Teras samping rumah joglo berada di bawah naungan rimbun pohon kemuning tua.
Pukul setengah tujuh pagi. Kabut tipis lereng Gunung Sawal berpadu dengan wangi semerbak bunga kemuning putih yang sedang mekar basah oleh embun. Di atas meja kayu, perkakas pembersih timbangan tergeletak di samping dua cangkir teh tawar hangat yang masih mengepulkan uap tipis.
Reza berdiri di samping meja, mengelap timbangan dacin kecil dengan selembar kain perca. Tangannya bergerak teratur, namun pikirannya tertahan pada percakapan tadi malam.
Valine duduk di undakan teras kayu dua meter di sampingnya mengenakan kemeja katun putih dan celana panjang krem, kedua tangannya menggenggam cangkir teh.
Valine menatap punggung Reza, mengulang pertanyaannya dengan suara tenang yang dingin. "Kamu belum jawab pertanyaanku semalam, Reza. Kenapa denah itu masih ada di laci?"
Gerakan tangan Reza terhenti sesaat. Otot bahunya menegang kaku, namun ia tidak menoleh.
"Aku cuma tidak terbiasa membuang hasil rancangan yang pernah kubuat," jawab Reza pelan.
Valine menatap punggung pemuda itu tanpa ampun. "Gambarnya... atau masa depannya?"
Keheningan seketika membeku di antara desau angin pekarangan.
Reza membisu. Jemarinya mencengkeram kain lap dengan erat. Di dalam kepalanya, bayangan malam-malam panjang merancang denah beratap kaca itu di Jakarta kembali menyeruak, namun Reza mengunci mulutnya rapat-rapat tanpa memberi pembelaan.
Suara derap langkah kaki dan obrolan dari jalan setapak di luar pagar memecah kesunyian teras.
Paman Darman melangkah santai mengenakan jaket parasut bersama Bibi Endang dan Bi Imas yang membawa keranjang belanjaan pasar. Darman berhenti di depan pagar bambu pekarangan. Matanya yang tajam langsung menangkap kejanggalan sosial melihat Reza yang berdiri kaku di samping meja dan Valine yang duduk menyendiri di undakan—terpisah jarak tiga meter tanpa sepatah kata pun.
Darman tersenyum tipis, menyapa ramah dengan nada menyindir. "Pagi, pengantin baru. Dingin-dingin begini kok duduknya saling berjauhan seperti orang antre loket puskesmas?"
Bibi Endang ikut menimpali seraya terkekeh mengamati. "Muhun atuh, Neng Pelin... biasanya mah penganten baru teh nempel terus kayak perangko. Ini mah kelihatannya malah kaku berjauhan begini!"
Valine seketika memasang senyuman manis seorang istri yang anggun, bangkit berdiri merapat ke pagar. "Pagi, Paman, Bibi. Reza lagi sibuk membersihkan timbangan pabrik, jadi saya temani dari teras biar kopinya tidak dingin."
Darman menatap Valine beberapa detik, mencatat kejanggalan itu dalam diam sebagai tanda tanya, lalu mengangguk pelan. "Bagus kalau begitu. Kami duluan ke pasar."
Begitu rombongan warga melangkah menjauh di balik tikungan jalan, senyum manis di wajah Valine padam seketika.
Valine berbalik menatap Reza dengan raut muka tegang dan analitis. "Pamanmu mulai curiga."
Reza menatapnya heran. "Karena kita duduk berjauhan?"
Valine melangkah mendekat. "Bukan karena tiga meter terasnya, Reza. Karena kita kelihatan seperti orang yang baru kenal kemarin."
Reza menghela napas. "Secara hukum wasiat itu tidak membatalkan apa-apa. Syaratnya cuma tinggal satu atap sembilan puluh hari."
Valine menatap suaminya tajam. "Aku tahu. Tapi kalau pamanmu mulai curiga, dia akan cari celah yang memang bisa dipakai untuk membatalkannya. Kita sudah berhasil menjual cerita pacar lama ini ke Uwa Sukarna. Sekarang masalahnya konsistensi."
Reza melipat kain lapnya. "Hubungan kita mau diaudit juga?"
"Semua yang berisiko memang sebaiknya diaudit," balas Valine tajam. "Jadi jangan kasih dia alasan untuk mulai menggali."
Valine menarik lengan kemeja Reza, menyeret suaminya ke balik rimbunnya cabang pohon kemuning di halaman samping agar terhalang dari pandangan jalan utama desa.
Valine berdiri tepat di hadapan Reza. Jarak di antara mereka kini kurang dari setengah meter.
"Kita harus melatih ini sekarang," kata Valine tegas.
Reza menatapnya canggung. "Melatih apa?"
"Kelihatan seperti pasangan yang normal di depan orang desa."