Pos penerimaan dan penimbangan gerbang depan UD Kawung Sari disengat terik matahari Minggu siang pada pukul setengah satu.
Sebuah mobil pikap tua dari pengepul luar bermuatan jeriken nira terparkir di depan meja pos timbang. Mesin pikap masih menderu, dan sopir bertubuh gempal tampak menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil.
Valine berdiri di balik meja kayu pos penerimaan mengenakan kemeja katun abu-abu dengan lengan tergulung dan rambut diikat ekor kuda. Di tangannya ada papan jepit kayu berisi lembar tiket penerimaan dan kalkulator saku.
Mang Ujang tampak agak ragu mencocokkan angka pada format tabel baru. "Neng Valine... ini kolom volume yang dicatat, volume datang atau volume bersih setelah disaring?"
Valine tidak merebut pulpen Mang Ujang. Ia menunjuk kolom dengan tenang. "Catat volume datang di kolom kiri, Mang Ujang. Kolom kanan untuk volume yang diterima setelah disaring kotorannya. Pelan-pelan saja, yang penting angkanya pas."
Sopir pikap mengetuk kap mobilnya dengan nada tidak sabar. "Aduh, Neng... Biasanya Jang Reza yang periksa langsung beres tanpa banyak kertas. Saya masih harus jalan ke tempat lain."
Valine menatap sopir itu dengan tenang dan tegas. "Reza sedang istirahat. Prosedur kami tetap sama: dua menit verifikasi liter dan ambil sampel acak. Kalau Kang Sopir mau pembayarannya cair tepat waktu tanpa selisih kas, ikuti jalurnya."
Melihat ketegasan nona kota yang memegang catatan kas itu, sopir pikap menelan keluhannya dan membantu Mang Ujang menurunkan jeriken sampel untuk diukur. SOP dua tanda tangan berjalan tertib.
Pukul dua siang di bangsal pemasakan, hawa panas uap karamel menyelimuti ruangan. Api di tungku nomor satu dan dua berkobar stabil, menjilat dasar wajan tembaga raksasa.
Sebuah masalah muncul di bak penampungan sementara. Salah satu jeriken kiriman luar memiliki buih busa putih yang berlebihan dan aromanya agak tajam menusuk hidung.
Valine berdiri di samping bak penampungan, memegang gelas ukur sampel.
Secara naluriah, Valine tahu busa dan aroma menyengat bisa menjadi indikasi awal penurunan mutu atau fermentasi nira. Namun ia sadar bahwa ia bukan praktisi pengolahan nira dan tidak boleh membuat keputusan sepihak yang merugikan pemasok atau merusak produksi pabrik.
Valine melangkah mendekati kawah nomor satu dan memanggil mandor pemasak. "Mang Karta, bisa tolong periksa sampel bak tiga sebentar?"
Mang Karta meletakkan pengaduk kayunya, mengambil gayung bersih bergagang bambu, lalu menghampiri bak penampungan. Mang Karta mengambil sedikit sampel cairan, mengamati kekentalan dan warnanya, lalu mencium aromanya dengan saksama.
" Jangan dulu dicampur ke kawah utama, Neng. " ujar Mang Karta hati-hati. "Bau kiriman ini agak tajam, nira mungkin mulai rusak karena kesiangan di jalan. Kita pisahkan dulu, uji sedikit supaya kelihatan mutunya"
Valine mengangguk mantap, mencatat statusnya di papan jepit. "Baik. Batch ini kita tahan terpisah dulu, jangan dicampur ke kawah utama. Tiket penerimaannya saya beri status pemeriksaan mutu. Nilai pembayaran final mengikuti hasil pengujian nanti."
Mang Karta tersenyum melihat pengetahuannya dihargai. "Mangga, Neng!"
Pukul setengah empat sore, bayangan pohon jati mulai memanjang di pekarangan. Paman Darman melangkah masuk ke bangsal dengan langkah santai, kedua tangannya terselip di saku celana drill kremnya.