Suara deru mesin diesel tua memecah ketenangan pagi di Desa Kawung Sari.
Pukul sembilan pagi, sebuah truk bak kayu Isuzu Elf kuning berpelat Tasikmalaya merayap masuk ke halaman penimbangan pabrik. Debu jalanan beterbangan di bawah sorot terik matahari yang mulai mengusir sisa embun.
Di atas meja timbang bale bambu, berderet keranjang bambu berisi tumpukan gula cetak aren batangan murni hasil lembur dua hari terakhir. Lembar register dacin bertinta hitam rapi buatan Valine terbentang di samping nota pengiriman rangkap tiga.
Haji Rustam, tengkulak gula aren senior Tasikmalaya yang mengenakan baju koko putih dan kopiah beludru hitam, turun dari kabin truk seraya melempar senyum ramah. Di samping bale timbang, Paman Darman berdiri menyambut dengan sikap diplomatis yang terjaga.
"Mangga, Haji, silakan diperiksa," ujar Darman sopan seraya mempersilakan tamunya ke meja timbang. "Seperti yang sudah saya sampaikan lewat telepon kemarin sore, anak-anak muda ini sudah berusaha maksimal dua hari dua malam."
Valine berdiri tegak di samping meja timbang, memegang map jepitnya. Total timbangan akhir di dacin besi menunjukkan angka tiga ratus sembilan puluh lima kilogram. Masih terdapat defisit mutlak seratus lima kilogram dari kuota pesanan lima ratus kilogram.
Haji Rustam mengambil satu keping gula aren buatan Reza, mematahkannya dengan ibu jari, lalu mencium aroma karamelnya yang pekat dan mengamati tekstur patahannya yang kering dan padat.
Raut wajah sang tengkulak tampak puas oleh mutunya, namun dahinya berkerut melihat jumlah keranjang yang kurang.
"Barangnya bagus pisan, legit dan kering sekali," puji Haji Rustam seraya menimbang kepingan gula di telapak tangannya. "Tapi kuotanya kurang seratus lima kilo, Neng. Kafe langganan di Tasik dan Bandung sudah menunggu stok penuh akhir pekan ini."
Sebelum Darman sempat menyela untuk memperkuat argumen keterbatasan kapasitas pabrik, Valine melangkah maju dengan tenang menyodorkan lembar dokumen pengiriman resmi.
"Tiga ratus sembilan puluh lima kilo ini adalah kualitas grade A dengan kadar air rendah, Pak Haji," tutur Valine lugas. "Kami tidak mencampurkan nira asam atau gula sisa kemarin hanya untuk mengejar berat timbangan."
Reza yang berdiri di samping timbangan menimpali dengan tenang. "Kalau dipaksakan memasak nira sisa kemarin, gulanya lembek dan mudah rusak di jalan. Kami menjaga reputasi pasokan Haji Rustam."
Valine menyodorkan klausul kompensasi yang telah ia hitung matang. "Untuk sisa seratus lima kilo, kami kirim hari Selasa pagi langsung ke gudang Tasikmalaya menggunakan pikap carteran dengan ongkos kirim yang sepenuhnya kami tanggung. Haji Rustam hanya membayar apa yang dimuat di truk hari ini: tiga ratus sembilan puluh lima kilo tunai."
Haji Rustam menatap lembar rincian Valine yang sangat rapi, menimbang sejenak, lalu mengangguk seraya memberi peringatan tegas.
"Bagus. Kali ini saya terima pengiriman sebagian karena barangnya memang bersih dan kering," kata Haji Rustam seraya menandatangani tanda terima. "Tetapi Selasa pagi jangan sampai lewat, Neng. Kalau Selasa masih kurang, kuota pesanan kafe Tasik terpaksa saya kurangi untuk alokasi bulan depan."
Haji Rustam menyerahkan amplop pembayaran tunai, lalu memberi aba-aba kepada kernetnya untuk memuat keranjang gula ke bak truk.
Truk kuning itu menderu meninggalkan pabrik. Paman Darman tersenyum tipis seraya menatap Reza dan Valine.
"Hebat Neng Valine bisa membujuk Haji Rustam," puji Darman halus namun menyengat. "Tetapi Selasa depan kita tetap harus menutup kekurangan seratus lima kilo. Kawahnya tetap empat, penderesnya tetap segitu."
Darman melangkah pergi menuju kebun.
Valine menatap kepulan debu di jalan desa dalam diam. Mereka berhasil menyelamatkan pesanan hari ini dengan menanggung ongkos kirim tambahan, namun Valine menyadari kebenaran matematis pabrik: kerja keras fisik tidak bisa secara ajaib melipatgandakan batas kapasitas pabrik tradisional.
Pukul setengah lima sore.
Hujan gerimis baru saja reda di lereng bawah Bukit Kiara. Udara pegunungan terasa dingin, diselimuti kabut tebal yang merayap di sela-sela batang pohon aren dan rumpun pakis liar. Jalan setapak tanah liat merah lereng bukit sangat licin dan basah.