BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #5

Chapter #5


Jarum jam dinding kayu jati di dinding pendopo berdetik lambat dan berat: Tik... tok... tik... tok...

Pukul setengah dua belas siang. Terik matahari menyengat pekarangan tanah liat yang mulai mengering di luar pendopo. Udara di dalam balai terasa hening, pengap, dan sarat ketegangan.

Di atas meja jati panjang, Notaris R. Soedirja meletakkan dua rangkap berkas: draf berita acara pengalihan mandat pengelolaan sementara UD Kawung Sari karena ketidakpastian kehadiran calon pendamping.

Paman Darman duduk tegak di sisi kanan meja mengenakan kemeja batik rapi. Di samping sikunya, map kulit hitam berisi proposal kerja sama dengan investor dari Bandung sudah terbentang siap.

Uwa Sukarna duduk bertumpu pada tongkat kayu jatinya. Sorot mata tuanya terus menatap cemas ke arah pintu gerbang regol pekarangan.

Reza duduk di sisi kiri meja. Punggungnya tegak, namun kedua tangannya mengepal kaku di atas lutut celana kerjanya.

Sejak kepulangannya dari Bandung tiga hari lalu, Reza berada di ujung tanduk. Valine menolak tawarannya mentah-mentah di kafe Jalan Braga dan membanting berkas wasiat ke dadanya.

Bagi Reza, yang paling menyiksa saat ini bukanlah rasa malu karena kebohongannya akan terbongkar di hadapan keluarga besar, melainkan nasib enam belas keluarga penderes di blok barat. Tanpa kepastian kehadiran Valine, mandat kelola sementara berada dalam ancaman serius, dan Darman telah menyiapkan langkah untuk mengambil alih kemudi pabrik.

Paman Darman melirik jam tangannya, lalu berbicara kepada Notaris Soedirja dengan intonasi yang sangat tenang dan teratur.

"Wasiat almarhum memberi waktu tiga puluh hari kalender, saya tahu," ujar Darman dengan nada santun namun menekan secara rasional. "Tetapi roda pabrik tidak bisa berjalan dalam ketidakpastian manajemen tanpa kejelasan status calon pendamping. Pembayaran nira para penderes jatuh tempo setiap hari Sabtu besok. Kayu bakar untuk tungku kawah harus segera dibeli sebelum stok di gudang habis."

Darman menatap Uwa Sukarna dengan hormat. "Saya membawa proposal investor bukan untuk mendahului kehendak almarhum, Uwa. Tetapi jika Reza tidak memiliki kepastian membawa calon pendamping yang disyaratkan wasiat, kita butuh mekanisme transisi agar operasional pabrik tidak lumpuh."

Notaris Soedirja membetulkan letak kacamatanya, mengangguk pelan. "Secara hukum, hak kelola sementara Saudara Reza masih aktif hingga batas waktu tiga puluh hari. Namun pengawas estate memang membutuhkan kepastian kesediaan pihak yang disebutkan dalam Instruksi Pertama untuk melanjutkan proses verifikasi."

Uwa Sukarna menghela napas panjang dan berat. Kerutan di dahi tuanya semakin dalam saat ia menoleh menatap Reza.

"Reza... Neng Pelin beneran tidak ada kabar?" tanya Uwa lirih.

Reza menatap jam dinding kayu jati, lalu menatap map proposal investor milik Darman.

Lidahnya kelu. Kebohongan pasif yang ia pertahankan selama tiga tahun di hadapan keluarga akhirnya menabrak dinding buntu.

Reza menarik napas berat, menatap wajah tua Uwa Sukarna dengan rasa bersalah yang menggunung di dadanya.

"Wa... soal Valine, sebenarnya—"

Belum sempat kalimat kepasrahan itu tuntas terucap dari bibir Reza, jam dinding kayu pendopo berdentang satu kali. Pukul 11.45 WIB.

DENG!

Di luar regol, deru mesin mobil travel terdengar menjauh menuruni bukit.

Lalu, di atas jalan setapak kerikil pekarangan joglo, terdengar bunyi ketukan tumit sepatu yang pelan, berat, dan teratur:

Tuk... tuk... tuk...

Seluruh pasang mata di meja pendopo menoleh serentak ke arah regol.

Sosok seorang perempuan melangkah melewati ambang pintu gerbang kayu jati.

Bukan seperti model kota yang turun dari panggung peragaan, melainkan potret nyata seseorang yang baru saja melewati perjalanan darat melelahkan: kemeja putih katunnya sedikit kusut di bagian siku, salah satu roda koper kabin hitam yang ia seret berlumur tanah merah basah, dan ada noda debu jalanan di ujung celana panjang hitamnya. Di kakinya, sepasang sepatu hak tinggi membuatnya tampak tersiksa melangkah di atas batu kerikil pegunungan.

Namun cara Valine Maheswari melangkah dan menegakkan dagunya tetap memancarkan aura seorang perempuan yang tidak berniat menyerahkan kendali hidupnya kepada siapa pun.

Valine menaiki undakan pendopo. Begitu melihat Uwa Sukarna berdiri dengan bantuan tongkat kayunya, raut letih di wajah Valine seketika berganti menjadi senyuman santun dan bersahaja.

Lihat selengkapnya