Valine berdiri di samping meja kayu darurat mengenakan jaket parasut bertudung, memegang papan jepit dengan lembar logbook pengujian serta stopwatch analog.
Di atas tungku kecil, sebuah wajan besi cekung telah terpasang rapat. Mang Karta menuangkan lima puluh liter nira segar yang telah disaring bersih dari dua buah jeriken putih.
Reza berjongkok di depan mulut ruang bakar, menata bilah-bilah kayu bakar kering dari tumpukan gudang. "Kayu bakar kering seperempat kubik sudah ditata, Val. Ukuran bilahnya dipilih relatif seragam dari tumpukan dalam gudang."
Valine mencatat angka di kolom baseline. "Volume nira lima puluh liter, suhu awal dua puluh empat derajat Celsius, volume kayu awal seperempat kubik. Jam setengah delapan tepat kita mulai penyalaan."
Mang Karta menyulut sabut kelapa kering dan serpihan ranting tipis, lalu mendorongnya perlahan ke bawah tumpukan kayu di dalam ruang bakar. Korek api menyala tepat pukul tujuh lebih tiga puluh, dan lidah api pertama mulai menjilat tumpukan kayu.
Pukul delapan kurang seperempat pagi, gerimis masih turun rintik-rintik.
Bilah-bilah kayu di dalam ruang bakar mulai terbakar, namun nyala apinya tidak kunjung membesar. Lidah api tampak bergetar lemah dan tersedak di dalam rongga bata.
Tiba-tiba—
Kepulan asap putih keabu-abuan yang sangat tebal mendadak berbalik, menyembur keluar dari mulut ruang bakar ke arah depan!
"Astaghfirullah! Asapna malik, Jang!" seru Mang Karta panik. (Astaghfirullah! Asapnya balik lagi!)
Valine yang berdiri di dekat meja logbook seketika terbatuk-batuk. Matanya perih tersengat asap pekat berbau getah.
Reza bergegas menarik lengan Valine, membimbingnya mundur beberapa langkah menjauhi kepulan asap. "Mundur, Val! Tutup hidungmu!"
Mang Karta dengan sigap menarik mundur bilah-bilah kayu yang belum sempat terbakar sempurna menggunakan kait besi panjang, membatasi pasokan bahan bakar agar asap tidak semakin membumbung.
Reza membuka pelat pengatur udara sepenuhnya untuk membuang sisa asap. Dalam lima menit, kepulan asap putih mulai mereda. Di dalam wajan besi, nira masih suam-suam kuku, baru naik ke tiga puluh delapan derajat Celsius.
Di seberang jalan setapak bangsal, Paman Darman berdiri bersedekap di bawah naungan atap teritisan. Darman menatap kepulan sisa asap itu selama beberapa detik dengan senyum tipis di bibirnya, lalu kembali melangkah menyusuri lorong bangsal.
Pukul delapan lewat lima belas, sisa asap telah hilang terbawa angin.
Valine mendekati meja kerja, mencatat durasi kegagalan pertama di logbook. "Penyalaan pertama berhenti di menit kelima belas. Suhu nira baru naik ke tiga puluh delapan derajat, dan kita menghabiskan beberapa ikat kayu bakar cuma untuk asap."
Valine menatap Reza. Suara Valine terdengar tenang, tanpa nada menuduh, murni membaca anomali data. "Ada masalah dengan tarikan udaranya?"