Kabut tebal lereng Gunung Sawal masih menggantung pekat memutihkan pekarangan belakang rumah joglo pada pukul enam pagi.
Hawa dingin pegunungan menusuk menembus jaket katun tebal yang dikenakan Reza. Udara pagi terasa lembap, berbau tanah basah dan embun yang menetes dari pucuk daun aren: Tik... tik... tik...
Reza berdiri di dekat pagar bambu belakang rumah, menatap punggung bukit yang perlahan tersingkap oleh semburat fajar keemasan. Dadanya terasa sesak. Tekanan beruntun dari Paman Darman, desakan tenggat waktu wasiat almarhum Aki Warso, ketegangan audit pembukuan pabrik, dan dinding dingin yang memisahkan dirinya dengan Valine membuat kepalanya berdenyut berat selama berhari-hari.
Reza butuh jeda. Ia butuh tempat di mana ia tidak perlu merasa bersalah atas masa lalu yang tak bisa ia perbaiki, dan tempat di mana tidak ada manusia yang menuntut penjelasan dari kebisuan panjangnya.
SREK... SREK...
Suara langkah kaki beradu dengan semak belukar terdengar dari arah jalan setapak kebun kopi.
Asep muncul dari balik rerimbunan pohon petai dengan perlengkapan lengkap. Pagi ini penampilannya sangat siap tempur: caping bambu anyam miring ke kanan, kaus lengan panjang loreng pudar, celana pangsi hitam yang diikat kencang di bawah lutut, dan bot karet berlumpur. Di pundak kanannya tersandang sebuah keranjang bambu gendong, sementara tangan kirinya menenteng kaleng biskuit bekas yang sudah dilubangi tutupnya serta seikat daun serai wangi dan sabut kelapa kering.
Earphone kabel putih jadulnya tetap menyumpal salah satu telinga, memperdengarkan suara musik rancak dari ponsel tua di saku bajunya.
Melihat Reza sudah berdiri menunggu di dekat pagar, Asep mencabut satu earphone-nya seraya menyengir lebar.
"Pagi-pagi mukanya sudah kayak pemeran utama drakor yang ditinggal nikah, Reza-ssi," sapa Asep seraya menaikkan tali keranjang bambunya. "Sudah sarapan belum?"
Reza menarik senyum tipis, menggeleng pelan. "Cuma minum kopi pahit segelas."
"Bagus kalau begitu," timpal Asep riang. "Di hutan mah sarapannya langsung nektar bunga puspa sama royal jelly lereng bukit. Hayu berangkat sekarang, mumpung kabut belum naik ke puncak. Lebah odeng kalau kena matahari pagi suka lebih galak daripada rentenir kota!"
Reza mengangguk, menyandang sebilah golok bergagang kayu jati di pinggangnya, lalu melangkah mengikuti Asep menyusuri jalan setapak kebun yang menanjak menuju batas hutan lindung kaki Gunung Sawal.
Bagi Reza, ini bukan perjalanan pertama. Selama tiga tahun pengasingannya di Kawung Sari merawat Aki Warso yang terkena stroke, masuk ke hutan lebat bersama Asep untuk mencari sarang lebah liar telah menjadi satu-satunya ritual pemulihan batinnya. Di antara lebatnya pohon rasamala dan aroma lumut basah, Reza belajar melepaskan beban di kepalanya dan membiarkan tubuhnya bergerak selaras dengan hukum alam.
Jalan setapak semakin menyempit saat mereka melintasi perbatasan kebun aren warga dan mulai menapaki lereng penyangga hutan lindung. Pohon-pohon rasamala, puspa, dan saninten raksasa berdiameter dua meter berdiri menjulang puluhan meter ke angkasa, membentuk kanopi hijau rapat yang menyaring sinar matahari fajar menjadi berkas-berkas cahaya perak yang magis.
Udara semakin dingin dan segar, bebas dari bau jelaga pabrik maupun bising percakapan manusia. Hanya ada suara gemuruh air terjun kecil di dasar jurang, desau angin di tajuk pohon, dan derit serangga hutan yang menyambut pagi.
Reza menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara hutan yang jernih. Perlahan, otot-otot di bahu dan tengkuknya yang kaku mulai mengendur.
Namun langkah Reza mendadak terhenti sepuluh meter di depan sebuah tanjakan terjal berbatu.
Di sisi kiri jalan setapak, tiga tunggul pohon rasamala muda tampak terpotong rata. Serbuk gergaji kayu basah berwarna kuning pucat masih berserakan segar di atas hamparan humus hitam. Potongannya rapi dan presisi, jelas menggunakan gergaji mesin portabel, bukan tebasan golok tradisional penderes.
Reza melangkah mendekat, berjongkok seraya meraba permukaan tunggul kayu yang masih mengeluarkan getah bening beraroma damar pekat.
"Ini tebangan baru, Sep?" tanya Reza seraya menoleh ke arah Asep. "Sejak kapan orang desa berani nebang pohon kayu keras di zona penyangga begini?"
Asep mendengus kesal seraya meludah ke semak-semak. Wajahnya yang biasa jenaka seketika mengeras masam.
"Bukan orang desa sini yang nebang, Reza-ssi," sahut Asep ketus. "Penebang kayu sewaan dari luar. Makin hari makin berani masuk ke perbatasan leuweung lindung."
