BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #9

Chapter #9


Ruang kerja almarhum Aki Warso di sayap barat rumah joglo beraroma damar, tumpukan kertas tua, dan minyak kayu cengkih.

Pukul dua siang. Sinar matahari menyusup melalui sela kisi-kisi kayu jendela, menyinari meja jati berukir tempat Valine duduk menekuri pekerjaannya.

Di hadapannya terbentang kertas folio bergaris baru, penggaris besi tiga puluh sentimeter, dan sebuah kalkulator saku hitam. Jemari Valine bergerak cekatan menarik garis kolom dan menuliskan tajuk sistematis: Register Penerimaan Nira Harian — UD Kawung Sari.

Kolom-kolom yang ia rancang disusun untuk membangun jejak audit yang kokoh:

1. Nomor Urut

2. Nama Penderes dan Kode Blok Pohon

3. Waktu Setor (Pagi/Sore)

4. Volume Bersih Masuk (Liter Standar)

5. Uji Mutu (Nilai pH dan Status Laru)

6. Petugas Penimbang

7. Catatan Koreksi dan Alasan Perubahan

8. Paraf Otorisasi

Valine menatap lembar kerja itu dengan kepuasan dingin seorang akuntan.

Ia tidak merancang format ini karena langsung menuduh seseorang mencuri. Ia menyusunnya karena satu prinsip profesional yang ia pegang teguh: angka tanpa jejak verifikasi terbuka adalah undangan bagi kekacauan.

Valine membutuhkan penjepit kertas dan map plastik untuk merapikan draf barunya. Ia menarik laci-laci meja jati di bawah meja kerja.

Laci pertama berisi stempel pabrik lama dan segepok kuitansi kosong. Laci kedua di bagian bawah terasa sedikit seret. Valine menariknya lebih kuat.

Di sudut terdalam laci bawah, tersimpan sebuah tabung gambar berbahan selongsong bambu berukir pilin. Tabung itu bersih, terawat, dan bebas dari debu kasar.

Terdorong rasa ingin tahu, Valine menarik tabung bambu tersebut, membuka penutupnya, lalu mengeluarkan gulungan kertas di dalamnya.

Valine membentangkan gulungan kertas kalkir tebal ukuran A3 di atas meja jati.

Napasnya seketika tertahan di tenggorokan.

Itu bukan berkas wasiat atau dokumen kebun. Itu adalah denah rancangan rumah tinggal modern-tropis.

Di sudut kanan bawah kertas kalkir, tidak ada judul puitis atau label romantis berlebihan. Hanya tertera blok teks teknis arsitektur standar:

STUDI RUMAH TINGGAL 03

ARSITEK: R.M. — OKTOBER 2021

Namun Valine mengenali setiap jengkal tarikan garis tinta hitam di atas kertas itu:

Bukaan atap kaca di atas ruang tengah yang dulu ia minta agar bisa menatap langit malam tanpa kedinginan; ventilasi silang bertingkat yang dirancang Reza untuk menjawab keluhan Valine soal mahalnya tagihan listrik pendingin ruangan; posisi teras samping luas menghadap timur; dan sudut ruang kerja berpintu geser yang pernah mereka perdebatkan di teras rumahnya Jakarta pada Oktober 2021.

Saat itu, Reza merancang ruang dan sirkulasi udara; Valine menghitung efisiensi biaya dan anggaran material.

Jemari Valine menyentuh tepi kertas kalkir yang kaku.

Tiga tahun lalu, jalur hidup Reza sebagai calon arsitek patah di tengah jalan. Setelah peristiwa yang berusaha dilupakan Valine, Reza memilih mengasingkan diri ke Ciamis. Valine sendiri telah membuang seluruh foto masa kuliah mereka dan meyakinkan dirinya bahwa lima tahun kebersamaan mereka hanyalah kerugian belaka.

Lihat selengkapnya