Valine melangkah ke teras belakang, merapikan rambutnya yang dicepol longgar. Seluruh jadwal pasokan nira untuk batch pertama seratus dua puluh lima kilogram pesanan Bandung telah tuntas disusun bersama Mang Ujang dan Mang Karta sore tadi.
Reza duduk di bangku kayu panjang teras, mengenakan kaus katun hitam longgar dan celana kain santai. Melihat Valine datang, Reza mengangkat kendi tanah liat dan menuangkan cairan bening kekuningan ke dalam cangkir tanah liat Valine.
"Mang Karta baru antar tadi sore," kata Reza. "Lahang manis sadapan sore dari pohon lereng atas, langsung direndam kendi di air sumur biar dingin."
Valine menerima cangkir itu. Dinginnya tanah liat terasa menyejukkan telapak tangannya.
Valine menyesapnya perlahan. Rasanya masih sangat bersih dan manis alami, lembut membasahi tenggorokan tanpa ada sedikit pun rasa masam atau sengatan fermentasi.
Valine mengembuskan napas panjang, duduk di samping Reza seraya menatap kerlip lampu desa di kejauhan. "Segar. Rasanya beda banget sama nira yang sudah kena panas wajan."
Reza tersenyum tipis, menyesap cangkirnya sendiri. "Lahang yang baru disadap dan langsung didinginkan memang begini. Belum sempat berubah."
Pukul setengah delapan malam, suasana kian hening, hanya diiringi suara jangkrik dan gemerisik daun rumpun bambu. Cahaya lampu teras kuning temaram menyinari uap napas mereka di udara dingin.
Keheningan di antara mereka terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Peristiwa di ruang tengah kemarin malam—ketika bibir mereka saling bertaut sadar di samping dokumen pesanan—masih membekas jelas di benak masing-masing.
Valine memutar cangkir tanah liatnya perlahan, lalu menoleh menatap Reza. Suara Valine terdengar tenang. "Aku cuma mau tahu... kemarin mengubah sesuatu buat kamu?"
Reza menoleh menatap Valine. Tidak ada tatapan menghindar di wajah suaminya. Suara Reza terdengar lugas dan bersahaja.
"Mengubah, mungkin. Tapi bukan kesepakatannya."
Valine menatapnya dalam diam.
Reza melanjutkan dengan nada yang sangat tenang. "Kemarin terjadi karena kita sama-sama mau. Kalau besok salah satu dari kita tidak mau lagi, ya berhenti di situ. Status suami-istri di atas kertas tidak mengubah itu."
Valine terdiam menatap lingkaran cangkirnya.
Valine sudah terlalu lama terbiasa mencurigai bahwa setiap kebaikan akan selalu datang bersama tagihan tersembunyi. Namun kalimat Reza barusan tidak menuntut apa pun, tidak meletakkan utang budi di pundaknya, dan menegaskan batasan yang sepenuhnya setara.
Pukul sepuluh malam, kabut tipis mulai merayap naik dari lembah menyelimuti pekarangan. Hawa dingin pegunungan membuat mereka menarik selimut lurik menutupi pundak masing-masing.