BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #16

Chapter #16

"Reza-ssi, wajahmu kusut pisan kayak baju belum disetrika ih."

Reza menghela napas pendek, jemarinya memijat pangkal hidungnya yang letih. Beban desakan Paman Darman dan batas waktu wasiat yang terus berjalan membuat pundaknya terasa kaku berhari-hari. "Banyak hal yang harus diselesaikan, Sep."

Asep melirik sekeliling pelataran yang sepi, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah meja pos timbang. Seringai tipis terbit di bibirnya. "Nanti malam kita bongkar harta karun terpendam."

Reza terdiam sesaat, menatap ke arah bangsal pabrik dengan raut muka penat. Tubuhnya memang butuh jeda sejenak dari ketegangan yang mengepungnya tanpa henti. "Jangan aneh-aneh, Sep."

"Aigo, ini obat penat warisan Aki Warso, bukan aneh-aneh!" desis Asep seraya menepuk tiang pos. "Nanti malam jam sembilan ke kebun bambu."

Reza menghela napas panjang, akhirnya mengangguk samar. "Yaudah iya. Jangan bikin gaduh."

Asep mengedipkan sebelah matanya penuh arti, menyandang kembali lodong bambunya, lalu melangkah santai menyusuri jalan desa.

Namun di sudut meja kayu pos timbang yang terlindung tumpukan papan rekap, Valine sedang berdiri merapikan map jepit audit dan kalkulator sakunya.

Telinga tajam Valine menangkap serpihan bisikan yang mencurigakan itu: cadangan dipendam di dalam tanah... jam sembilan ke kebun bambu... jangan bikin gaduh.

Dahi Valine berkerut dalam. Manik matanya menyipit dingin mengawasi punggung suaminya.

Sebagai seorang calon akuntan yang terbiasa mencurigai kebocoran aset, otaknya seketika membunyikan alarm bahaya. Barang apa yang dipendam di dalam tanah selama berbulan-bulan? Mengapa seorang pengelola sementara harus mengendap-endap membawa cangkul di tengah malam bersama seorang pekerja kebun?

Apakah Reza menyembunyikan stok komoditas di luar pembukuan resmi? Atau ada transaksi gelap yang sengaja disembunyikan dari proses auditnya?

Valine tidak menegur atau memancing keributan di pos timbang. Ia hanya menatap Reza dalam diam seraya mengunci rencana di kepalanya: pukul sembilan malam, kebun bambu di belakang joglo.

***

Sebuah mobil pikap tua bermuatan jeriken-jeriken nira dari pengepul luar berhenti di depan palang kayu bambu. Asap knalpot diesel tua berpadu dengan debu tanah merah pekarangan pabrik.

Valine berdiri di samping pos penerimaan memegang papan jepit kayu berisi lembar SOP tiket baru. Untuk penderes lokal yang datang berjalan kaki membawa lodong bambu, penimbangan tetap berjalan cepat di meja sebelah kiri. Namun untuk mobil pikap pengepul luar, Valine mewajibkan pemeriksaan tiket penerimaan resmi per muatan.

Sopir pikap dan Mang Ujang tampak menggerutu di samping bak mobil.

"Aduh, Neng... Biasanya mobil pengepul tinggal mundur, langsung bongkar jeriken ke bak penampungan," keluh sopir pikap. "Kenapa sekarang harus berhenti dulu menunggu periksa sampel muatan dan dua tanda tangan?"

Mang Ujang menggaruk kepalanya seraya melirik Valine dengan canggung. "Muhun, Neng. Kalau mobil tertahan lama, sopir suka buru-buru mau mengejar rute lain."

Sebelum Valine sempat menjawab, Reza melangkah maju dari arah bangsal. Kemeja kerja abu-abunya tergulung rapi hingga siku, wajahnya tenang menegakkan pembagian peran operasional yang telah mereka sepakati.

"Mulai hari ini, semua nira kiriman luar yang masuk ke pabrik adalah tanggung jawab saya dan Neng Valine, Mang Ujang," ujar Reza ramah namun tegas. "Kita periksa sampel per muatan pikap, ukur volumenya dalam liter, tanda tangan dua pihak, baru boleh dibongkar."

