Kamar studio sewaan di kawasan Tubagus Ismail itu sunyi ketika Valine mengunci pintu dari dalam.
Pukul dua dini hari. Sisa gerimis mengetuk atap seng di luar jendela, berulang-ulang dalam irama yang membuat ruangan sempit tersebut terasa semakin dingin. Valine menyandarkan punggung ke daun pintu dan memejamkan mata.
Wajah Reza tetap muncul di balik kelopak matanya—tertunduk di seberang meja, diam ketika diminta membantah, persis seperti tiga tahun lalu.
Valine membuka mata sebelum ingatan itu sempat bergerak lebih jauh.
Ia melepaskan sepatu haknya di dekat pintu, meletakkan kunci sedan Rio di atas meja, lalu menjatuhkan tas ke kasur busa yang digelar di lantai. Ruangan tersebut hanya memuat satu lemari dua pintu, meja kerja, rak buku, dan lorong sempit menuju kamar mandi. Setiap benda berada di tempat yang sudah ditentukan, seolah-olah kerapian dapat membuat hidupnya tampak tidak sedang runtuh.
Di depan wastafel, Valine menyalakan lampu kecil di atas cermin. Retakan pada sudut kanan kaca membelah pantulan dahinya menjadi dua.
Ia menuangkan cairan pembersih ke kapas dan menghapus riasan matanya. Warna merah anggur pada bibirnya ikut lenyap, meninggalkan kulit yang pucat dan kering.
Perempuan yang duduk di bar Braga tadi malam bukan tokoh palsu yang ia pinjam. Valine memang menyukai gaun bagus, musik keras, dan kesenangan membuat orang lain keliru menebaknya. Sisi itu sudah ada jauh sebelum ia pindah ke Bandung. Kota ini hanya mengajarinya cara membungkus kegelisahan sampai terlihat seperti ketenangan.
Yang palsu tadi malam hanyalah kesan bahwa ia tidak sedang terdesak.
Valine kembali ke meja kerja. Di antara buku standar akuntansi, kalkulator finansial, dan laptop tua, sebuah amplop berkop bank BUMN menunggu dalam keadaan terbuka.
Ia menarik keluar surat yang sudah dibacanya berkali-kali.
SURAT PERINGATAN KEDUA (SP-2)
Di bawah judul itu, tiga baris telah diberi tanda dengan pena hitam:
Objek agunan: rumah tinggal di Tebet, Jakarta Selatan.
Sisa pokok kewajiban kredit: Rp420.000.000.
Jumlah penyelesaian awal agar permohonan restrukturisasi dapat diproses dan tahapan lelang ditangguhkan: Rp65.000.000.
Valine menahan ujung surat agar kertasnya berhenti bergetar.
Menjual rumah itu secara sukarela merupakan jawaban paling bersih di atas kertas. Hasil penjualan dapat melunasi utang, menutup biaya, dan mungkin masih menyisakan sedikit uang. Ia sudah membuat perhitungannya berbulan-bulan lalu.
Namun rumah itu masih menyimpan kamar ibunya seperti keadaan sebelum beliau meninggal hampir tiga tahun silam: lemari kayu dengan gagang yang longgar, tirai biru yang selalu dibuka setengah, dan meja rias yang salah satu kakinya diganjal lipatan karton. Setiap kali formulir menanyakan alamat keluarga, alamat itulah yang masih ditulis Valine.
Angka dapat menjelaskan nilai jual rumah tersebut. Tidak ada angka yang dapat menjelaskan mengapa ia belum sanggup menyerahkannya kepada orang asing.
Valine membuka aplikasi perbankan di ponsel.
Saldo rekening utama: Rp33.600.000.
Ia menekan beberapa angka pada kalkulator.
Jika tiga puluh tiga juta digunakan untuk bank, ia hanya menyisakan enam ratus ribu rupiah untuk sewa kamar, makan, dan ongkos kerja. Bahkan dengan keputusan senekat itu, jumlah yang belum terpenuhi tetap tepat tiga puluh dua juta rupiah.
Valine menulis di tepi surat:
Kekurangan minimum: Rp32.000.000.
Kemudian ia memandang kunci sedan di samping amplop.
Di atas meja itu tergeletak dua jenis bantuan. Yang satu menyebutkan harganya dengan angka. Yang lain menunggu sampai Valine cukup bergantung sebelum menyebutkan harga sebenarnya.
***
Pukul sepuluh pagi, dana yang dijanjikan Rio belum masuk.
Valine duduk di tepi kasur dengan ponsel di tangan. Ia sudah memeriksa rekeningnya empat kali dan tidak menemukan transaksi tertunda ataupun pemberitahuan dari bank.
Pada pemeriksaan kelima, ia menutup aplikasi perbankan lalu menekan nama Rio.
Panggilan tersambung pada dering ketiga.
"Pagi, Val." Suara Rio terdengar tenang, seakan-akan percakapan mereka tadi malam tidak meninggalkan urusan apa pun. "Tumben menelepon sepagi ini."
"Dana talangan yang kamu bilang sudah diurus belum masuk."
"Langsung ke inti." Rio tertawa kecil. "Kamu bahkan tidak bertanya aku sudah sarapan atau belum."
"Sudah?"
"Sudah."
"Bagus. Sekarang jawab pertanyaanku."
Ada jeda pendek. Valine mendengar ujung pena mengetuk permukaan meja di seberang sambungan.
"Aku belum melepaskan transfernya," kata Rio akhirnya.
Jemari Valine mengencang di sekeliling ponsel. "Semalam kamu bilang sudah mengurusnya."
"Dan memang sudah. Tinggal satu persetujuan dariku." Nada suara Rio tetap ramah. "Akhir pekan ini aku ada pertemuan bisnis di Bali. Empat hari saja. Ada dua jamuan makan malam dan beberapa acara dengan calon mitra. Aku ingin kamu ikut."