BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #7

Chapter #7

Kamar pengantin joglo tenggelam dalam kegelapan pekat pada pukul dua dini hari.

Hanya ada seberkas cahaya rembulan pucat yang menyelinap masuk melalui sela kisi-kisi kayu jendela. Suasana desa lereng Gunung Sawal teramat hening—kesunyian sunyi yang asing bagi telinga Valine yang selama bertahun-tahun terbiasa dengan deru knalpot dan dengung kota metropolitan.

Satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu hanyalah desau angin dingin yang menggoyangkan rumpun bambu di pekarangan, derik jangkrik di bawah lantai panggung, dan deru napas teratur Reza yang terbaring di atas tikar pandan berjarak dua meter dari ranjangnya.

Valine terbaring menatap langit-langit kelambu putih. Kasur kapuk tebal itu terasa terlalu padat di punggungnya. Tubuhnya letih luar biasa, namun otaknya menolak beristirahat.

Valine meraba nakas kayu di samping bantal, meraih ponselnya.

Ia menekan tombol daya. Layar ponsel berpendar silau di kegelapan: pukul 02.14 WIB. Di sudut kanan atas layar, indikator jaringan menampilkan status: Panggilan Darurat Saja (No Service).

Valine menatap layar itu dengan rasa sesak yang merayap di dadanya. Posisi rumah joglo yang berada di cekungan lembah membuat sinyal seluler terhalang bukit. Tidak ada koneksi internet, tidak ada kabar mutasi rekening, tidak ada cara untuk memantau pergerakan bank di Jakarta.

Ia benar-benar terisolasi di pelosok desa bersama pria yang baru saja resmi menjadi suaminya di atas kertas.

Tenggorokannya terasa kering dan saraf di pelipisnya berdenyut tegang. Sejak kehidupannya jungkir balik tiga tahun lalu, nikotin selalu menjadi pelariannya untuk meredakan gelisah.

Valine merogoh tas tangannya di atas nakas, mengeluarkan kotak rokok putih ramping. Ia membalikkan bungkus itu: kosong. Rokok terakhirnya telah habis kemarin sore sebelum akad.

Valine mendesah jengkel. Ia menyibak kelambu, melangkah pelan tanpa alas kaki di atas lantai kayu jati, berusaha tidak menimbulkan derit papan yang bisa membangunkan Reza. Valine membuka grendel pintu kamar, melintasi ruang tengah joglo yang temaram, lalu melangkah keluar ke teras depan.

Udara malam pegunungan langsung menyergap kulitnya dengan dingin yang menggigit.

Valine duduk di salah satu kursi sedan rotan tua di teras. Di atas meja, ada sebuah kaleng biskuit seng peninggalan almarhum Aki Warso.

Valine membuka tutup kaleng tersebut: di dalamnya terdapat gumpalan tembakau kering berwarna cokelat tua beraroma cengkih tajam, segepok kertas papir putih tipis cap Gadjah, dan sebuah pemantik gas plastik merah.

Valine mengambil selembar kertas papir tipis dengan jemari yang kaku kedinginan. Ia mencoba menaruh sejumput tembakau dan menggulungnya seperti yang pernah ia lihat sepintas. Namun kertas itu terlalu rapuh; gulungannya longgar dan tembakau berhamburan mengotori permukaan meja rotan.

Valine mendengus kesal seraya membuang kertas papir yang kusut itu.

Suara langkah kaki pelan terdengar dari arah pintu joglo. Valine menoleh cepat dengan tatapan waspada.

Reza berdiri di ambang pintu mengenakan sarung katun abu-abu dan kaus oblong hitam.

Valine bersedekap di dada, suaranya ketus. "Aku tidak minta kamu bangun."

Reza tidak membantah. Pemuda itu melangkah tenang mendekati meja rotan, menarik kursi kayu kecil, lalu duduk di seberang Valine.

Reza mengambil selembar kertas papir baru dari dalam kaleng. Dengan gerakan jemari yang teratur dan terlatih, Reza menata serat tembakau, menyelipkan sedikit rajangan cengkih, lalu menggulung dan merekatkan ujungnya hanya dalam beberapa detik.

Sebatang rokok lintingan tradisional yang padat dan rapi kini tersaji.

Reza menyodorkan lintingan itu ke hadapan Valine.

Valine menatap rokok tingwe di tangan pemuda itu, ragu sesaat, lalu meraihnya dan menyelipkannya di antara belahan bibirnya.

Reza mengambil pemantik gas merah, menyalakan api, lalu melindunginya dengan telapak tangan dari embusan angin malam.

Valine mencondongkan wajahnya mendekat ke telapak tangan Reza. Untuk sesaat, jarak di antara mereka menyempit tanpa ada sandiwara. Ujung tingwe menyala merah membara. Valine mengisapnya perlahan.

UHUK.

Lihat selengkapnya