Setelah beberapa minggu tinggal di Kawung Sari, Valine mulai terbiasa melihat cangkir kaleng enamel berisi kopi hitam panas dengan piring seng penutup yang ditinggalkan Reza di atas meja rotan teras samping sebelum laki-laki itu beraktivitas ke pekarangan.
Namun pagi ini—
Meja rotan bundar itu kosong melompong. Permukaan kayunya dingin dan berdebu embun.
Valine mengernyit. Ia berbalik melangkah menuju ruang depan.
Tikar lipat dan sarung tidur Reza telah tersimpan rapi di lemari sudut. Namun sepasang sepatu bot kerja Reza dan topi pet kanvasnya tidak ada di rak dekat pintu. Rumah kayu itu terlalu sunyi.
Valine melirik jam dinding: pukul lima lebih lima belas. Reza tidak pernah meninggalkan rumah tanpa menyeduh air panas terlebih dahulu. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba berdenyut di tengkuk Valine.
Valine segera mengenakan jaket katun tebalnya dan melangkah cepat melintasi pekarangan basah menuju bangsal pabrik pengolahan nira.
Pukul enam kurang seperempat pagi, bangsal masih remang-remang, hanya diterangi satu lampu bohlam kuning di atas pos penerimaan. Lantai semen lembap dan dingin. Kayu bakar di mulut tungku nomor satu baru saja dinyalakan oleh Mang Karta, mengepulkan asap putih tipis berbau getah.
Mata Valine menyapu ruangan yang luas itu, lalu pandangannya tertumbuk pada sudut belakang dekat tumpukan keranjang bambu berisi gula cetak siap kemas.
Di sana, di atas sebuah bangku kayu panjang, Reza terduduk lemas.
Punggungnya bersandar kaku pada tiang kayu penyangga atap. Kedua tangannya terlipat rapat menekan dada, dan seluruh tubuhnya menggigil hebat. Kaus kerja abu-abunya basah kuyup oleh keringat dingin dan embun, rambutnya lepek menempel di dahi, dan bibirnya pucat pecah-pecah.
Valine bergegas menghampirinya. "Reza? Kamu ngapain di sini?"
Reza perlahan membuka kelopak matanya yang tampak berat, merah, dan sayu. Ia mencoba menegakkan tubuhnya, namun gerakannya goyah dan tak bertenaga. "Val... Sebentar lagi nira penderes datang... Aku cuma... duduk sebentar..."
Valine menempelkan telapak tangannya ke dahi Reza.
Seketika Valine menarik napas pendek—kulit dahi suaminya membakar panas luar biasa, kontras dengan jemari tangannya yang sedingin es.
Valine berseru panik ke arah tungku. "Mang Karta! Tolong ke sini sekarang!"
Dengan dibantu Mang Karta, Valine memapah Reza keluar dari bangsal pabrik melintasi pekarangan tanah basah menuju rumah joglo.
Reza masih sempat bergumam lemah seraya berusaha melangkahkan kakinya sendiri. "Tidak usah repot, Mang... Saya cuma masuk angin... Nanti pos penerimaan nira harus dibuka..."
Valine memotong tajam dengan nada yang tidak memberi ruang tawar-menawar. "Diam dan jalan, Reza. Jangan bikin aku menyeretmu."