BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #6

Chapter #6

Dua puluh satu hari telah berlalu sejak Valine Maheswari pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Ciamis.

Dan pagi ini, lembaran coretan tangan yang disodorkan Valine di hari kedatangannya telah bermutasi menjadi dua rangkap dokumen resmi yang diketik rapi di atas meja jati kamar belakang joglo. Sinar matahari pagi menembus kisi-kisi jendela kayu, menerangi dua cangkir teh tawar hangat yang masih mengepul.

Di luar kamar, suara ketukan palu dan gelak tawa warga desa yang memasang tratag tenda di halaman depan terdengar bersemangat. Tetapi di dalam ruangan sempit itu, suasana hening, dingin, dan kaku.

Di atas meja, Valine membentangkan dua rangkap dokumen bermeterai sepuluh ribu tersebut:

SURAT PERJANJIAN KERJA SAMA EKONOMI DAN BATAS PRIVAT

1. Pihak Pertama (Valine Maheswari) bersedia memenuhi syarat administratif dan tinggal selama 90 (sembilan puluh) hari kalender di Desa Kawung Sari sesuai ketentuan estate almarhum Aki Warso.

2. Pihak Kedua (Reza Mahendra) mengikatkan diri secara mutlak untuk membagi lima puluh persen (50 %) dari seluruh manfaat ekonomi pribadi yang secara sah diterima Reza Mahendra dari penyelesaian estate Aki Warso setelah proses estate selesai.

3. Perjanjian ini tidak dapat ditafsirkan sebagai persetujuan atas kontak fisik, hubungan seksual, atau bentuk kedekatan personal lainnya. Setiap kontak tersebut hanya dapat berlangsung berdasarkan persetujuan bebas kedua pihak pada saat tindakan dilakukan.

4. Setelah masa sembilan puluh hari berakhir dan pembagian manfaat ekonomi selesai, masing-masing pihak mempunyai kebebasan penuh untuk menentukan apakah perkawinan dilanjutkan atau diakhiri, tanpa tuntutan ekonomi tambahan di luar perjanjian ini.

Reza selesai membaca baris terakhir.

"Ada pasal yang kamu keberatan?" Valine menatapnya dengan dagu terangkat, waspada.

"Aku setuju," Reza meraih bolpoin hitam di samping lembaran meterai, menjawab tenang.

"Kamu tidak mau baca ulang?" Valine mengerutkan dahi, menatap Reza penuh selidik.

"tidak," jawab Reza singkat.

Valine terdiam sesaat—curiga mengapa pemuda itu begitu mudah menyerahkan separuh hak ekonominya tanpa perlawanan. Namun ia menepis keraguan itu, mengambil bolpoin, dan menandatangani rangkaian dokumen dengan goresan lancip melintasi meterai.

Reza menandatangani kedua rangkap dokumen tersebut dengan goresan mantap.

"Satu untukmu, satu untukku," gumam Valine dingin. "Sekarang... kita boleh menikah."

Satu jam kemudian, pendopo utama joglo dipenuhi aroma ronce melati segar, daun pandan, dan semerbak wajan dodol wajit. Janur kuning melengkung anggun di tiang saka guru.

Di kamar pengantin, Ningsih—yang pagi-pagi buta sudah mengantar Valine dari rumahnya ke joglo—membantu merapikan sanggul dan ronce melati di rambut Valine. Valine mengenakan kebaya putih bersahaja berbahan brokat katun halus—anggun dan bersahaja.

Ningsih menatap pantulan cermin rias dengan senyum menggoda. "Neng Pelin gugup nya?"

Valine tersenyum tipis, memainkan perannya sebagai pacar lama dengan nada mengeluh yang sangat natural. "Bukan akadnya yang bikin gugup, Ningsih."

Ningsih tertawa kecil. "Kang Reza?"

Reza melangkah keluar mengenakan beskap pengantin putih sederhana dan celana panjang senada. Di kakinya, ia mengenakan sepasang boot kulit kerja cokelat tua yang telah disemir bersih—satu‑satunya alas kaki kulit pantas yang ia miliki di desa karena sepatu pantofel lamanya jebol.

Uwa Sukarna melangkah mendekati mereka, menepuk pundak Reza seraya menatap Valine dengan mata berbinar haru.

"Dulu waktu kalian masih kuliah di Jakarta, Reza tiap pulang ke Ciamis selalu cerita soal Neng Pelin," kenang Uwa dengan senyum bahagia.

Valine tersenyum santun, membalas dengan kehangatan yang meyakinkan. "Kalau yang diceritakan yang jelek‑jelek, nanti saya tagih setelah akad ya, Wa."

Uwa tertawa lepas menepuk pahanya. "Pintu rumah Uwa terbuka lebar kalau kamu mau dengar!"

***

Pukul sepuluh pagi.

Pendopo joglo dipadati puluhan warga desa, sesepuh adat, Notaris R. Soedirja, dan Paman Darman yang duduk di barisan saksi depan. Penghulu KUA Kecamatan duduk di seberang meja akad beralaskan taplak renda putih yang menjuntai panjang.

Reza dan Valine duduk bersisian di hadapan penghulu.

Dari luar, mereka tampak seperti pasangan pengantin yang tenang dan serasi. Namun pandangan Reza tetap tertunduk kaku ke serat kayu meja—menolak menatap mata Valine lebih dari satu detik.

Ujung sepatu hak tinggi tujuh sentimeter milik Valine bergerak perlahan di bawah kain jarik batiknya.

INJAK.

Tumit sepatu Valine turun tepat di atas punggung boot kulit kerja milik Reza.

Reza menarik napas pendek melalui sela giginya. Otot rahangnya menegang kaku, namun ia menahan diri agar tidak meringis di depan penghulu.

Valine tetap tersenyum anggun ke arah para tamu seraya mencondongkan tubuhnya ke samping, pura-pura merapikan lipatan kerah beskap Reza.

"Kalau setelah sah kamu pura-pura lupa soal bagi dua," bisik Valine tajam di dekat telinga Reza, "malam ini juga pabrik kakekmu aku bakar."

Reza menahan ngilu di kakinya tanpa mengubah posisi duduk sedikit pun. "Pabriknya saja?"

Valine memperdalam tekanan tumitnya ke kulit boot Reza. "Joglonya sekalian kalau perlu."

Lihat selengkapnya