BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #13

Chapter #13

Lereng rumput basah di bawah naungan pohon aren nomor 12 terasa dingin dan lembap.

Pukul lima sore. Kabut tipis pegunungan mulai bercampur dengan semburat jingga matahari senja di ufuk barat.

Valine masih terduduk rapat di atas bantalan rumput lereng yang basah. Lengan Reza baru saja terlepas dari pinggangnya, namun sisa momentum jatuh tadi masih menyisakan debar jantung yang belum reda.

Pertanyaan Reza yang tenang masih menggantung di udara pegunungan yang sunyi: "Masalah kotamu... belum selesai, Val?"

Tenggorokan Valine tercekat. Manik mata cokelat suaminya menatap lurus ke arahnya—tidak ada nada menuduh, namun sorot matanya meminta kejelasan yang belum sanggup ia bagi.

Bibir Valine baru saja terbuka hendak mengeluarkan sepatah kata pembelaan ketika—

PSSSHHH!

Kepulan asap putih tebal berbau sangit sabut kelapa terbakar mendadak menyembur dari balik rimbunnya semak ilalang di atas jalur setapak.

Suara dengungan belasan lebah liar mendesing panik membelah udara di sekitar mereka: BZZZT! BZZZT!

Dari balik semak yang berguncang hebat, seorang pria melompat keluar seraya mengayunkan selembar pelepah daun pisang untuk mengusir lebah-lebah yang berputar di sekitar kepalanya.

"Aduh! Gusti nu agung! Tolong, Reza-ssi! Salah arah ini asep-nya!" teriak pria itu panik seraya mengibaskan kepulan asap putih dari depan wajahnya.

Pria itu melompat turun ke jalur tanah liat, membawa kaleng biskuit bekas yang mengepulkan asap sabut kelapa. Namun langkah kakinya mendadak terpaku di tempat saat matanya menangkap posisi Reza dan Valine di atas bantalan rumput lereng.

Reza terduduk di rumput dengan celana kerja berlumur tanah basah, kedua tangannya masih menahan pinggang Valine yang bersandar rapat di dadanya dengan rambut sedikit berantakan.

Pria itu seketika mematikan bara sabut kelapa di kalengnya ke tanah basah. Bola matanya membelalak lebar, lalu binar jenaka yang heboh merekah di wajahnya.

Sosok pria itu tampak sangat nyentrik untuk ukuran warga lereng Gunung Sawal. Ia mengenakan caping bambu anyam yang sengaja dimiringkan ke kanan, kaus oblong loreng pudar, celana pangsi hitam selutut, dan sepasang bot karet kebun yang berlumur lumpur merah. Di lehernya, sebuah sarung motif kotak-kotak dililitkan rapi menyerupai syal mantel musim dingin aktor drama Korea. Dari saku kausnya menyembul kabel earphone putih jadul yang menyumpal satu telinganya—sayup-sayup memperdengarkan dentum irama lagu K-Pop tempo cepat. Di pelipis kanannya, terdapat dua bentol merah bulat bekas sengatan lebah hutan yang masih sedikit bengkak.

"Omo... Daebak!" pekik pria itu dengan suara melengking tertahan. "Reza-ssi... maneh lagi syuting Crash Landing on You cabang Ciamis, euy?! Romantis amat sore-sore begini sudah skinship pelukan di bawah pohon kawung!"

Reza berdeham canggung seraya buru-buru menarik tangannya dari pinggang Valine, lalu bangkit berdiri dan mengulurkan tangan membantu Valine bangun. "Tanahnya licin, Sep. Bukan syuting."

Valine menerima tarikan tangan Reza, menepuk-nepuk tanah liat merah di celananya dengan pipi terasa hangat karena malu tepergok warga.

Pria itu mencabut satu earphone dari telinganya, membetulkan letak caping bambunya yang miring, lalu melangkah maju menghadap Valine. Dengan gerakan luwes yang sangat terlatih, ia membungkukkan badannya membentuk sudut sembilan puluh derajat persis gaya salam idol drama Korea, namun kedua telapak tangannya menangkup di depan dada dengan gaya sungkem khas Sunda.

"Sampurasun, Neng Geulis!" sapanya ramah dengan nada berirama riang. "Kenalkan, nama resmi di lembar KTP mah Asep. Tapi demi masa depan dan estetika perfilman, panggil saja Kang Ha-Seup! Ahn Seup Tae Won."

Valine mengernyitkan dahinya heran, menatap penampilan nyentrik pria di depannya dari ujung bot karet sampai ujung caping. "Ha-Seup? Bukannya haseup itu bahasa Sunda yang artinya asap?"

Asep menepuk dadanya bangga. "Nah! Pinter pisan Neng Valine! Asap yang bikin lebah pusing, tapi bikin hati mojang-mojang luluh, euy. saya itu Oppa lereng Gunung Sawal!"

Lihat selengkapnya