BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #18

Chapter #18

Teras samping rumah joglo kayu peninggalan Aki Warso diselimuti semilir angin sejuk pada pukul setengah lima sore.

Langit barat lereng Gunung Sawal mulai berubah warna menjadi jingga keemasan yang teduh. Aroma daun jati basah berpadu dengan wangi samar rebusan gula aren dari kejauhan. Suara gemericik air pancuran bambu di sudut pekarangan menciptakan irama yang menenangkan.

Valine duduk di sebuah kursi rotan panjang beralaskan bantalan tipis. Rambut hitamnya yang masih setengah basah sehabis keramas dibiarkan terurai di pundak, dilapisi handuk kecil. Ia mengenakan kaus katun longgar dan celana panjang linen yang nyaman. Di jemari kanannya, sebatang rokok linting tipis menyala, mengepulkan asap beraroma cengkih ringan ke udara senja.

Sisa kelelahan fisik dari kolam balong pagi tadi dan rasa kenyang sehabis makan nasi liwet bersama warga membuat tubuh Valine terasa rileks.

Reza melangkah keluar dari pintu samping joglo membawa baki kayu berisi dua cangkir seng bermotif lurik hijau dan sebuah teko tanah liat yang mengepulkan aroma seduhan daun teh poci hangat bercampur serai.

Reza telah mandi bersih, mengenakan kemeja katun biru pudar lengan pendek dan celana kain gelap.

Reza meletakkan baki itu di atas meja kayu bundar kecil di antara mereka. "Teh poci serai. Biar badanmu hangat sehabis main air."

Reza menuangkan teh panas kecokelatan ke dalam cangkir Valine, lalu duduk di kursi rotan tunggal di seberang meja.

Valine menyesap rokoknya pelan, lalu menghembuskan asap tipis ke samping. "Hatur nuhun."

Reza tersenyum tipis mendengar ucapan terima kasih dalam bahasa Sunda itu meluncur lancar dari bibir istrinya. "Sami-sami."

Matahari semakin merendah di balik puncak bukit. Cahaya temaram senja mulai menyelimuti pelataran joglo. Lampu minyak di dinding teras belum dinyalakan, menyisakan keremangan yang tenang dan sunyi.

Valine menatap kepulan asap rokoknya, lalu mengalihkan tatapannya pada cangkir teh yang mengepul. Kehangatan tawa di kolam lumpur pagi tadi telah melonggarkan sekat dingin di antara mereka, membuka ruang bagi pertanyaan yang selama ini tersimpan rapat di balik ketegasan sikapnya.

Valine meletakkan tingwenya di tepi asbak seng, lalu menatap lurus ke arah Reza.

"Reza."

Reza mendongak dari cangkir tehnya. "Iya, Val?"

Valine menarik napas pendek, suaranya tenang namun sarat ketegangan batin. "Waktu kamu menemukan aku di Bandung tempo hari... kamu lihat sendiri hidup seperti apa yang kujalani. Kamu lihat tempat-tempat yang kudatangi, dan kamu tahu aku terbiasa berurusan dengan laki-laki macam Rio."

Reza mematung. Jemarinya yang memegang gagang cangkir seng mengencang perlahan.

Valine menatapnya lurus, menuntut kejujuran tanpa topeng. "Jujur saja. Kamu pikir aku perempuan macam apa sekarang?"

Reza diam, matanya terpaku pada kepulan uap teh di hadapannya.

Lihat selengkapnya