BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #8

Chapter #8

Area pabrik UD Kawung Sari terletak lima puluh meter di sebelah barat rumah joglo.

Pukul enam pagi. Kabut tipis lereng Gunung Sawal berpadu dengan kepulan asap kayu bakar dari cerobong dapur nira. Aroma nira mentah yang manis segar dan sedikit berbusa menyengat indra penciuman.

Struktur fisik pabrik itu sederhana namun kokoh: berdinding papan kayu jati dengan tiang-tiang bambu betung, berlantai semen kasar yang lembap oleh tetesan air bilasan. Di bagian depan berdiri Bale Penerimaan Nira, tempat sebuah timbangan gantung dacin besi kuno bergoyang pelan tertiup angin. Di bagian dalam, terdapat ruang pengolahan yang menampung empat kawah wajan tembaga raksasa di atas tungku bata tanah liat.

Reza melangkah menaiki pelataran semen, memasukkan anak kunci kuningan ke lubang gembok rantai besi gerbang pabrik, lalu membukanya dengan bunyi dentang nyaring.

Paman Darman sudah berdiri tegak di samping meja timbangan kayu. Ia mengenakan rompi kerja abu-abu, memegang papan dada jepit berisi lembaran register setoran, dan melirik arloji peraknya.

"Enam lewat dua menit," ujar Darman tenang. "Tepat waktu."

Valine melangkah di samping Reza mengenakan jaket wol tebal, celana panjang, dan sepatu kets tertutup.

Darman melirik Valine dengan alis terangkat sedikit, tersenyum tipis. "Neng Valine ikut ke pabrik? Biasanya orang kota tidak tahan mencium bau nira mentah pagi-pagi begini."

Valine membalas tatapan itu dengan senyuman santun dan tenang. "Saya cuma mau melihat bagaimana pabrik ini berjalan, Paman. Lagipula, udara pagi di sini cukup segar."

Darman mengangguk pelan, lalu beralih menatap Reza dengan sorot mata menguji. "Bagus kalau begitu. Penderes pertama sudah datang. Giliranmu, Reza."

Penderes pertama melangkah maju: Mang Endut, pria paruh baya bercelana komprang hitam. Ia menurunkan dua tabung bambu lodong panjang dari pundaknya dan menyandarkannya di samping timbangan dacin. Cairan nira di dalamnya berbuih putih pekat.

Mang Endut menatap Reza dengan sedikit ragu, lalu melirik Paman Darman di sampingnya.

"A Reza sekarang yang nimbang teh?" tanya Mang Endut pelan.

Reza tersenyum ramah seraya menyingsingkan lengan kemeja kerjanya. "Iya, Mang. Mulai hari ini saya yang bantu menimbang."

Mang Endut melirik Darman lagi seraya menggaruk tengkuknya. "Biasanya mah Paman Darman ..."

Darman melipat kedua tangannya di dada, bersuara tenang. "Reza yang sekarang memegang timbangan, Endut. Coba kamu periksa niranya, Za. Layak tidak?"

Reza meraih bilah bambu bersih dari meja, mengambil selembar kertas lakmus, lalu mencelupkannya ke cairan nira di ujung lodong. Reza mengamati perubahan warna kertas dan mengendus buihnya sekilas.

"Masih segar," kata Reza.

"pH?" tanya Darman menguji.

"Sekitar enam koma lima. Masih manis, belum masam."

"Dasar lodong?"

Reza memeriksa endapan di bibir bambu. "Masih memakai laru penghambat fermentasi."

Reza menyaring nira melalui kain kasa kelapa bersih ke dalam drum penampungan yang dilengkapi takaran volume liter.

"Dua puluh empat liter untuk Mang Endut."

Reza mencatat angka itu di lembar slip setoran, membubuhkan paraf, dan menyerahkan sobekan slip ke tangan Mang Endut. "Sadapan blok barat ya, Mang? Niranya bagus hari ini."

Mang Endut tersenyum lebar seraya menerima slipnya. "Alhamdulillah, Sumuhun A Reza! Kalau lagi kemarau mah niranya memang tetap manis begini."

Valine berdiri bersandar pada tiang kayu di samping bale penerimaan, mengamati seluruh pemandangan itu dalam diam.

Ingatannya melayang ke lima tahun lalu, saat ia masih mahasiswi semester empat dan menerima tawaran dari Reza untuk magang di UD Kawung Sari. Saat itu tugasnya hanya membereskan arsip kuitansi sederhana dan pencatatan kas harian atas permintaan almarhum Aki Warso.

Lihat selengkapnya