Lahan terbuka berumput di belakang bangsal pabrik UD Kawung Sari disinari matahari pagi yang cerah pada pukul setengah delapan Senin pagi.
Tumpukan bata merah lokal, karung pasir lempung, bata tahan api, dan pipa baja bekas gudang telah diletakkan rapi di sudut pekarangan.
Valine melangkah cepat menyusuri jalan setapak di samping bangsal membawa papan jepit kayu dan segelas teh manis hangat.
Pandangan Valine seketika menangkap sosok Reza yang sedang membungkuk, hendak mengangkat tumpukan enam buah bata merah sekaligus dengan kedua tangannya yang masih berbalut sarung tangan kerja kusam. Wajah suaminya masih tampak agak tirus dan pucat, sisa demam kemarin.
Valine meletakkan gelas teh di atas balok kayu dan langsung menarik sarung tangan kerja dari tangan Reza. "Reza, taruh batanya sekarang."
Reza menoleh kaget, mengusap tengkuknya seraya tersenyum kikuk. "Val... Aku sudah tidak demam. Cuma mau memindahkan bata ke dekat fondasi—"
Valine menyodorkan sepotong kapur tulis putih dan papan kayu lapis tipis ke dada Reza. "Badanmu baru turun panasnya kemarin. Tugasmu di sini adalah arsitek: menggambar, menghitung dimensi, dan memastikan sudutnya lurus. Yang mengangkat bata dan mengaduk semen, biar Mang Karta dan Asep."
Reza menatap papan kayu lapis di tangannya, lalu menatap mata Valine yang menatapnya tajam tanpa ruang kompromi.
Perlahan, senyum tipis yang pasrah terbit di bibir Reza. "Siap, Val."
Reza melepas sarung tangannya dan duduk di atas bangku kayu, membuka lipatan kertas catatannya.
Pukul setengah sebelas siang di bawah naungan pohon petai cina, debu kapur putih beterbangan tipis saat Reza menggambar garis potongan tungku di atas papan tripleks di hadapan Valine dan Mang Karta.
"Tungku utama kita boros karena api langsung lari lurus ke cerobong sebelum panasnya sempat diserap wajan," terang Reza. "Di unit uji coba ini, kita pasang sekat bata tahan api di bawah dudukan wajan. Sekat ini memperpanjang jalur gas panas di bawah wajan sebelum ditarik keluar ke cerobong."
Kapur Reza menggoreskan garis di bagian bawah. "Lalu di mulut ruang bakar, kita pasang pelat pengatur udara primer dari pipa baja bekas. Aku mau udara masuknya bisa kita atur besar-kecilnya, bukan menganga terus seperti tungku lama. Sekatnya kita buat fleksibel, jadi posisinya bisa disesuaikan kalau tarikan udaranya kurang pas setelah uji coba pertama."
Valine memperhatikan garis-garis sketsa itu. Laki-laki ini tidak sedang berteori dengan rumus muluk-muluk; ia merancang hipotesis terapan yang bisa diuji dan disesuaikan di lapangan. Valine mulai merasakan kenyamanan baru: bekerja berdampingan dengan seseorang yang kompeten di wilayah yang tidak ia kuasai.
Valine membuka lembar estimasi anggarannya. "Bata tahan api untuk ruang bakar utama dan mortar tahan api: empat ratus ribu. Dua ratus bata merah lokal untuk dinding luar: seratus enam puluh ribu. Pipa cerobong baja bekas di gudang Aki Warso: nol rupiah. Upah tukang bantu dua hari: lima ratus lima puluh ribu. Total anggaran dibatasi satu juta seratus sepuluh ribu rupiah."