Reza menatap sopir pikap dengan senyum santun yang tidak memberi ruang tawar-menawar. "Dua tanda tangan ini untuk memastikan jumlah liter yang kami bayar ke pengepul sama persis dengan yang tercatat di gerbang. Mari kita periksa sampelnya, Mang Ujang."

Mang Ujang akhirnya mengangguk patuh dan mulai menjalankan prosedur verifikasi.

Dari kejauhan di bawah naungan pohon petai, Paman Darman berdiri mengamati ketertiban baru itu dengan mata menyipit tajam, sebelum berbalik melangkah pelan menuju kantornya.

***

Bangsal pemasakan nira UD Kawung Sari diselimuti uap karamel nira yang mengepul tebal dan udara panas yang membakar kulit.

Empat buah kawah wajan tembaga raksasa berdiameter satu setengah meter berjajar di atas tungku bata panjang. Empat kawah ini bekerja sebagai unit pemasakan terpisah yang masing-masing mengentalkan nira menjadi gula cetak, namun semuanya berbagi satu lorong pembakaran bata yang sama. Di sudut belakang bangsal, tumpukan kayu bakar gelondongan setinggi dua meter menyita sepertiga luas lantai.

Valine melangkah masuk ke bangsal pemasakan mendampingi Reza, mengibaskan map jepitnya untuk mengusir hawa panas yang menyengat.

Valine membuka lembar catatan arus kas operasional. "Reza, masalah kas harian pabrikmu ada tepat di depan mata kita."

Valine menunjuk tumpukan kayu gelondongan dan deretan angka di catatannya. "Dari pembukuan kas tiga bulan terakhir, biaya pembelian kayu bakar menyedot porsi pengeluaran harian yang sangat berat. Setiap hari ada dua gerobak kayu masuk dari penebang lereng. Aku tidak tahu panasnya lari ke mana, tapi yang jelas, uang untuk beli kayu terlalu besar dibanding volume gula yang kita hasilkan."

Reza mengamati kobaran api di bawah kawah nomor satu, lalu mendekati Mang Karta yang sedang mengaduk nira.

"Mang Karta, kawah nomor berapa yang air niranya paling lambat mengental?" tanya Reza.

Mang Karta menyeka peluh di pelipisnya dengan handuk leher seraya menunjuk ke deretan kawah belakang. "Kawah nomor empat, Jang Reza. Di kawah satu sudah mendidih panas sekali, tapi di kawah nomor empat apinya terasa tidak begitu sampai. Jadi saya harus sering menambah kayu bakar ke lubang depan supaya panasnya terdorong ke belakang."

Reza mengangguk paham seraya memperhatikan tumpukan kayu yang terus disuapkan ke mulut tungku depan. "Kalau panasnya tidak stabil, waktu masak molor dan hasil pemasakan antar-batch jadi tidak konsisten. Akhirnya pekerja terus menyuap kayu lebih banyak dari yang seharusnya."

Reza tidak langsung menyimpulkan. Ia melangkah menyusuri sisi samping tungku bata merah sepanjang delapan meter itu.

Valine memperhatikan suaminya: Reza mendekatkan punggung tangannya beberapa sentimeter dari permukaan bata untuk membandingkan radiasi panas di berbagai titik, mengamati celah sambungan antara bibir kawah tembaga dan dudukan semen, lalu menengadah menatap posisi cerobong asap di ujung belakang bangsal.

Reza memungut sepotong arang kayu hitam dari lantai, lalu bangkit menghadap dinding semen di samping tumpukan kayu.

"Lihat alur tungkunya, Val," ujar Reza.

Dengan goresan arang yang cepat dan presisi, Reza menggambar potongan melintang tungku empat kawah di dinding semen.

"Tungku bata ini dibuat dengan lorong lurus sederhana," jelas Reza seraya menarik garis arang. "Api dinyalakan di depan kawah satu, lalu ditarik lurus oleh cerobong belakang. Karena mulut tungku terbuka lebar dan tidak punya pengatur pasokan udara masuk, alirannya terlalu bebas."

Reza menggoreskan garis baru di dalam rongga tungku, menunjukkan lintasan api. "Sebagian panas api keburu ditarik cerobong sebelum sempat menyentuh dasar kawah secara maksimal, dan sebagian lagi lepas dari celah bibir kawah ke ruangan bangsal. Akibatnya, kawah depan menerima panas terlalu agresif, sementara kawah belakang kekurangan panas."

