BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #23

Chapter #23

Teras depan rumah joglo kayu peninggalan Aki Warso diserbu gerombolan serangga bersayap tipis pada pukul enam Jumat petang.

Hujan gerimis lebat turun membasahi tanah kebun aren. Hawa dingin lereng Gunung Sawal merayap turun. Lampu neon putih di plafon teras menarik puluhan laron musim hujan yang keluar dari liang tanah lembap.

Valine melangkah mundur ke ambang pintu joglo, mengibaskan tangan saat beberapa laron beterbangan menabrak kemeja dan rambutnya. "Reza! Laronnya mulai masuk ke pintu depan!"

Reza keluar dari arah dapur membawa dua buah baskom seng berisi air sumur dan dua lilin pendek menyala di tengahnya. Reza meletakkan baskom itu di lantai teras. "Matikan sakelar lampu neon teras, Val."

Valine menekan sakelar di samping kusen. Lampu neon padam seketika.

Kehilangan sumber cahaya utama di atas, gerombolan laron mulai berputar mengitari dua nyala lilin rendah di lantai teras. Satu demi satu sayap tipis mereka basah dan rontok, menjebak serangga-serangga itu di permukaan air baskom.

Valine menyandarkan punggungnya ke kusen pintu seraya mengembuskan napas lega. "Trik baskom lilin ini ternyata beneran jalan."

Reza mengibaskan serpihan sayap laron dari pundak kaus kerjanya seraya tersenyum tipis. "Kearifan lokal lereng Sawal. Awal musim hujan memang selalu begini."

Pukul tujuh lebih lima belas malam di ruang tengah joglo, ketika kepakan sayap laron di teras telah mereda—

Tiba-tiba sekelebat kilatan petir putih kebiruan menyambar terang di puncak bukit belakang desa, menerangi seluruh jendela kaca joglo selama sepersekian detik.

DUARRR!

Dentum petir menggelegar dahsyat, menggetarkan kaca jendela dan tiang-tiang kayu rumah tua itu.

Seketika—BZZZT... KLIK.

Seluruh aliran listrik padam total. Kegelapan pekat langsung menyelimuti rumah joglo dan seluruh lembah Kawung Sari. Hanya tersisa bunyi rintik hujan di atap sirap dan desau angin di sela dahan aren.

Valine terlonjak kaget oleh sambaran petir itu, lalu terdiam membeku dalam gelap. Layar ponselnya di atas meja menyala redup, menampilkan indikator sinyal satu bar yang timbul-tenggelam. Valine membalik layar ponselnya menghadap ke bawah meja.

Suara langkah Reza terdengar melintasi lantai kayu, disusul bunyi gesekan korek api kayu.

Cras.

Nyala api kecil berkobar di ujung jemari Reza. Ia menyulut sumbu kain pada lentera cempor kaca peninggalan Aki Warso.

Cahaya kuning keemasan yang hangat perlahan membiaskan bayangan tiang-tiang kayu jati di dinding joglo. Reza meletakkan lentera cempor di atas meja kayu rendah, lalu menggelar tikar pandan tebal di lantai.

"Petir barusan pasti kena trafo atau jaringan kabel di jalur bukit," ujar Reza tenang.

Valine melangkah mendekat dan duduk bersila di atas tikar. Udara malam terasa dingin menusuk. Reza mengambil selimut lurik tebal dari lemari kayu, meletakkannya di antara mereka di atas tikar, lalu membawakan sepiring ubi rebus hangat dan dua cangkir teh tawar panas dari dapur.

Pukul setengah sembilan malam di bawah temaram lentera cempor, aroma minyak tanah bercampur dengan uap manis ubi rebus. Di luar, hujan mereda menjadi rintik-rintik halus.

Valine menarik ujung selimut lurik ke atas pangkuannya, menyesap teh hangat seraya menatap lingkaran cahaya cempor.

Valine melirik piring ubi, memecah kesunyian. "Bosan. Main sesuatu, yuk."

Reza mendongak dari cangkirnya. "Main apa?"

"Permainan Satu-Satu, kaya dulu" tawar Valine. "Ganti-gantian tanya satu hal, dan yang ditanya wajib jawab jujur. Tidak boleh mengelak."

Reza tersenyum kecil. "Boleh. Kamu duluan."

Lihat selengkapnya