Kamar tidur utama rumah joglo terasa tenang dan sejuk pada pukul tujuh kurang seperempat Sabtu pagi.
Sinar matahari pagi mulai menerobos masuk melalui kisi-kisi ventilasi kayu, membiaskan debu halus di udara.
Valine sedang tidur sangat lelap beralaskan kasur kapuk ranjang jati. Kelelahan berhari-hari membedah pembukuan pabrik dan rasa hangat sisa tuak nira fermentasi semalam membuat tubuhnya beristirahat total tanpa mimpi buruk. Otot-otot wajahnya yang biasanya tegang kini rileks sepenuhnya.
Di sampingnya, sisi kasur yang semalam ditempati Reza sudah kosong. Selimut lurik tebal yang semalam mereka bagi berdua kini tersampir rapi menutupi sebatas pinggangnya. Reza rupanya sudah bangun jauh lebih awal—turun dari ranjang dengan langkah begitu senyap agar tidak membangunkannya.
Tiba-tiba—
KLAANG!
Suara benturan logam nyaring memecah kesunyian kamar.
Valine tersentak bangun, matanya mengerjap kaget seraya menyibak selimut lurik dengan napas memburu.
Di dekat meja kayu samping lemari, Reza sedang membungkuk terburu-buru meraih dudukan logam cempor minyak tanah kosong yang sudah padam dari lantai papan. Rupanya tumit Reza menyenggol benda itu saat ia melangkah berjinjit mundur.
Valine menatap suaminya dengan alis bertaut jengkel, suaranya parau khas orang baru bangun tidur. "Kalau niatmu membangunkan orang, Reza... sebenarnya ada teknologi bernama suara manusia."
Reza menegakkan tubuhnya, meletakkan dudukan cempor kosong itu kembali ke meja dengan wajah canggung dan serba salah. Ada rona kikuk di daun telinganya saat menatap kasur yang semalam mereka bagi berdua. "Aku justru sedang berusaha jinjit biar tidak membangunkanmu. Kepalamu tidak pusing sehabis nira semalam?"
Valine melirik jam dinding kayu di atas pintu seraya memijat pelipisnya pelan. "Aman. Tuak nira buatan Asep ternyata lebih ramah di kepala dibanding wine murahan. Jam berapa sekarang?"
"Hampir jam tujuh," jawab Reza. "Tradisi Ngagubyag Balong di kolam Uwa Sukarna mulai jam delapan."
Reza tidak langsung memutuskan untuknya seperti biasanya. Kali ini ia menawarkan dua pilihan. "Tadinya aku mau membiarkanmu tidur karena kamu kelihatan capek sekali. Kalau kamu mau lanjut istirahat di rumah, tidak apa-apa. Tapi kalau mau ikut melihat kolam, aku tunggu di teras depan."
Valine menatap suaminya selama beberapa detik. Rupanya tegurannya tempo hari soal keputusan sepihak tidak masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Valine menghela napas panjang seraya menyibak selimutnya. "Lima menit. Aku cuci muka dulu."
Reza tersenyum tipis. "Aku tunggu di depan."
***
Kolam ikan air tawar milik keluarga besar Uwa Sukarna di lembah belakang kebun jati tampak ramai luar biasa. Matahari pagi bersinar cerah mengusir sisa kabut lereng Gunung Sawal. Kolam seluas lima ratus meter persegi itu telah dikuras sebagian sejak subuh, menyisakan air keruh berlumpur setinggi betis orang dewasa.
Puluhan warga Kawung Sari—pria, wanita, pemuda, hingga anak-anak—berkumpul di sepanjang pematang rumput membawa keranjang bambu, jaring waring, dan ember-ember seng. Suara gelak tawa dan celoteh Sunda riuh memeriahkan tradisi panen balong tahunan keluarga Uwa Sukarna yang telah lama menjadi perayaan komunal warga desa.
Valine berdiri di atas pematang rumput kering mengenakan kaus oblong hitam dan celana katun gelap yang digulung sebatas betis, memegang sebuah ember plastik merah.
Uwa Sukarna yang berdiri di atas batu kali besar di tepi kolam memukul kentongan bambu tiga kali.
DUNG! DUNG! DUNG!
Uwa Sukarna berseru lantang membuka tradisi dengan aturan komunal yang tegas. "Bismillah... Hayu, kita mulai serbu balongnya! Yang dapat ikan kecil mangga dibawa pulang ke rumah masing-masing. Tapi ikan yang besar-besar mah wajib dikumpulkan buat liwetan makan bersama!"
Sorak gemuruh warga menyambut komando itu dengan tawa riang—semua sudah paham aturan mainnya: ikan yang kecil boleh dibawa pulang ke dapur keluarga, tetapi ikan yang besar wajib diserahkan untuk liwetan seluruh kampung.
Seketika, puluhan warga melompat serentak ke dalam kolam lumpur dengan sorak-sorai riuh. Kang Ha-Seup melompat pertama kali seraya mengayunkan jaring bambunya.
"Serbuuu!" teriak Asep paling heboh seraya mengacungkan jaringnya tinggi-tinggi. Topi caping bambunya miring dan earphone kabel jadulnya bergoyang di dada kaus lorengnya. "Ini mah gurame daebak pisan buat makan liwet bareng, euy!"