Valine tidak melepaskan mantel wol abu-abunya. Ia duduk dengan punggung tegak dan kedua lengan bersilang, seolah-olah jarak selebar meja itu masih belum cukup aman. Kunci sedan pemberian Rio tergeletak di dekat siku kirinya.

Tanpa berkata apa-apa, Valine mengeluarkan ponsel, membuka penghitung waktu mundur, lalu menyetel lima menit. Ponsel itu diletakkannya tepat di tengah meja.

Angka di layar berubah dari 05.00 menjadi 04.59.

"Tiga ratus detik," katanya. "Waktumu mulai sekarang."

Reza membuka ransel dan mengeluarkan map cokelat berisi salinan resmi Instruksi I. Ia mendorongnya ke seberang meja, lalu menarik tangannya kembali.

Valine tidak segera menyentuh map tersebut. Kuku telunjuknya mengetuk marmer dua kali sebelum akhirnya membuka sampulnya.

Matanya bergerak cepat menyusuri kop kantor Notaris R. Soedirja, tanggal, tanda tangan, dan cap yang tercetak pada halaman terakhir. Kemudian gerakannya terhenti pada namanya sendiri.

Saudari Valine Maheswari.

Ia membaca kalimat sebelum dan sesudahnya. Sekali. Lalu mengulanginya lebih lambat.

Dalam waktu paling lambat tiga puluh hari kalender sejak instruksi ini dibacakan, Saudara Reza Mahendra wajib melangsungkan perkawinan yang sah secara hukum negara dan agama dengan Saudari Valine Maheswari, atas persetujuan bebas kedua belah pihak.

Di paragraf berikutnya tercantum kewajiban mempertahankan domisili rumah tangga bersama di Kawung Sari selama sembilan puluh hari berturut-turut. Lebih bawah lagi, kegagalan memenuhi ketentuan itu akan mengakhiri mandat Reza dan menempatkan Darman Mahendra sebagai kandidat utama pengelola interim sampai pelaksana wasiat menetapkan tahap berikutnya.

Uap dari teh Valine terus menipis.

Penghitung waktu menunjukkan 04.12 ketika ia mengangkat wajah.

"Kenapa namaku ada di instruksi kakekmu?"

Tidak ada nada tinggi dalam pertanyaan itu. Justru ketenangannya membuat Reza semakin sulit mengangkat pandangan.

"Aki menyusunnya pertengahan tahun 2023," jawabnya. "Waktu itu kita masih bersama. Kita juga masih membicarakan rencana setelah lulus."

"Lalu setelah kita putus?"

Reza menatap permukaan kopinya. "Aku tidak pernah memberi tahu Aki."

Valine tidak bergerak. "Sama sekali?"

"Tidak."

"Selama tiga tahun?"

Reza mengangguk sekali.

"Setiap Aki bertanya tentangmu, aku selalu menunda."

"Menunda apa?"

"Mengatakan yang sebenarnya." Reza merapatkan kedua telapak tangannya di pangkuan. "Aku bilang kamu sedang sibuk. Pekerjaanmu banyak. Kamu belum sempat pulang."

Sudut bibir Valine terangkat, tetapi tidak ada senyum di sana.

"Jadi kamu berbohong."

"Iya."

"Bukan cuma kepadaku. Kepada keluargamu juga."

Lihat selengkapnya