BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #11

Chapter #11

Pekarangan belakang rumah joglo diselimuti aroma wangi semerbak bunga melati putih yang mekar di pagar bambu, berpadu dengan udara dingin pegunungan yang turun hingga tujuh belas derajat Celsius.

Pukul setengah sembilan malam.

Valine berdiri merapat ke balik rumpun bambu kuning yang rimbun di sudut pekarangan belakang. Sebelum menyelinap ke sana, ia sempat melihat sosok Reza di dekat sumur belakang sedang menyusun balok-balok kayu bakar kering untuk persiapan kawah subuh besok. Suara derit timba sumur yang tadi terdengar kini telah sunyi.

Valine menyalakan sebatang rokok lintingan tembakau mole dengan pemantik gas kecil.

Bara merah menyala redup di kegelapan, mengepulkan asap tipis beraroma cengkih dan tembakau manis ke udara malam.

Valine tidak pernah merasa malu merokok. Ia hanya tidak ingin kebiasaan pribadinya menjadi bahan gosip seluruh warga Kawung Sari sebelum matahari terbit.

Sembari mengisap tembakau perlahan, kepala Valine berputar menghitung angka-angka gudang: setelah produksi lembur hari ini, stok gula cetak batangan baru mencapai tiga ratus sembilan puluh lima kilogram. Mereka masih defisit seratus lima kilogram dari target lima ratus kilogram, sementara truk pembeli Haji Rustam dari Tasikmalaya dijadwalkan tiba besok pagi.

Valine mengembuskan asap panjang ke sela dedaunan melati. Baru saja ia hendak menarik isapan berikutnya ketika—

Kreeek... sreeek...

Suara gesekan sandal karet beradu dengan kerikil jalan setapak terdengar dari pekarangan sebelah. Sebuah sorot lampu senter kuning bulat menyapu deretan jemuran kain dan bergerak cepat ke arah kebun melati.

Suara Bibi Endang terdengar menggerutu sambil menggiring seekor ayam betina yang belum masuk kandang.

"Hus... hus... ayo masuk kandang!" gerutu Bibi Endang seraya mengayunkan sapu lidi. "Euleuh, ini bau apa mani sangit kieu di samping joglo... ada yang membakar sampah malam-malam begini?"

Valine menahan napasnya seketika.

Pagar bambu di belakangnya terlalu rapat. Dedaunan melati di sekitarnya rimbun, dan jika ia menjatuhkan rokok ke tanah, titik bara api merah akan menyala benderang dalam gelap dan langsung tertangkap oleh sorot senter.

Sorot lampu senter Bibi Endang kini merayap naik ke dedaunan bambu, hanya terpaut beberapa meter dari tempat Valine berdiri.

Sebelum Valine sempat bergerak atau mematikan apinya—

Langkah kaki tanpa suara melintas cepat dari arah lorong kayu bakar.

Reza muncul di hadapannya.

Tanpa bicara, tanpa ragu sedetik pun, tangan kanan Reza bergerak: ia mengambil lintingan tingwe yang masih menyala dari antara jemari Valine, menjepitnya di antara bibirnya sendiri, menarik satu isapan pendek yang agak canggung, lalu berdiri satu langkah di depan Valine—menjadikan tubuhnya orang pertama yang tertimpa cahaya senter.

Lihat selengkapnya