Reza membuat sketsa sekat berundak di dalam lorong tungku. "Kalau jalur gas panas ini kita arahkan dengan sekat pengarah di dalam bata dan dipasangi pintu pengatur udara di mulut tungku, aliran panasnya dipaksa berputar memeluk dasar kawah secara bertahap sebelum keluar ke cerobong. Panas yang terbuang bisa ditekan, dan penggunaan kayu bisa jauh lebih terkontrol."

Valine terpaku menatap dinding semen bergoresan arang itu.

Di tengah bangsal yang remang dan beruap karamel, Valine menatap suaminya. Reza berdiri dengan sedikit debu arang menempel di rahang kirinya, kaus abu-abunya basah oleh peluh kerja, dan sorot matanya berbinar tenang penuh ketajaman berpikir.

Valine terdiam sesaat.

Ingatannya melayang ke masa-masa lima tahun kebersamaan mereka di Jakarta. Di luar urusan kuliah dan organisasi, Valine sering melihat Reza duduk berjam-jam di depan meja gambar, larut membedah persoalan ruang dan struktur menjadi garis-garis kalkir yang presisi dan masuk akal.

Valine menatap tajam sketsa arang itu, lalu mengamati lembar catatannya. "Dari sisi biaya kayu bakar, arah ini sangat layak diuji, Reza. Kalau hipotesismu benar dan konsumsi kayu bisa ditekan secara stabil, ada ruang penghematan kas yang sangat berarti buat pabrik."

Valine menatap mata suaminya dengan ketegasan seorang mitra profesional yang memberi pengakuan tulus. "Rancanganmu masuk akal untuk dicoba."

Reza menatap Valine. Di bawah penerangan bangsal yang temaram, senyum tipis yang hangat terbit di sudut bibir pemuda itu—kecil, namun cukup langka hingga Valine menyadarinya.

"Terima kasih, Val."

Suara derap langkah sepatu memecah keheningan di ambang pintu bangsal pemasakan. Paman Darman melangkah masuk, menyilangkan tangannya di dada seraya mengamati sketsa arang di dinding semen dan lembar catatan di tangan Valine.

Darman mendekati tungku, menatap kawah yang sedang bergolak, lalu menatap Reza dengan senyuman diplomatis yang dingin. "Rancangannya rapi, Reza. Masih sama seperti sketsa-sketsamu waktu kuliah dulu."

Darman menatap lurus keponakannya seraya melontarkan realitas operasional yang tak terbantahkan. "Tapi menggambar di atas dinding memang gampang. Kalau tungku utama ini dibongkar buat uji coba lalu tidak bisa dipakai sehari saja... siapa yang mau menanggung ratusan liter nira penderes yang membusuk di bak penampungan?"

Darman melirik Valine sekilas. "Audit angka Neng Valine tidak bisa diminum kalau penderes kita mengamuk karena niranya basi."

Darman menepuk pundak Reza dua kali, lalu berbalik melangkah keluar bangsal meninggalkan aroma asap kayu bakar yang pekat.

Peringatan Darman menghantam tepat di jantung risiko pabrik: inovasi tidak boleh menghentikan denyut nadi produksi harian.

Valine menatap dinding sketsa arang, lalu menoleh menatap suaminya. "Kita tidak boleh membongkar tungku utama yang ini, Reza."

Reza menatap garis-garis arang di dinding semen, lalu menoleh menatap Valine dengan tatapan yang menyala tenang.

"Kalau yang besar tidak boleh kita sentuh... berarti sebelum menyentuh tungku utama, kita harus membuktikan idenya dengan unit kecil di tempat lain."

Valine mengangguk sepakat.

***

Rumah joglo kayu peninggalan Aki Warso diselimuti kesunyian yang pekat. Udara lereng Gunung Sawal turun drastis, menyusupkan hawa dingin melalui celah kisi-kisi kayu.

Valine duduk di meja kecil kamar depan dengan laptop yang menyala redup, pura-pura memeriksa lembar kerja kas pabrik. Namun matanya tidak fokus pada angka-angka di layar; telinganya terus terjaga mengawasi lorong tengah rumah.

Lihat selengkapnya