Valine menatap layar laptopnya, namun jemarinya diam tak mengetik satu angka pun.
Reza sudah berangkat sejak fajar menyingsing bersama Asep membawa golok dan perlengkapan panen lebah ke arah hutan lindung kaki Gunung Sawal. Kepergian suaminya menyisakan keheningan yang janggal di dalam rumah joglo yang terlalu luas ini. Suara detak jam dinding kayu dan desau angin di dahan pohon kemuning mendadak terasa begitu memekakkan telinga.
Valine menyandarkan punggungnya seraya menghela napas panjang. Berada di desa ini selama beberapa hari mulai membuatnya merasa terkungkung di antara dinding kamar dan tumpukan dokumen keuangan pabrik.
"Assalamu'alaikum, Neng Valine!"
Sebuah seruan ceria yang lantang memecah kesunyian pekarangan samping.
Valine menoleh. Dari arah gerbang bambu pekarangan, Ningsih melangkah masuk dengan senyum lebar yang merekah cerah. Gadis desa berusia dua puluh tahun itu—adik kandung Asep si peternak lebah—tampak segar mengenakan kaus katun kuning bergaris, celana kain longgar, dan kerudung instan sederhana. Di tangan kanannya, sebuah rantang kaleng kecil berayun-ayun santai.
"Wa'alaikumsalam," sahut Valine seraya menutup layar laptopnya. "Ningsih?"
Ningsih menaiki undakan teras dengan langkah lincah, lalu meletakkan rantang kaleng itu ke atas meja. "Muhun, Neng Pelin! Ini disuruh Bi Imas nganterin cireng bumbu rujak anget buat temen ngetik. Tapi dari tadi saya perhatiin dari jalan, Neng Pelin teh ngelamun terus di teras!"
Valine mendengus pelan seraya tersenyum tipis. "Cuma lagi memeriksa pembukuan."
Ningsih berkacak pinggang seraya geleng-geleng kepala. "Aduh... hidup di lembur(desa) mah jangan cuma dihabisin di depan layar komputer atuh! Kang Reza kan lagi naik ke gunung sama si Asep bersihin kebun aren, pulangnya pasti sore. Daripada Neng Pelin sumpek dan bengong sendirian di joglo, hayu ikut saya keliling lembur Kawung Sari!"
Valine tertegun sesaat. "Keliling?"
"Iya atuh!" ajak Ningsih antusias seraya menarik lengan kardigan Valine dengan ramah. "Masa menantu kota almarhum Aki Warso cuma tahu jalan dari joglo ke pabrik doang. Hayu, saya kenalin ke warga. Biar Neng Pelin tahu Kawung Sari itu bukan cuma soal timbangan nira sama kawah gula!"
Valine melirik laptopnya, lalu melirik jalan setapak desa yang bermandikan cahaya pagi. Keingintahuan alamiahnya dan desakan rasa bosan akhirnya meruntuhkan keraguannya.
"Sebentar," ujar Valine. "Aku ganti sepatu dulu."
Sepuluh menit kemudian, Valine melangkah menyusuri jalan setapak tanah padat perkampungan bersama Ningsih. Valine mengenakan celana jins gelap, sepatu kets yang nyaman, kaus putih bersih, dan kardigan rajut abu-abu.
Udara pagi Kawung Sari begitu hidup dan hangat. Pagar-pagar pekarangan rumah panggung warga terbuat dari anyaman bilah bambu yang ditumbuhi tanaman mangkokan dan bunga kembang sepatu merah. Ayam-ayam kampung berkeliaran bebas di bawah pohon nangka, dan suara anak-anak kecil yang tertawa riang bermain egrang bambu terdengar bersahutan.
Pemberhentian pertama mereka adalah Warung Bi Imas di pertigaan jalan desa.
Warung berdinding papan kayu itu menjadi pusat denyut sosial warga. Di bagian depan warung, di atas tungku tanah liat kecil berarang menyala, Bi Imas sedang sibuk mencetak surabi tepung beras di atas wajan tanah liat kecil beraroma harum santan terbakar.
Beberapa ibu-ibu desa bercelana batik dan berkerudung santai sedang duduk di bangku panjang seraya memilih sayuran segar dan memegang kantong keresek belanjaan.
