Valine duduk di meja kantor bangsal memeriksa catatan logbook pengujian. Serangkaian batch bersih dan pembanding yang dicatat sejak Kamis sore dan sepanjang hari Jumat memperlihatkan pola yang konsisten: untuk memasak lima puluh liter nira standar, unit tungku modifikasi menghabiskan rata-rata dua puluh dua hingga dua puluh empat kilogram kayu bakar kering, lebih rendah dibanding angka pembanding tungku konvensional lama yang menelan sekitar tiga puluh kilogram.
Valine menggarisbawahi angka itu dengan pensil. Indikasi ini cukup kuat untuk membuktikan bahwa arah modifikasi mereka layak dilanjutkan.
Suara deru mesin mobil terdengar dari arah jalan desa. Sebuah mobil SUV berpelat nomor D melintas melewati gapura bambu dan berhenti di pelataran pabrik.
Seorang pria berkemeja flanel rapi dengan tas selempang kulit turun dari mobil—Gilang Pratama, Sourcing & Product Development Lead untuk jaringan kedai kopi specialty di Bandung yang kemarin sore mengonfirmasi penerimaan sampel kiriman Valine.
Reza melangkah keluar dari bangsal dengan celemek katun, menyambut Gilang dengan senyum ramah dan jabat tangan. "Selamat pagi, Mas Gilang. Selamat datang di Kawung Sari."
Gilang tersenyum lebar, membalas jabat tangan. "Pagi, Mas Reza, Mbak Valine. Terima kasih sudah menerima kami. Sampel gula aren yang Mbak Valine kirim sudah kami uji coba di lab seduh kami, dan profil rasanya sangat cocok untuk menu baru kami."
Pukul sebelas siang di ruang kontrol mutu, piring-piring uji berisi potongan gula aren cetak cokelat keemasan dan cangkir-cangkir larutan seduh tertata rapi di atas meja.
Gilang mematahkan sebongkah kecil gula aren cetak dari piring uji, mencicipinya perlahan, lalu menyesap larutan air hangatnya. "Aromanya bersih, rasa karamelnya kuat, tidak ada aftertaste asam atau langu, dan larutannya bersih tanpa endapan. Sesuai dengan spesifikasi bahan baku yang kami cari."
Gilang meletakkan cangkirnya dan membuka map dokumen di atas meja. "Jejaring kafe kami di Bandung dan Jakarta Selatan sedang menyiapkan peluncuran menu musiman baru. Kami siap mengeluarkan Trial Purchase Order sebanyak lima ratus kilogram."
Reza yang berdiri di samping Valine sempat menoleh sesaat. Lima ratus kilogram adalah volume yang signifikan untuk skala pabrik saat ini.
Namun Valine tidak langsung menyetujuinya begitu saja. Jemari Valine memeriksa lembar alokasi produksi harian pabrik. Suara Valine terdengar tenang, terukur, dan kalkulatif.
"Kami menyambut baik pesanan lima ratus kilo ini, Mas Gilang," tutur Valine lugas. "Tapi kami perlu mengatur jadwal pengirimannya."
Gilang menatapnya tertarik. "Maksud Mbak Valine?"
"Setelah kebutuhan rutin Haji Rustam dan pelanggan lokal yang sudah disepakati kami pisahkan, kapasitas aman kami untuk pesanan ini adalah seratus dua puluh lima kilogram per minggu," jelas Valine terperinci. "Untuk batch ini, kami hanya menggunakan nira dari jalur penderes yang waktu penerimaannya bisa kami kontrol ketat dan lolos uji mutu di pos timbang."
Valine menyodorkan klausul pasokan dan rincian harga. "Harga yang kami sepakati adalah tiga puluh delapan ribu rupiah per kilogram untuk spesifikasi mutu ini. Pengiriman dilakukan dalam empat tahap—seratus dua puluh lima kilo per pekan dalam kemasan food-grade lima kilogram berlabel kode batch dan tanggal produksi. Kami meminta uang muka tiga puluh persen, atau lima juta tujuh ratus ribu rupiah, saat Purchase Order ini ditandatangani untuk mengunci jadwal produksi dan bahan baku."
Gilang membaca rincian itu, mengangguk mantap, lalu menarik bolpoin dari sakunya. "Masuk akal. Pembagian bertahap justru menjamin kesegaran stok di gudang kami. Kami sepakat dengan harga dan jadwal ini."
Gilang membubuhkan tanda tangan pada lembar Trial Purchase Order bernilai total sembilan belas juta rupiah, lalu menyerahkannya kepada Valine. "Uang muka tiga puluh persen akan kami proses siang ini melalui transfer bank."
Pukul setengah tiga sore, mobil Gilang telah melaju meninggalkan pabrik membawa salinan dokumen PO. Layar ponsel Valine menampilkan notifikasi mutasi masuk sebesar Rp 5.700.000 ke rekening giro operasional UD Kawung Sari.