Leuweung lindung artinya hutan lindung.
"Buat apa?"
"Buat apa lagi atuh kalau bukan buat ngejar setoran kayu bakar pabrik gula!" Asep menghentakkan ujung bot karetnya ke serbuk gergaji. "Kawah perebusan nira di pabrik kita kan rakus pisan makannya. Sehari semalam butuh puluhan pikul kayu keras. Kayu albazia sama dahan kopi mah cuma jadi abu dalam sekejap, tidak tahan bara. Makanya para mandor kayu mulai curi-curi tebang rasamala sama puspa muda di lereng atas."
Asep menunjuk ke arah celah lereng yang kini terbuka telanjang tanpa naungan pohon.
"Kalau pohon puspa sama kaliandra di lereng atas dibabat terus, pakan lebah liar habis, Reza-ssi. Lebah odeng bisa kabur pindah ke puncak gunung yang tidak terjangkau manusia. Terus yang paling bahaya... mata air Cireundeu di bawah bisa surut. Air nira aren itu asalnya dari serapan air tanah pegunungan yang ditahan sama akar pohon-pohon rimba ini. Kalau hutannya gundul, air niranya bakal asin atau kering. Aki Warso dari dulu ngejaga lereng ini mati-matian bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi buat nyawa pohon aren itu sendiri!"
Reza terdiam, jemarinya mencengkeram serpihan kayu rasamala yang dingin.
Sebagai mahasiswa arsitektur yang pernah mempelajari termodinamika bangunan dan efisiensi energi biomassa di kampus, otak teknik Reza seketika bekerja cepat merangkai fakta. Masalah kayu bakar di Kawung Sari bukan sekadar ulah penebang nakal di lapangan. Masalah mendasarnya ada pada desain fisik tungku kawah pabrik yang sudah terlalu tua dan tidak efisien.
Empat kawah besi terbuka di pabrik gula peninggalan Aki Warso dibangun dengan tungku bata merah konvensional tanpa ruang pembakaran sekunder, tanpa pintu pengatur udara primer, dan tanpa dinding penahan rambatan panas. Hampir enam puluh persen energi panas dari api kayu bakar terbang percuma ke udara bebas atau tersedot keluar cerobong seng sebelum sempat memanaskan dasar kawah. Pabrik itu secara harfiah sedang menelan lereng Gunung Sawal hidup-hidup hanya untuk mempertahankan suhu didih nira.
Kalau tungku kawah itu dimodifikasi dengan ruang pembakaran bersekat dan pengatur aliran udara, konsumsi kayu bakar bisa dipangkas hingga tiga puluh atau empat puluh persen, batin Reza tajam. Hutan tidak perlu dirusak, dan biaya bahan bakar pabrik yang mencekik bisa ditekan drastis.
"Hayu lanjut, Reza-ssi," ajak Asep pelan, membuyarkan lamunan Reza. "Makin siang nanti... eh, tunggu!"
Asep yang baru melangkah lima meter tiba-tiba mematung di dekat tebing tanah merah. Matanya menyipit menatap sebuah benda asing yang tertancap di antara semak paku-pakuan.
Reza menyusul langkah Asep, lalu ikut tertegun.
Sebuah patok kayu jati persegi setinggi setengah meter tertancap kokoh ke dalam tanah berbatu. Ujung atas patok itu dicat merah menyala dengan cat minyak yang masih sangat baru dan belum pudar oleh lumut. Di permukaan cat merah itu, tertera tulisan cetak stensil hitam rapi: KS-BL.03 / T.EKS-26.
Tidak hanya patok kayu, di sebuah dahan pohon kemuning hutan di sampingnya, sehelai pita plastik survei berwarna kuning fosfor terang terikat kencang, berkibar-kibar ditiup angin lembah.
"Nah! Ini dia barang jahanam yang bikin dada saya sesak dua hari ini!" geram Asep seraya menuding patok kayu itu dengan kaleng pengasapnya.
Reza berjongkok di depan patok merah itu. Ujung jemarinya menyentuh cat merah yang masih menyisakan bau tiner kimia yang tajam.
"Patok batas survei?" gumam Reza, keningnya berkerut dalam. "Sejak kapan perhutani pasang patok pakai kode swasta begini, Sep?"
"Perhutani naon!" sembur Asep berbisik geram. "Dua hari lalu, pas kamu sama Neng Valine lagi pusing ngurus timbangan nira di gudang bawah, ada mobil Innova hitam pelat D parkir di ujung jalan aspal kebun kopi. Pelat D, Reza-ssi! Pelat kota Bandung!"
Reza menatap Asep lekat-lekat. "Pelat Bandung? Siapa yang datang?"
"Turun tiga orang," cerita Asep seraya merendahkan suaranya rapat-rapat. "Dua orang laki-laki pakai rompi lapangan tebal, bawa tripod tinggi sama alat teropong laser yang ada radarnya itu—total station teodolit lah namanya. Mereka ngukur kontur lereng, ngitung kemiringan tebing, sama nandain mata air di bawah. Terus yang satu lagi... yang nunjuk-nunjuk batas tanah sambil bawa map tebal... Paman Darman sendiri!"
Dada Reza seketika berdegup kencang seperti dihantam palu godam.