Melihat Ningsih datang membawa Valine, obrolan ibu-ibu seketika berhenti sejenak.
"Euleuh-euleuh! Ningsih bawa bidadarinya Kang Reza geuning!" seru Bi Imas seraya meletakkan serok surabinya dengan senyum semringah. "Duduk sini, Neng Pelin!"
Ningsih tertawa seraya menarik Valine duduk di bangku kayu panjang. "Muhun, Bi Imas! Neng Pelin lagi bosen di joglo, jadi saya culik jalan-jalan!"
Valine tersenyum santun seraya mengangguk hormat kepada ibu-ibu di sekelilingnya. "Pagi, Ibu-ibu."
"Aduh, sopan pisan kamu teh," puji seorang ibu paruh baya yang sedang memilah cabai rawit. "Pantesan Jang Reza betah di kamar!"
Wajah Valine terasa sedikit hangat mendengar celetukan polos itu, namun ia tetap mempertahankan senyum tenangnya.
Bi Imas menyodorkan dua piring seng kecil berisi surabi oncom hangat yang mengepulkan aroma gurih kemangi, serta sepiring bala-bala renyah. "Sok atuh dituang, Neng. Surabi hangat asli olahan kampung. Tidak kalah enak sama roti-roti di toko Bandung mah!"
Valine mencicipi sepotong surabi itu. Tekstur bawahnya renyah berkerak tipis, bagian atasnya lembut gurih bersantan, berpadu dengan gurih pedasnya tumisan oncom dan wangi kemangi segar.
"Enak sekali, Bi," puji Valine tulus. "Gurihnya pas."
Mendengar pujian itu, wajah Bi Imas seketika berseri-seri bangga.
Sembari menikmati surabi, Valine mengamati bagaimana para perempuan desa ini berinteraksi. Mereka berbicara dengan bahasa Sunda yang berirama cepat dan renyah, saling menimpali lelucon keluarga, menanyakan harga garam, hingga menitipkan uang arisan. Di balik kesederhanaan mereka, Valine menyadari bahwa para perempuan inilah simpul perekat sesungguhnya dari komunitas Kawung Sari—mereka yang mengatur ritme dapur, kesehatan keluarga, dan perputaran uang harian di desa.
Setelah berpamitan dari warung Bi Imas, Ningsih mengajak Valine menuruni jalan setapak berbatu menuju kawasan lembah di dekat aliran Sungai Cireundeu.
Di sana, di bawah naungan pohon beringin tua, terdapat pancuran air alami yang dialirkan melalui bilah-bilah bambu betung besar langsung dari mata air kaki Gunung Sawal. Airnya jernih berkilau menampakkan dasar sungai yang berbatu kali hitam licin.
Beberapa wanita desa sedang mencuci pakaian di atas batu-batu pipih seraya bercengkerama riang, sementara anak-anak bertelanjang dada melompat ke kedung sungai dengan tawa membahana: BYURRR!
"Airnya dingin banget, Neng," ujar Ningsih seraya mencelupkan tangannya ke aliran pancuran bambu lalu membasuh wajahnya. "Kalau lagi musim kemarau di kota mah air susah, tapi di lereng Sawal mah dari zaman Aki Warso masih bujangan sampai sekarang, pancuran ini tidak pernah kering."
Valine melangkah mendekati bibir pancuran, mengulurkan telapak tangannya ke bawah kucuran air bambu. Air itu terasa sedingin es batu, sangat murni dan segar. Rasa lelah dan ketegangan di pelipisnya mendadak seolah luruh oleh sentuhan dingin mata air pegunungan.
Dari pancuran, Ningsih mengajak Valine melangkah ke perkampungan barat, tempat berdirinya sebuah bangsal panggung bambu terbuka.
Di dalam bangsal itu, tampak enam orang wanita sepuh berusia enam puluhan tahun sedang duduk bersila di atas tikar pandan. Tangan-tangan keriput mereka bergerak sangat lincah menganyam bilah-bilah bambu tali yang telah diserut tipis menjadi wadah kotak anyaman kecil berpenutup yang disebut besek.
"Sampurasun, Mak Erah!" sapa Ningsih riang seraya melongok ke dalam bangsal.
Wanita tua berambut perak yang duduk di sudut tersenyum ramah memperlihatkan giginya yang bersirih merah. "Rampes, geulis... Euleuh, bawa Neng Valine ka dieu?"
Ningsih mengajak Valine duduk di tepi lantai panggung bambu. "Muhun, Mak. Mau nunjukin tempat bikin besek buat gula aren."
Mak Erah mengulurkan sebuah besek bambu yang baru selesai dianyam ke tangan Valine. Anyamannya sangat rapat, rapi, dan kokoh, dengan lubang ventilasi udara alami yang presisi.
"Ini wadah buat gula cetak Kawung Sari ya, Mak?" tanya Valine mengamati kerapian anyaman itu.
Mak Erah mengangguk seraya memilin bilah bambu baru. "Muhun, Neng Pelin. Dari jaman Aki Warso mimpin pabrik empat puluh tahun lalu, gula aren Kawung Sari pantang dibungkus plastik rapat. Kudu dibungkus besek bambu biar gulanya bisa bernapas dan tidak gampang berair kena lembap. Tiap minggu pabrik ngambil ratusan besek dari emak-emak di lembur ieu."
Valine terdiam menatap wadah bambu di tangannya.
Sebagai akuntan yang terbiasa melihat pabrik dari neraca laba-rugi, pemandangan ini membuka matanya lebar-lebar. UD Kawung Sari bukan sekadar lini produksi yang menghitung efisiensi bahan bakar dan rendemen gula. Pabrik ini adalah jantung ekosistem ekonomi tempat puluhan janda tua, pengrajin anyaman, dan keluarga penderes menggantungkan asap dapur mereka setiap hari.
Ningsih mengajak Valine duduk beristirahat di sebuah balai bambu di bawah pohon rambutan rindang di tepi pematang sawah yang menghadap ke arah lembah perkampungan. Angin semilir pegunungan berhembus sejuk membelai anak rambut Valine.
Ningsih membuka botol air teh tawar yang dibawanya, lalu menyodorkannya ke Valine. "Capek ya, Neng? Orang kota mah biasanya tidak biasa jalan kaki naik turun bukit begini."
Valine menerima botol itu seraya tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Kakiku memang agak pegal, tapi udaranya menyenangkan."
Valine menatap perkampungan Kawung Sari di kejauhan. Atap-atap genteng tanah merah rumah warga tampak damai di sela rimbunnya pohon kelapa dan aren.
Keheningan menggantung sesaat di antara mereka, hanya diiringi gemerisik daun rambutan ditiup angin.
Valine menarik napas pendek, lalu melirik gadis di sampingnya. "Ningsih."
"Muhun, Neng?"
Valine ragu sejenak, namun rasa penasaran yang mengganjal di dadanya selama berhari-hari akhirnya menuntut kepastian. "Tiga tahun kemarin... waktu Reza baru pulang dari Jakarta ke desa ini... hidupnya seperti apa?"
Gerakan tangan Ningsih yang sedang mengelap leher botol seketika terhenti. Ningsih menoleh menatap Valine. Sorot mata gadis desa yang biasanya jenaka itu perlahan berubah serius dan teduh.
Ningsih menghela napas panjang seraya menyandarkan punggungnya ke tiang bambu.
"Waktu awal datang dari Jakarta akhir tahun 2023... Kang Reza teh kayak orang yang ninggalin jiwanya di tempat lain, Neng Pelin," ujar Ningsih pelan, suaranya sarat kepedihan yang nyata. "Badannya kurus kering, matanya cekung hitam kayak orang tidak pernah tidur berminggu-minggu. Dia tidak pernah banyak omong. Tidak pernah senyum."
Dada Valine berdenyut ngilu mendengar deskripsi itu. "Dia... tidak pernah cerita apa yang terjadi di Jakarta?"
Ningsih menggeleng tegas. "Tidak pernah sama sekali, Neng. Sama Paman Darman ditanya, sama Uwa Sukarna ditanya, bahkan almarhum Aki Warso nangis nanya kenapa dia berhenti kuliah arsitektur di Jakarta... Kang Reza cuma bilang: 'Reza salah, Ki. Maafin Reza.' Cuma itu yang keluar dari mulutnya."